Mohon tunggu...
Irpanudin .
Irpanudin . Mohon Tunggu... Petani - suka menulis apa saja

Indonesianis :) private message : knight_riddler90@yahoo.com ----------------------------------------- a real writer is a samurai, his master is truth, his katana is words. -----------------------------------------

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menjawab Sebuah Tanya: "Pendidikan Tanggung Jawab Siapa?"

29 Mei 2016   23:53 Diperbarui: 30 Mei 2016   01:12 341
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Pendidikan tanggung jawab siapa? Pertanyaan tersebut bagaikan bola panas yang tidak ingin dipegang siapa pun. Sebagian orang tua dengan berbagai alasan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, sehingga ketika anaknya tumbuh tidak sesuai dengan harapannya, sekolah menjadi kambing hitam. Sementara dengan berbagai keterbatasan, tidak semua guru dan perangkat sekolah bisa menjadi media pendidik yang mampu memenuhi kebutuhan setiap siswa.

Tanpa mencari jawaban “ini tanggung jawab siapa?”, yang tidak disadari oleh banyak pihak adalah bencana pendidikan yang sesungguhnya terjadi ketika nilai-nilai kebaikan, karakter, serta ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah tidak dapat ditemukan pelajar dalam kehidupan sehari-hari. Jurang lebar yang memisahkan pendidikan di sekolah dengan kenyataan menumbuhkan sebuah anggapan: sama saja perilaku orang yang sekolah dan tidak sekolah, pembedanya hanya selembar ijazah. Apalagi dihadapkan kenyataan orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi di tingkat elit justru mempertontonkan perilaku tidak beradab seperti korupsi, penyuapan, pejabat yang berkuasa meremehkan hukum dan tidak memiliki rasa malu melakukan perbuatan asusila.

Sebab pendidikan yang paling terpahat dalam diri setiap orang diperoleh dari teladan dan kehidupan keseharian, pendidikan sesungguhnya bukan sekedar sekolah dan kurikulum. Pendidikan adalah sebuah gerakan yang ditenagai oleh berbagai komponen masyarakat.

Orang Tua dan Keluarga Sebagai Tunas Inti Pendidikan

Tahukah anda, menjadi orang tua sesungguhnya proses belajar? Belajar untuk selalu melakukan hal-hal baik karena dia adalah panutan anak-anaknya. Belajar untuk menahan diri melakukan hal-hal tidak baik, jika tidak ingin anaknya melakukan hal serupa. Anak dengan segala keingin tahuannya, kepolosannya, adalah peniru ulung apa yang terjadi di sekitarnya. ( Justitia Mustofa, 2016 )  

Pada diri orang tua yang membesarkannya anak mendengar kata-kata lalu berbahasa, pertama kalinya melihat dan mengamati keseharian perilaku manusia. Perilaku seorang anak umumnya akan ditentukan oleh pendidikan, latihan dan pengalaman yang diperoleh pada masa kecilnya. Kehidupan orang tua dan keluargalah yang menjadi hampir segala acuan kehidupan seseorang. Bahkan Sigmund Freud membuat hipotesis yang lebih jauh lagi dengan teori psikologi bahwa perilaku seorang dewasa  ditentukan sejak ia masih dalam buaian ibu dan masa balita.

Dalam keluarga pula anak mengenal dan mempelajari norma-norma dan aturan-aturan permainan dalam hidup bermasyarakat. Oleh karena itu seorang anak yang pada masa kecilnya tidak pernah mendapatkan contoh perilaku yang baik dari orang tuanya, pada masa dewasanya akan kesulitan untuk berprilaku baik. Sehingga pepatah bahwa keluarga sebagai pendidik pertama dan utama tidak terbantahkan.

Masyarakat Sebagai Lingkungan Pendidikan Kedua

Setelah keluarga, setiap orang mendapat pendidikan dari masyarakat tempat dia bergaul. Di luar keluarga anak-anak berkata-kata meniru teman sepermainannya, dan berprilaku meniru tindakan teman sebayanya.  Kaum muda yang belum memahami adat istiadat, tata nilai masyarakat, dan bagaiman menjaga keharmonisan antar sesama sangat membutuhkan contoh dan bimbingan dalam berprilaku. Masyarakat yang memiliki budaya pendidikan dan mengawasi bagaimana tumbuh kembang kaum mudanya akan mewariskan budaya yang baik yang telah tumbuh dan berkembang dalam masyarakat tersebut ke generasi berikutnya.

Sekolah Sebagai Lembaga Pendidikan  

Tidak pelak lagi, sekolah merupakan lembaga yang memberikan sarana yang paling utama dalam mengantarkan seorang anak membangun kehidupan yang baik dan kesuksesan di masa dewasanya. Sekolah sesungguhnya berfungsi menutupi segala kekurangan pendidikan yang tidak diperoleh di keluarga dan masyarakat, baik dari sisi adat istiadat, sopan santun, pembentukan karakter dan ilmu pengetahuan. Sejatinya sekolah memberikan pola pendidikan yang lebih sistematis dan terukur dalam mempersiapkan setiap anak didik menjadi warga masyarakat yang produktif berkarya dan bermanfaat bagi sesamanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun