Mohon tunggu...
Delfi Siam
Delfi Siam Mohon Tunggu... Petani - Bukan penulis, apalagi pujangga. Harapannya pendoa

Menulis merupakan sarana yang sangat baik untuk menenangkan diri. Saat menulis, mengalir suatu emosi dalam diri yang tergerak dalam gerakan pena dan kata atau pun bahasa yang kita pakaikan,,,

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perjumpaan dengan Umat yang Menguatkan Panggilanku

4 Juli 2021   13:19 Diperbarui: 4 Juli 2021   13:26 108 25 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perjumpaan dengan Umat yang Menguatkan Panggilanku
Dok. pri

Suatu hari, di hari Minggu, saya pergi mengunjungi sebuah gereja yang letaknya cukup jauh dari komunitas tempat saya tinggal. Saya harus naik angkot kurang lebih selama satu jam untuk bisa ke gereja tersebut. Jalan yang dilalui juga berlubang-lubang. Setelah naik angkot, saya masih harus berjalan kaki kurang lebih selama 20 menit.

Setelah tiba di gereja tersebut, seperti biasa saya memberikan katekese atau pengajaran tentang iman kepada umat yang berada di gereja tersebut. Setelah memberikan katekese, saya melatih nyanyian yang akan dinyanyikan pada saat ibadat kami nantinya. Kemudian, ketika tiba waktu untuk ibadat, maka kami pun memulai ibadat kami.

Seusai ibadat, saya diajak makan siang ke rumah salah seorang umat. Seperti biasa, saat makan berlangsung, kami pun bercerita banyak hal.

Seorang ketua di gereja tersebut atau yang sering kami sebut dengan Ketua Dewan Stasi, menceritakan kisah suka-duka yang ia alami selama memimpin stasi tersebut.

Mendengar cerita bapak tersebut, saya jadi sadar bahwa hidup panggilan saya sebagai seorang pastor sama seperti yang dialami oleh bapak tersebut, yaitu ada suka dan dukanya. Salah satunya ialah perjalanan yang harus kutempuh untuk mengunjungi setiap gereja yang berada jauh dan terpelosok. Namun kisah bapak itu menjadi inspirasi juga bagi saya untuk tetap bersemangat dalam melayani umat.

Sambil makan pula, saya bertanya kepada seorang bapak yang berada di samping saya, "Pak, gimana, udah panen?"

Jawab beliau, "Sudah frater, tapi jelek. Cabenya jelek semua.

"Loh, kenapa pak?", tanyaku kembali.

"Banyak hamanya frater", jawab bapak tersebut.

Saya tahu bahwa bapak itu memang sedang kurang bersemangat karena hasil panen cabenya kurang baik. Meskipun demikian, ada satu hal yang cukup menarik bagi saya, yaitu bapak tersebut masih mau pergi ke gereja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN