Mohon tunggu...
Delianur
Delianur Mohon Tunggu... Penulis - a Journey

a Journey

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Anak dan "Investasi" Orangtua

11 Desember 2021   13:58 Diperbarui: 11 Desember 2021   14:17 210 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Berkaitan dengan manusia yang pasti akan mati, ada sebuah ucapan Nabi yang sangat populer dan kerap diucapkan berkali-kali untuk mengingatkan orang Islam. Do'a itu adalah "Idza maata Ibnu Adam, inqatha'a amalauhu Illa min tsalasin. Shadaqatin dzaariyatin, aw ilmin yuntafa'u bihi aw waladin shalihin yad',u lahu".

Bila ucapan Nabi ini di Indonesia kan, maka kira-kira terjemahannya adalah sebagai berikut: "Apabila anak cucu adam meninggal, maka terputuslah segala amal nya kecuali tiga hal, shadaqah jariyah (shadaqah yang mengalir), ilmu yang bermanfaat atau anak baik yang mendo'akan dirinya"

Seperti yang saya sebutkan di paragraph awal, ucapan Nabi ini kerap dikaitkan dengan kematian. Semacam resep bagi orang untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Karena berbicara tentang kematian, tidak aneh bila ucapan ini kerap hadir pada pembicaraan yang bertema kematian.

Hanya saja beberapa waktu lalu ketika saya lompat ke kalimat akhir dari ucapan Nabi ini, saya tidak sengaja menemukan makna lain dari ucapan Nabi ini. Menurut saya,  ucapan Nabi bukan hanya tentang kematian dan cara kita mempersiapkan diri menghadapi kematian, tetapi juga tentang hidup dan cara kita hidup. Utamanya cara kita menghadapi dan memposisikan anak.

Bila dalam kalimat pertama disebutkan adanya tiga hal yang akan senantiasa diterima manusia meski sudah mati, maka di kalimat akhir disebutkan bahwa diantara ketiga hal itu adalah seorang anak baik yang akan mendoakannya. Jadi anak baik yang mendoakan orang tua, adalah investasi yang tidak akan pernah terputus. Benefitnya akan diterima meski orang tersebut meninggal.

Namun ketika kematian adalah keadaan manusia setelah hidup di dunia, maka ucapan Nabi ini seolah mengingatkan bahwa investasi yang dimaksud bukan investasi yang return nya akan diterima orang tua ketika hidup di dunia. Tapi anak adalah investasi yang profit nya akan diterima ketika manusia sudah meninggal. Bila hidup di dunia mesti ditopang dengan hal-hal berbau materi sementara kehidupan setelah di dunia topangannya hal-hal bersifat non-material, maka return dari investasi anak mestinya hal yang bersifat non-material, bukan material.

Mungkin ucapan diatas terlihat sepele, namun kalau diperhatikan ternyata menyentak keseharian kita. Banyak orang kerap memposisikan anak sebagai investasi, namun investasi yang bersifat dunia dan materialistik. Seperti kita berjibaku mensekolahkan dan membesarkan anak, dengan bayangan bahwa upaya keras kita akan terbayar ketika kita tua nanti. Ketika kita sudah tidak mempunyai tenaga dan tidak produktif, akan ada anak yang menopang kita dan mensubsidi kehidupan kita yang sudah tidak produktif. Anak tidak tidak lagi menjadi investasi yang returnnya non-material, berupa doa untuk kita di kala sudah tidak ada di dunia, tapi investasi yang returnnya material untuk kehidupan di dunia. Karena bersikap seperti itulah banyak orang jadi merasa berbudi kepada anak nya dan menuntut anak untuk membalas budi. Hubungan anak dan orang tua yang semula murni tanpa pamrih, pelan-pelan tergeser menjadi hubungan yang sangat material. Pamrih, resiprokal dan mutual benefit.

Saya sendiri tidak tahu terjadinya mulai kapan. Tapi akhir-akhir ini memang sangat terasa orang menggiring  beragama menjadi sesuatu yang sangat materialistik dan transaksional. Para da'i menyerukan orang untuk berinfak dengan iming-iming akan adanya balasan berlipat dari jumlah infak yang kita lakukan. Rujukannya pun jelas. Angka-angka yang disebut Nabi maupun Kitab Sucim Seperti adanya pahala berlipat ganda sampai 7 atau 40 kali lipat.

Saya tidak menampik adanya balasan berlipat dari setiap kebaikan yang kita lakukan. Tapi bisakah balasan berlipat itu tidak dimaknai secara matematis. Bahwa kalau kita berinfak 50 ribu, maka akan ada balasan 7 kali lipat. Sehingga dari infak 50 ribu akan ada balasan 350 ribu. Bila angka 7 pada masa itu adalah angka bernilai tak berhingga, infinite kalau kata matematikawan sekarang, maka balasan yang dimaksud mestinya sesuatu yang sangat besar dan tidak bisa diukur. Bukan lagi sesuatu yang bisa dikuantifikasi atau diukur. Dengan rupiah misalnya. Bukan  
lagi sebuah materi yang bernilai 350 ribu. Balasan tersebut bisa jadi adalah rasa aman tentram, rasa cukup atau ketika kita ditempatkan dalam situasi dan kondisi yang akan menyulitkan kita. Hal-hal diatas menurut saya nilai nya lebih besar dari 350 ribu, 350 juta dan lain seterusnya.

Saya juga tidak menampik ada dan perlunya balasan bersifat materialistik dan duniawi dari setiap laku ibadah yang kita lakukan. Tidak ada yang keliru dan mengharap imbalan seperti itu. Bahkan Nabi pun mengajarkan sebuah Do'a yang mengajarkan kita untuk meminta hal yang bersifat duniawi dan ukhrawi. Hanya saja pertanyaannya, apakah kita mau berkutat di seputar itu dan tidak mau naik level?

Hal menarik lain dari ucapan diatas adalah ketika Nabi menyebutkan kalimat "anak baik" dan kalimat "yang mendoakannya" dalam satu kalimat utuh tak terpisah. Satu tarikan kalimat ini seperti menyatakan bahwa anak baik memang akan menjadi investasi akhirat kita. Namun ada syarat yang tidak bisa dilewatkan, yaitu bahwa dia mendoakan kita. Kalau dia tidak mendoakan, maka dia tidak akan menjadi investasi kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan