Mohon tunggu...
DENY FIRMANSYAH
DENY FIRMANSYAH Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Seseorang, tentunya

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Teori Bakat dan Asas Manfaat

28 Agustus 2022   15:14 Diperbarui: 10 September 2022   20:53 152 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana Adalah Platform Blog. Konten Ini Menjadi Tanggung Jawab Bloger Dan Tidak Mewakili Pandangan Redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Yang terbaik dari kalian adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. (Al-Hadis)

Semakin besar skala kebermanfaatan itu, semakin menjangkau banyak orang, semakin lama durasi atau jangka waktu manfaat itu dinikmati, kian baiklah  orangnya, menjadi yang terbaik bahkan. 

Oleh karena itu, pemetaan bakat (talents mapping) yang dikembangkan Rama Royani mempersyaratkan adanya prinsip kebermanfaatan itu, selain kaidah 4E: easy, excellent, enjoy, earn.

Bakat ialah sesuatu yang sangat mudah dilakukan, unggul hasilnya, saat dilakukan dinikmati tanpa beban dan menghasilkan pendapatan. Bakat di sini dipahami dalam konteks profesi dan pekerjaan bukan sekedar keasikan menjalani hobi atau aktivitas kegemaran.

Sebaliknya, manusia yang paling buruk adalah yang paling menimbulkan mudarat bagi orang lain: yang mengganggu, menyakiti dan mendatangkan penderitaan. Umpamanya dengan kata-kata atau tindakan kezaliman. 

Makin besar skala gangguan dan kemudaratan itu, dari segi jumlah dan intensitasnya, semakin lama durasi atau jangka waktunya, makin besar dampaknya, makin menyakitkan, maka semakin buruklah pelakunya, makin jadi the worst man in the planet.

Kalau tidak bisa memberi manfaat setidaknya tidak memicu mudarat. Yang minimal sekali: tahanlah lidahmu, tahanlah tindakanmu, dari menyakiti dan mengganggu orang lain. Itulah ciri dasar orang Islam: orang lain damai dan tidak terganggu dengan keberadaannya.

Tidak mengganggu dan tidak melukai baik dengan kata dan perbuatan ini nampaknya satu hal yang sepele tetapi kadang sulit dikendalikan.

Melakukan sesuatu menuntut waktu dan energi, tidak melakukan sesuatu rupanya juga menuntut kemauan dan pembiasaan. Semua kegiatan yang dibiasakan -baik yang dilakukan atau yang ditinggalkan-- akan menyatu, menjadi organik, secara lahir dan batin, kemudian menjadi akhlak. 

Akhlak adalah respon otomatis yang keluar manakala ada stimulus, tanpa pikir panjang atau perenungan.

Nyatanya, dunia tidak hanya terdiri dari orang-orang baik yang kalem, saleh, senang membantu dan engga neko-neko, tetapi juga orang-orang arogan, egosentris, hasad, munafik, feodal dan selapisan besar orang-orang usil. Menunjukkan bahwa ada sebagian besar orang yang terbiasa bersikap dan berperilaku positif, dan yang sebaliknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan