Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com | Alamat surel: deddyhsuryanto@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Pengalaman Besar Mourinho Bukan Jaminan untuk Bertahan di Old Trafford

20 Desember 2018   23:00 Diperbarui: 21 Desember 2018   06:10 742 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pengalaman Besar Mourinho Bukan Jaminan untuk Bertahan di Old Trafford
Ilustrasi Jose Mourinho. (Bola.net)

"Kejayaan yang tak bisa abadi, memukul telak manusia untuk menyingkir atau belajar kembali"

Antara setuju dan tidak, ketika mendengar kabar perpisahan Jose Mourinho dengan Manchester United (MU) (18/12). Perpisahan yang disinyalir karena kekalahan MU 3-1 saat bertandang ke markas Liverpool dalam lanjutan kompetisi Premier League. Sebuah kekalahan besar atas tim rival yang sedang berpacu di jalur juara. Artinya, semakin jauh jarak antara MU dengan rival-rival di atasnya, maka semakin sulit langkah Antonio Valencia dkk untuk dapat berada di zona Liga Champions untuk musim depan.

Selain itu, kekalahan dengan Jurgen Klopp, semakin menegaskan bahwa ada yang kurang bagus bagi MU dalam menerapkan taktik dari Jose Mourinho. Lalu, apakah hasil buruk ini hanya karena faktor taktik dan gaya kepelatihan dari juru taktik yang sering disapa "Mou" ini?

Mourinho datang ke Liga Inggris bukan baru-baru ini. Dia adalah orang lama yang kembali lagi bersaing dengan pelatih lama dan baru yang selalu mewarnai kompetisi tanah Ratu Elizabeth ini dengan beragam strategi dan filosofi bermainnya. Begitu pula pada Mou yang datang kembali dengan rekam jejak barunya, setelah membawa dua klub beda liga berada dalam masa yang cukup bagus.

Apalagi saat di Inter Milan, yang mana di masa akhir karirnya di klub kota mode ini, dia berhasil membawa Diego Milito dkk menjuarai tiga kompetisi sekaligus di musim 2009-2010. Salah satu gelar juaranya adalah Liga Champions, yang sekaligus mengukuhkan predikat Mourinho sebagai salah seorang pelatih yang sukses membawa klubnya meraih prestasi tertinggi di benua Biru---dengan dua gelar Liga Champions yang diberikan kepada FC Porto pada 2004 dan Inter Milan 2010.

Sesuatu yang belum bisa dilakukan oleh pemenang duel Merah tempo hari, Jurgen Klopp. Bahkan, Mauricio Pochettino, Unay Emery, apalagi Maurizio Sarri, belum pernah mengisi CV kepelatihannya dengan trofi Liga Champions. Satu-satunya pelatih yang dapat menandingi CV Liga Champions milik Mou, adalah Josep 'Pep' Guardiola. Pelatih Manchester City ini dapat mempersembahkan gelar Liga Champions saat berjaya bersama klub profesional pertamanya di masa kepelatihan; FC Barcelona.

Jadi, siapakah pelatih di Liga Inggris yang bisa memberikan filosofi bermain yang kuat untuk bertanding tak hanya di Liga Inggris, namun juga di Liga Champions selain Mourinho dan Guardiola?

Unai Emery memiliki pengalaman meraih gelar Liga Europa bersama Sevilla, namun cukup kesulitan saat menukangi klub yang jauh lebih kuat dari Sevilla, Paris Saint Germain saat berkompetisi di Liga Champions. Bahkan, Unai Emery juga tak mampu mengalahkan Jose Mourinho saat keduanya berduel di sebuah laga Premier League---yang mempertemukan MU vs Arsenal. Artinya, Mourinho (sebenarnya) masih tak mudah untuk dikalahkan.
Lalu, apa yang membuat perpisahan ini harus terjadi?

Pertama, persaingan di Liga Inggris yang terlihat kurang mampu diikuti oleh konsistensi hasil pertandingan yang positif bagi The Red Devils.

Kedua, taktik Mourinho yang dinilai negatif (sebut parkir bus) ketika bertemu dengan klub-klub besar dan juga susah menaklukkan klub-klub kelas menengah dan ke bawah (inkonsistensi).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x