Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

"Sweeney Todd", dari Bioskop ke Panggung Teater

4 Desember 2019   16:16 Diperbarui: 4 Desember 2019   16:28 13 4 1 Mohon Tunggu...
"Sweeney Todd", dari Bioskop ke Panggung Teater
Sweeney Todd diperankan oleh Johnny Depp di versi film. (Id.bookmyshow.com)

Sebenarnya bukan suatu hal yang mengejutkan jika sebuah film diangkat ke pementasan teater. Terbukti, ada pementasan "Harry Potter" di versi panggung teater dari Teater West End. Begitu pula dengan film "The Greatest Showman" yang mirip dengan pentas teater yang berkonsep teater musikal.

Artinya, diantara film dan teater tidak sepenuhnya terpisah. Hanya, media pertunjukkannya yang berbeda. Ini yang membuat masyarakat penonton diperbolehkan untuk menilai jika teater dan film harus dinikmati secara berbeda dan harus memiliki penikmat sendiri-sendiri.

Namun seharusnya tidak, karena terbukti diantara keduanya masih memiliki banyak elemen yang sama. Termasuk kisah yang diangkat, kedua bidang itu juga dapat menyajikan kisah yang sama meski harus menggunakan teknis yang berbeda. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Teater Cowboy yang merupakan organisasi seni teater di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang.

Poster pementasan Teater Cowboy (Dokpri)
Poster pementasan Teater Cowboy (Dokpri)
Mereka secara mengejutkan telah mengangkat kisah yang pernah difilmkan pada 2007. Judulnya sama persis, "Sweeney Todd". Tokoh-tokoh yang berperan pun sama. Namun, media penyajiannya yang berbeda.

Terlepas dari kekurangan teknis di sana-sini, apa yang dilakukan oleh Teater Cowboy adalah jendela bagi penonton teater untuk berharap bahwa tidak akan ada kemustahilan bagi mereka untuk menonton apa yang ditayangkan di film juga dipertunjukkan di panggung teater. Namun dengan catatan bahwa mereka harus memaklumi apa yang akan menjadi perbedaannya, alias tidak menyamakan standar penyajian kisahnya.

Lalu, apa yang menarik dari Sweeney Todd versi pementasan teater?

Konsep panggungnya terlihat sederhana -seperti gambar di atas- namun sesuai dengan logika rumah yang ada di kisah Sweeney Todd. Seperti yang sudah diperlihatkan di filmnya, bahwa Todd memiliki rumah berlantai dua. Lantai pertama dijadikan sebagai tempat usaha kue pie (baca: pai) dan lantai dua diperuntukkan Todd membuka usaha cukur pasca bangkit dari permasalahan hidupnya.

Adegan awal ketika terjadi dialog antara Mrs. Lovett dan Todd. (Dokpri/DeddyHS_15)
Adegan awal ketika terjadi dialog antara Mrs. Lovett dan Todd. (Dokpri/DeddyHS_15)
Selain itu, ada keingintahuan terhadap bagaimana tokoh Todd dapat diperankan oleh aktor yang bukan Johnny Depp. Jika di film kita tidak akan pernah dapat melihat sisi spontanitas dari si pemeran, maka di teater kita dapat melihat apa yang dapat dilakukan aktornya untuk menjawab "lah, leh, loh, lah" dari penonton.

Adegan Anthony dan Todd dengan
Adegan Anthony dan Todd dengan
Contohnya dari kegagalan beberapa tokoh untuk menyadari konsep ruang di panggung. Seperti Anthony yang tiba-tiba "loncat" dari lantai satu ke lantai dua. Hal ini sebenarnya dapat diprediksi ketika gesturnya sudah tergesa-gesa saat akan menghampiri Todd.

Kesalahan yang dilakukan Anthony ini kemudian membuat penonton pasti berteriak dalam hati, "loh kok lompat?" dan beruntungnya hal itu disadari juga oleh pemeran Todd. Di sinilah Todd dapat membuat penonton terwakili suaranya, meski hal ini membuat ada dilematis juga bagi penonton lainnya.

Apakah boleh sang tokoh melakukan improvement semacam itu? Atau memang di pementasan teater, tokoh dapat melakukan hal yang sedemikian rupa untuk membuat pertunjukan tidak sepenuhnya kaku dan ketika salah juga tidak dibiarkan begitu saja. Inilah yang menjadi pertanyaan selanjutnya.

Namun terlepas dari itu, kita tentu dapat menilai bahwa dalam pertunjukan teater selalu dapat memberikan rasa yang berbeda dibandingkan film. Seperti (kembali pada) konsep panggung yang dapat memanfaatkan keberadaan tempat-tempat yang tak terduga sebelumnya. Di pementasan "Sweeney Todd" ini, rumah Hakim Turpin terletak benar-benar jauh dari rumah Todd. Begitu pula dalam menyajikan "kompetisi cukur" yang diikuti oleh Todd dan (Adolfo) Pirelli di tempat yang tepat untuk menyajikan adegan tersebut.

Johanna dan rumah Hakim Turpin. (Dokpri/DeddyHS_15)
Johanna dan rumah Hakim Turpin. (Dokpri/DeddyHS_15)
Jika di film, penonton hanya menyiapkan tubuhnya untuk duduk dan diam -meski tangan dan mulut aktif, sedangkan di teater tubuh kita juga diharuskan untuk mengikuti movement dari tokoh-tokohnya. Seperti adegan Johanna yang muncul dari rumah Hakim Turpin yang secara teknis berada di seberang rumah Todd. Sehingga untuk menyaksikan adegan Johanna, penonton harus membalikkan badannya.

Pirelli beradu kemahirannya dalam mencukur dengan Todd. (Dokpri/DeddyHS_15)
Pirelli beradu kemahirannya dalam mencukur dengan Todd. (Dokpri/DeddyHS_15)
Sedikit beruntung bagi penonton yang tidak duduk, karena mereka tidak begitu susah untuk memutar posisinya dan menyaksikan adegan yang menarik dari Johanna. Begitu pula ketika harus menyaksikan adegan di panggung "show-up" bagi Pirelli, Todd, dan Loli. Penonton yang berdiri tetap dapat leluasa menyaksikannya.

Loli menjadi pembuka dari terbukanya adegan di
Loli menjadi pembuka dari terbukanya adegan di
Di pementasan ini pula kita dapat menyaksikan adegan-adegan yang menarik untuk diikuti, seperti ketika terjadi dialog antara Mrs. Lovett dan Loli. Secara teknis keduanya menjadi bagian dari tokoh yang menarik untuk diikuti runtutan adegannya selain Todd yang memang memiliki banyak porsi sebagai tokoh utama.

Melihat apa yang dapat dihasilkan dari panggung teater terhadap kisah Sweeney Todd "The Demon Barber of Fleet Street", masyarakat penonton kini dapat mengharapkan terwujudnya lagi kisah-kisah yang ada di film untuk dapat dipentaskan di panggung teater. Jika Teater Cowboy dapat melakukannya, tentu yang lain diharapkan dapat pula melakukannya.

Sesi penutup dengan seluruh aktor naik ke panggung dan
Sesi penutup dengan seluruh aktor naik ke panggung dan
Selamat Teater Cowboy dan Universitas Brawijaya terhadap keberhasilannya meraih perhatian masyarakat penonton dengan konsep ini. Semoga ada perjalanan selanjutnya yang menarik dan lebih baik.


Malang, 4 Desember 2019
Deddy Husein S.

Ulasan review film Sweeney Todd: Id.bookmyshow.com

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x