Mohon tunggu...
Delianur
Delianur Mohon Tunggu... Penulis - a Journey

a Journey

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

"Java Time" Pada Waktu Riyadh

30 Oktober 2023   14:44 Diperbarui: 30 Oktober 2023   14:46 144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Java Time" Pada Waktu Riyadh

Ketika mobil yang kami naiki memasuki Olaya District, agak kaget melihat sebuah coffee bernama "Java Time." Penasaran, coba googling mencari informasi. Ternyata "Java Time" bukan hanya ada di Olaya yang merupakan kawasan bisnis utama Riyadh, tetapi juga tersebar di beberapa wilayah Riyadh. Bahkan juga ada di beberapa kota utama Arab Saudi seperti Makkah dan Madinah.

Entah siapa pemilik coffee ini. Apakah investasi asing, waralaba internasional, murni milik orang Saudi, atau sesuai namanya. Coffee milik orang Indonesia.

Namun terlepas dari siapa pemiliknya, kenapa mesti kaget dengan "Java Time" di Riyadh ini?

Adalah benar bila "Java" dalam "Java Time" berarti Jawa. Sebutan Belanda dan Eropa dahulu pada sebuah pulau di Asia Tenggara yang didiami kebanyakan masyarakat Indonesia sekarang.

"Java Time" adalah istilah bangsawan Eropa Abad 18 ketika hendak menikmati minuman dari Jawa, yaitu Kopi. Karena berkaitan dengan menikmati Kopi, "Java Time" juga selaras dengan istilah  yaitu"Cup of Java" atau secangkir Jawa. Kopi dari Jawa yang enak dan menimbulkan sensasi tertentu ketika diseruput.

Meski "Java Time" atau "Cup of Java" menyiratkan aktivitas menyenangkan dan mengasyikan, dibalik dua istilah itu sebetulnya ada duka mendalam yang panjang dan memilukan. Kedua istilah bangsawan Eropa diatas tidak bisa dilepaskan dari kolonialisme Belanda terhadap rakyat Indonesia.

Ada banyak perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Diantara yang terkenal adalah Perang Padri di Sumatra yang dipelopori Tuanku Imam Bonjol, serta Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Pemerintah kolonial Belanda keteteran menghadapi perlawanan spartan ini.

Belanda memang berhasil mematahkan perlawanan ini. Namun usai perang, Belanda menghadapi problem pelik. Kas pemerintah tersedot cukup dalam karena perang ini. Bila tidak ingin kolaps, mesti ada upaya esktra untuk menutupi krisis finansial Belanda.

Menutupi problem inilah Guberrnur Hindia Belanda waktu itu, Johannes Van Den Bosch, mengeluarkan kebijakan tanam paksa. Kebijakan Van Den Bosch menimbulkan bencana kelaparan dan korban jiwa. Di beberapa kota seperti Gorobogan Jawa Tengah, sekitar sekitar 9/10 penduduk yang ada meninggal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun