Politik Artikel Utama

Essien dan Emil di Mata Bon Jovi

21 Maret 2017   05:17 Diperbarui: 21 Maret 2017   14:06 851 7 5
Essien dan Emil di Mata Bon Jovi
Kompas.com/Wisnubrata

Belum genap seminggu euforia kedatangan Essien berkostum Persib berlalu, publik Bandung kembali diwarnai kegaduhan. 19 Maret kemarin, orang nomor satu di kota Bandung yaitu Ridwan Kamil menerima secara terbuka deklarasi dukungan partai Nasdem sebagai calon gubernur jabar periode 2018-2023.

Berbeda dengan kejutan Essien yang menggairahkan seluruh warga Bandung yang notabene bobotoh Persib, kejutan Emil menimbulkan kontra di sebagian warga bandung. Ungkapan kekecewaan cukup banyak terlihat di akun social media Ridwan Kamil, baik di facebook, twitter maupun instagram.

Meskipun sepakbola dan politik adalah dua buah entitas yang berbeda, keduanya memiliki kaitan yang erat. Saking eratnya, seringkali sepakbola dijadikan sarana oleh politikus untuk mencapai tujuannya. Sejarah kelam konflik berkepanjangan PSSI membuktikannya.

Kehadiran Essien tidak hanya ramai di kota Bandung, gemanya bahkan melintasi batas provinsi hingga negara. Menjadi trending topic di dunia maya. Keputusannya menerima pinangan Persib Bandung, sebuah klub yang menurut sebuah media di Inggris a club you never heard of, menimbulkan tanda tanya besar tentang kelanjutan masa depan karirnya di sepakbola dunia.

Essien adalah mantan seorang pemain bintang (marquee player) yang masih memiliki magnet kuat di sepakbola dunia, meski puncak kejayaannya telah berlalu. Sedangkan Persib, meskipun tidak terkenal di dunia, adalah juara liga dan salah satu klub terkaya di Indonesia dengan jutaan fansnya / bobotoh. Sehingga manuver Persib merekrut Essien dan penerimaan Essien terhadap pinangan persib, dilihat oleh banyak pengamat adalah sebuah simbiosis mutualisme yang seimbang.

Di sisi lain, Kang Emil adalah seorang walikota yang sukses mengubah citra bandung kota sampah menjadi lovable city dengan jargon Bandung juara, menjadikannya terkenal tidak saja di kota Bandung. Jutaan follower instagramnya berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Sementara partai Nasdem di Jawa Barat hanya berada di urutan ke 6 pada saat pemilu legislatif 2014 lalu. Hal inilah yang mungkin disayangkan banyak pihak. Sebuah simbiosis mutualisme yang timpang.

Seperti halnya Essien yang ingin membantu mengembangkan sepakbola indonesia, dengan maju sebagai calon gubernur, kang Emil ingin lebih banyak membantu warga lebih banyak lagi. Sebuah itikad baik yang perlu diapresiasi dan didukung. Pertanyaannya kemudian siapa yang mau mendukung? Ketika partai pendukung sebelumnya yaitu Gerindra tak jua memberi sinyal dukungan, kang Emil sepertinya tak sabar untuk kemudian dengan serta merta menerima dukungan partai Nasdem. Disinilah pangkal masalahnya bermula. Sebagian orang menyebut manuver ini sebuah jebakan politik yang sukses dieksekusi partai Nasdem.

Keberhasilan Persib bandung meminang Essien, merupakan kesuksesan dari transformasi manajemen Persib sebagai sebuah organisasi sepakbola modern. Salah satu ciri kesuksesan organisasi sepakbola modern adalah kemampuannya mentransformasi penonton menjadi pendukung setia klub. Menjadikan fans sebagai bagian tak terpisahkan dari klub. Dan itu sukses dilakukan manajemen Persib. Mustahil ada Essien bila tak ada sponsor. Begitu pula mustahil banyak sponsor tanpa ada bobotoh. Kostum biru persib membuktikannya.

Faktor suara fans ini lah yang sepertinya diabaikan oleh kang Emil. Tidak ada upaya untuk mengelolanya dengan baik. Padahal ini bisa dibilang ciri politik modern. Suara tanpa sekat partai. Seperti halnya Ahok dengan Teman Ahok-nya. Keputusan kang Emil memilih 6% suara pendukung partai Nasdem 3 tahun yang lalu tanpa melibatkan jutaan suara fans riil nya saat ini adalah Blunder. Ini bukan masalah bagaimana bisa menyenangkan semua orang, tapi bagaimana para fans merasa dilibatkan sehingga merasa menjadi bagian utuh dengan figur idolanya. Perkara akhirnya didukung oleh siapapun pasti akan selalu ada pro kontra.

Me-recovery suara fans yang sebelumnya lover menjadi hater, kembali lover lagi sangat sulit. Karena dunia politik Indonesia masih belum dewasa. Terbukti pertemanan yang balik kanan sewaktu mencalonkan walikota tidak balik kanan lagi. Pun begitu dengan statement bahwa dukungan partai Nasdem itu sebagai sesuatu yang belum pasti dan masih mungkin berubah, tidak sesederhana itu. Tidak segampang Persib saat memutus kontrak Erick Weeks dan menggantinya dengan Essien.

Terlebih suara 6% jelas tidak cukup untuk mengantarkan kang Emil sebagai calon gubernur. Diperlukan suara dari partai lain. Dan bisa ditebak suara itu akan berasal dari partai mana. Sama mudahnya menebak siapa yang nanti jadi striker baru Persib, Drogba atau Berbatov? Yang pasti, sebagai seorang bonjovi (bobotoh nu lalajo di tv), saya lebih memilih nonton bola daripada berita politik di TV corong partai Nasdem.