Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 166-168

8 Juni 2018   06:52 Diperbarui: 8 Juni 2018   08:38 830 0 0
Namaku Awai 166-168
dokpri

" Mama, itu akan memalukan kita ! Paman dan bibi pasti mencaci maki kita karena dianggap mencemarkan nama baik marga Tan !" teriak Akun.

" Apa peduliku ! Mereka tak peduli pada kita !!!" balas Huina tak kalah kerasnya.

Awai tak berani bersuara. Ibunya sedang kalap. Andai ia bersuara, ia pasti dimaki anak tak tahu membalas budi orangtua. Ia pasrah menjalani nasibnya. Dibayangkan ia menuntun papanya, duduk di depan pasar beralas karung goni, menengadahkan tangan, sementara papanya memegang sebuah batok kelapa dengan kepala tertunduk dan tak berani menatap orang yang lalu lalang. Alangkah malunya! Ia tak rela papanya dipandang hina oleh orang se-Bengkalis. Ia memberanikan diri berkata.

" Ma, maukah mama menunda niat mama? Besok Awai akan mencari kerja. Kalau Awai sudah mendapat kerja, kurasa kami tak perlu mengemis."

Huina menatap Awai dengan tatapan garang. " Oke ! Kuberi waktu seminggu. Kalau gagal mendapat pekerjaan, kamu harus patuhi omonganku !"

Vonis sudah dijatuhkan. Awai merasa lega sekaligus gelisah. Dalam seminggu apakah ia berhasil mendapat pekerjaan? Tiong It berjanji akan membantunya. Apakah omongan Tiong It bisa diandalkan ?

Setelah memakan 3 potong singkong rebus, Awai menaiki sepeda menuju kota. Ia singgah ke toko sepatu, bertanya apakah ada lowongan pekerjaan. Pemilik toko menggeleng, mengatakan pegawainya sudah banyak.

Satu demi satu toko dimasukinya, pemilik toko mengatakan belum ingin menambah karyawan. Awai tak putus asa. Ia tetap bertanya dari toko ke toko, tengah hari ia pulang, masih belum mendapat pekerjaan, ibunya melihat kelesuan Awai, tidak bertanya. Jam satu ia kembali ke kota, bertanya lagi dari satu toko ke toko lain.

Tiga hari ia melamar ke sana sini, hasilnya kakinya bengkak dan melepuh gara gara kasutnya ( sandal jepit di Bengkalis disebut kasut) putus. Ia tak berani meminta uang dari ibunya untuk membeli kasut baru. Ia berkaki ayam hingga pulang. Setibanya di rumah, ia mengganti tali kasutnya dengan tali nilon pengikat ternak.

Sejak Awai pulang Tiong It pernah berkunjung satu kali. Huina mengusirnya, mengatakan Tiong It tak boleh bertemu Awai karena ia tak ingin bertengkar lagi dengan Lim Lemoi. Huina mengatakan Awai tak boleh berpacaran dengan siapapun karena harus membantunya mencari uang guna menghidupi keluarga yang telah hampir karam akibat suaminya berbaring terus di kamar tanpa bisa melakukan apapun.

Tiong It terhenyak. Jika ia memaksa bertemu Awai, ia yakin Huina akan melampiaskan kemarahan pada Awai. Ia pulang demi tak ingin Awai dihamun ibunya. Ketika ia mendengar kabar Awai sedang mencari pekerjaan, ia menemui pemilik toko Juwita, bertanya apakah mengizinkan Awai bekerja disana. Pemilik toko Juwita menunjuk ke empat karyawannya yang berdiri di belakang etalase, satu orang menjaga satu barisan etalase, semua sedang mengasah kuku alias sepi pembeli.

" Aku bersimpati atas nasib Awai, tapi lihatlah... sejak pagi belum ada yang berbelanja. Imlek baru berlalu. Barang kosmetika tak laku. Mainan juga tak laku berhubung anak-anak dilarang bermain saat menjelang ujian kenaikan kelas. Maaf, Tiong It. Bukan aku tak mau membantu, tapi waktunya belum tepat. Eh.. kenapa kamu tak menyuruhnya bekerja di pabrikmu? "

" Pegawai kami semua lelaki. Aku kuatir nanti dia jadi bahan ledekan." Kata Tiong It.

" Maaf, Tiong It. Akhir tahun baru aku membutuhkan karyawan tambahan, itupun pegawai tak tetap, alias digaji dari bulan Oktober hingga Maret. "

Tiong It mengucapkan terima kasih dan berlalu.

Langkah Awai akhirnya berhenti di pasar. Di depan kelenteng, tepatnya di samping pasar ikan, ada sebuah kedai kopi yang diapit pasar ikan dan pasar sayur. Kedai kopi itu memasang papan nama Sudi Mampir. Di dalamnya selain dijual kopi, kueh, dan cemilan, juga ada penjual kwetiau-mie goreng, lontong, dan mie siram kuah kacang. Pagi hari ramai sekali karena pengunjung pasar sarapan di kedai kopi itu sebelum berbelanja.