Mohon tunggu...
Hendra Mahyudhy
Hendra Mahyudhy Mohon Tunggu... Deliriumsunyi

📽"Hilangnya ilmu pengetahuan adalah tanda-tanda kehancuran". ☘Penulis Partikelir. Full Time Journalis.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ku Kira Negeri Ini Berbalut Embun, Ternyata Jerebu dari Lahan dan Hutan yang Terbakar

16 September 2019   11:34 Diperbarui: 16 September 2019   11:38 0 2 0 Mohon Tunggu...
Ku Kira Negeri Ini Berbalut Embun, Ternyata Jerebu dari Lahan dan Hutan yang Terbakar
Dokpri

Seorang teman di group sesama wartawan tiba-tiba berkelakar, "kukira embun ternyata kabut (jerabu)" tulisnya semberi melempar emoticon bersenyum lebar dalam caption foto yang diambilnya dari Bukit Senyum, Kampung Seraya, Batam.

Sementara sang teman berkelakar, saat itu aku perhatikan jam di HP pukul 12:30 WIB, Sabtu (14/9/2019) siang, dan suasana terlihat seperti pagi dengan kabut asap yang terus pekat menghiasi langit madani. "Mungkin matahari enggan menampilkan senyumnya yang hangat di Kota Batam yang mulai dikerubungi asap ini", gumamku.

Seketika kucoba membuka WhatsApp dan mengirim pesan di kolom chat yang ditujukan kepada Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Hang Nadim Batam, bernama Suratman. Informasi yang ia berikan menyatakan, bahwa sebenarnya sudah beberapa hari ini langit Batam diselimuti jerabu, hanya saja masih tipis-tipis, hingga kemudian dalam 3 hari belakangan ini sudah mulai menebal.

Heran memang, persoalan asap ini merupakan problematika lama dalam kasus lingkungan hidup di Indonesia. Bahkan sumber dari World Resources Institute (WRI) Indonesia menyatakan selama beberapa dekade ini kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menjadi krisis lingkungan tahunan.

Di mana kondisi terparah adalah tahun 2015 silam, ketika kekeringan akibat El Nio panjang menggelorakan api di atas sekitar 2,6 juta hektar lahan yang terbakar kurun waktu bulan Juni dan Oktober 2015.

Kebakaran lahan gambut yang kaya karbon ini, saat itu membucah cemas jutaan orang di Asia Tenggara yang terpapar kabut beracun, yang setara dengan tiga kali lipat emisi gas rumah kaca tahunan di Indonesia.

Bagaimana dengan kebakaran tahun ini? Yang notabebenenya hingga ke Kota Batam sendiri langit telah terlihat murung, dan matahari pun turut urung muncul.

Hasil olah data Walhi sendiri, yang dikutip langsung oleh penulis dari lama Tirto.Id, kurun waktu Januari hingga awal minggu September 2019 ini tercatat 19.000 titik panas, 3500 lebih berada di kawasan konsesi, dan 8000 lebih di kawasan gambut, dan dalam hal ini investasi perusahaan ikut andil, sementara Presiden kita sedang sibuk update status di Twitter dan Facebook membentang karpet merah agar semua kementerian dan lembaga negara fokus pada penerimaan dan tidak menghambat investasi.

Lalu perihal langit Batam, apakah kita akan terus bisa tenang, tatkala jerabu kiriman Sumatera dan Kalimantan berdatangan dan lahan di Batam juga beberapa turut terbakar. Bahkan Suratman mengabarkan, ketika update status hotspot Sabtu (14/9) petang ini, yang dia update di group pewarta BMKG, "Ada kemungkinan asap dari Sumatera sebagian sudah menyeberang ke Batam dan sekitarnya," terangnya.

Ia pun memberi imbauan agar masyarakat turut peduli lingkungan, dan menegaskan untuk menjaga diri agar jangan sampai terjadi peristiwa kebakaran/pembakaran hutan/lahan yg merugikan kita semua, baik segi kesehatan maupun aktifitas transpotasi darat, laut, dan udara.

Meski begitu, Suratman masih sempat mengatakan, bahwa jarak pandang saat ini di Bandara Hang Nadim Batam berada dikisaran sekitar 4000 meter, yang ia sebut masih aman untuk transportasi darat dan udara. Sedangkan untuk transportasi laut agak mengkhawatirkan meski index pencemaran udara ia sebutkan masih masuk kategori 'sedang'.

"Kondisi ini akan berkurang apabila turun hujan, hujan di Kepri diperkirakan mulai turun akhir September 2019 tetapi sifatnya lokal/tidak merata," jelasnya.

Mendengarkan kabar ini, saat penulis mencoba menghubungi Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Batam untuk menanyakan dampak dari kabut asap, Didi mengatakan bahwa dia telah sempat juga menghubungi Kementrian Agama (Kemenag) Batam, bahwa mereka akan menggelar shalat minta hujan atau Istisqa bersama.

"Persoalan ini merupakan berdampak nasional, tak ada salahnya kita membantu juga dengan berdoa," katanya siang ini.

Dalam hal ini Didi juga memfokuskan akan gejala Inspeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang akan dihadapi masyrakat, jika Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) meningkat, maka kecendrungan masus ISPA juga akan mengalami kenaikan.

"Namun Kasus ISPA ini nanti awal bulan datanya baru masuk dari setiap Puskesmas se-kota Batam. Kalau dampak asap ini terhadap itu pasti ada. Karena pollutan materialnya merangsang saluran pernafasan," ujar Didi, Sabtu (14/9) siang ini.

"Kita saat ini lebih memberi imbauan dulu agar menimalisir dampaknya. Seperti; Mengurangi aktifitas di luar rumah, jika memungkinkan. Kalau keluar rumah pakai masker. Konsumsi air putih minimal 2 liter. Konsumsi buah dan sayuran agar gizi berimbang. Periksa segera kesehatan jika ada keluhan pernafas," pungkasnya.

Sementara itu, Herman selaku Humas Manggala Agni Daops Batam mengatakan, perihal hotspot atau titik panas secara nasional untuk Jumat (13/9) kemarin disebutkan terdapat sebanyak 147 di wilayah Sumatera semata, dengan hotspot terbanyak ada di Provinsi Jambi, sebanyak 74 titik, menyusul Sumatera Selatan 46 titik, Riau 22 titik, Bengkulu 3 titik, dan Bangka 2 titik.

Jadi, sudah siapkah kita dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi ke depannya akan problematika jerabu yang terus menghiasi langit kota ini, tatkala negara kita sibuk menfokuskan diri akan peluang investasi, yang bahkan beberapa perusahaan juga turut menyebabkan kebakaran di dalam hutan dan lahan seperti yang terjadi di tanah Swarnadwipa.

VIDEO PILIHAN