Mohon tunggu...
Irpanudin .
Irpanudin . Mohon Tunggu... suka menulis apa saja

Indonesianis :) private message : knight_riddler90@yahoo.com ----------------------------------------- a real writer is a samurai, his master is truth, his katana is words. -----------------------------------------

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Papan Nama Kampung, Sarana Membangun Kesiagaan Bencana

20 September 2019   23:27 Diperbarui: 21 September 2019   01:34 15 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Papan Nama Kampung, Sarana Membangun Kesiagaan Bencana
erupsi Galunggung 1982 ( gambar: wikipedia.org)

Kampung kita tertutup oleh debu, saat Galunggung meletus. Warga kampung mengungsi ke tempat yang lebih aman diangkut truk tentara. Saat itu abu turun seperti hujan lebat. Ibu lupa persisnya berapa lama, hanya saja selama beberapa bulan banyak warga Tasikmalaya harus berada di pengungsian dan tidak lepas dari masker tebal saat melakukan kegiatan di luar rumah.” Tutur ibu, menggali kenangan peristiwa letusan Gunung Galunggung beberapa puluh tahun silam.

 Aktivitas Gunung Galunggung pada tahun 1982 itu berlangsung selama 9 bulan. Kedahsyatan letusan Galunggung membuat abu vulkaniknya konon menutupi sepertiga dunia dan terbang hingga menjangkau Benua Australia.

Saat letusan itu terjadi, saya baru berumur satu tahun lebih. Masih dalam gendongan ketika harus mengungsi. Sehingga kenangan saya dari letusan Galunggung adalah peninggalannya berupa batu-batu seukuran 3 ekor Kerbau di Sungai Ciwulan yang mengalir di tepi kampung.

Beberapa bulan lalu saya mengunjungi kampung halaman yang telah lama saya tinggalkan. Kehidupan kampung halaman di lereng Galunggung berlangsung seperti umumnya pedesaan, tenang dan damai dengan bentang sawah dan pepohonan. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa tanah ini pernah mengalami bencana alam besar yang mengubah permukaan bumi.

Dalam banyak kasus, banyaknya korban jiwa akibat suatu bencana alam sebagian besar disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat dalam menghadapi bencana. Meski pun hanya folklore atau tutur lisan, budaya siaga bencana di masyarakat, terbukti memegang peranan sangat vital dalam kesiagaan menghadapi bencana alam.

Salah satu contoh yang paling populer adalah saat terjadinya Tsunami tahun 2004 di Simeuleu, sebuah pulau setingkat Kabupaten yang berada di tengah Samudera Hindia. Meskipun Simeuleu juga luluh lantak oleh terjangan Tsunami, tetapi jumlah korban jiwa hanya 6 orang dari sekitar 70 ribu penduduk saat itu. Padahal di tempat lain, puluhan hingga ratusan ribu tewas atau hilang tersapu Tsunami.

Di Simeuleu ancaman Smong, Tsunami dalam bahasa Simeuleu, tertanam pada setiap penduduknya lewat budaya tutur cerita. Dari kakek nenek dan orang tua di Simeuleu, kisah tentang Smong terus disampaikan dari generasi ke generasi. Pengetahuan yang diperoleh dari cerita itu menjadi bekal berharga bagi masyarakat Simeulue.

Ada juga syair yang bercerita tentang ciri-ciri Smong, dan bagaimana masyarakat harus bertindak saat terjadi Smong. Tidak ada yang tahu pencipta syair tentang Smong itu, namun sebagaimana tutur lisan Smong, masyarakat Simeuleu telah mendapatkan syair ini turun temurun. Sehingga saat Smong terjadi, hanya dalam hitungan menit masyarakat tahu harus melakukan apa, berkat syair dan pengetahuan dari cerita folklore itu.

Di kampung halaman saya, jejak letusan Galunggung yang tersisa tinggal di ingatan dan cerita generasi di atas saya. Sayang sekali budaya tutur kesiagaan bencana di kampung saya tidak dibangun sebagaimana masyarakat Simeuleu. Orang yang satu generasi dengan saya, remaja, dan anak-anak, sama sekali tidak menyimpan memori atau pengalaman menghadapi letusan gunung berapi. Tumbuh kekhawatiran terputusnya pengetahuan tentang musibah besar itu dapat menjadi pangkal musibah di masa depan. Sebab meletusnya Galunggung di masa depan bukanlah hal yang mustahil.

Terlebih cerita bencana alam seperti letusan gunung adalah hal yang lazim di Indonesia. Tidak hanya warga Tasikmalaya yang pernah menjadi pengungsi akibat aktivitas gunung berapi. Di Jawa Barat saja, tercatat sebagian gunung berapi pernah meletus dalam beberapa dekade terakhir. Sebagian lainnya tenang, tetapi bukan selamanya tidak aktif, melainkan hanya “tertidur” dan menjadi bahaya laten karena setiap saat dapat meluluhlantakkan wilayah yang berada di sekelilingnya.

Tidak ada satu pun negara di dunia dengan jumlah titik rawan bencana, baik berupa letusan gunung maupun gempa, sebanyak Indonesia. Setiap saat kita hidup di bawah bayang-bayang bencana, yang mengancam dari dalam bumi yang kita pijak ini. Sehingga membangun budaya waspada bencana masyarakat di Indonesia, seperti yang tertanam di Simeuleu, merupakan sebuah tantangan tersendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN