Daniel H.T.
Daniel H.T. wiraswasta

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Realitas Muhaimin yang "Ngotot" Menjadi Cawapres Jokowi

15 April 2018   00:13 Diperbarui: 17 April 2018   18:44 5665 13 9
Realitas Muhaimin yang "Ngotot" Menjadi Cawapres Jokowi
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar meresmikan posko JOIN, Jokowi-Muhaimin di kawasan Tebet, Jakarta, Selasa (10/4/2018).(KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Ambisi maha besar untuk menjadi calon wakil presiden Jokowi  di Pilpres 2019 yang diperlihatkan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, atau biasa disapa Cak Imin itu benar-benar over acting melampui dosis. Melawan realitas, melangkahi Jokowi, ajaran Gus Dur pun dimanfaatkan lagi.

Ambisi maha besar Muhaimin plus ke-ge-er-annya, yang berlanjut pada ke-ngotot-annya agar dipilih Jokowi untuk mendampinginya sebagai cawapres di Pilpres 2019 setidaknya dimulai saat ia diundang Presiden Jokowi untuk mendampinginya meresmikan pengoperasian kereta bandara Soekarno-Hatta, pada 2 Januari 2018.

Undangan Jokowi itu tak disia-siakan Muhaimin, di acara peresmian kereta bandara oleh Presiden Jokowi  itu, ia menempel ketat Jokowi, seolah-olah tak mau berpisah dengan RI-1 itu.

Mulai sejak ia menyambut kedatangan Jokowi di bandara, saat Jokowi berjalan ke lokasi peresmian, Muhaimin terus sedekat mungkin dengan Jokowi, Menteri-menteri pun berjalan di belakangnya; saat Jokowi berpidato ia berada di samping Jokowi; saat Jokowi memencet tombol peresmian, ia berdiri di dekat Jokowi;  saat Jokowi berjalan ke kereta bandara untuk mencobanya, ia terus berjalan dempet Jokowi, sampai di dalam kereta, duduk di sebelah Jokowi.

Momen bersama Jokowi  itu rupanya dianggap Muhaimin sebagai isyarat pasti Jokowi akan memilihnya sebagai cawapres-nya. Ia begitu sangat yakin sampai bersikap seolah-olah Jokowi sudah menetapkannya demikian, sehingga ketika kenyataannya Jokowi sampai hari ini belum menetapkan pilihan siapa yang akan menjadi cawapres-nya, Muhaimin justru mendahuluinya.

Setelah bersama Jokowi di acara peresmian kereta bandara Soekarno-Hatta itu,  Muhaimin bersama dengan para petinggi PKB, dan para pendukungnya mulai gencar mengkampanyekan Muhaimin sebagai cawapres Jokowi. Baliho dan spanduk berbagai ukuran bertuliskan Muhaimin sebagai cawapres Jokowi pun disebarkan di hampir seluruh Indonesia.

Jokowi Sudah Menjelaskan

Padahal adalah biasa gaya politik Jokowi adalah seperti itu, ketika hendak membahas suatu persoalan bangsa, masalah sosial-politik, atau masalah-masalah negara lainnya, kerap ia mengundang para tokohnya untuk bersamanya berdialog dengannya, baik secara tertutup, maupun terbuka (kebanyakan),  sambil makan siang, sambal minum teh bersama, saat meninjau atau meresmikan suatu proyek, saat berolah raga, dan sebagainya.

Hal ini sebenarnya sudah dinyatakan oleh Jokowi, saat ditanya wartawan: Mengenai kenapa dia mengundang Muhaimin saat peresmian kereta bandara Soekarno-Hatta itu. Jokowi berkata bahwa momen itu untuk berdialog tentang kereta dan masalah lainnya. Saat ditanya wartawan, apakah juga bicara tentang pilihan cawapres, Jokowi secara diplomatis menjawab singkat, "Tanya Cak Imin," sambal menoleh ke Muhaimin.

Saat ditanya spekulasi mengenai Muhaimin yang hendak menjadi cawapres-nya pada 2019, Jokowi hanya menjawab singkat. "Bagus, bagus, bagus."

Jawaban Jokowi itu rupanya menambah kelebihan kepercayaan diri Muhaimin bahwa Jokowi sudah mantap memilihnya sebagai satu-satunya cawapres, tak mungkin ada lagi yang lain.

Tapi, seiring berjalannya waktu Jokowi belum juga menyatakan hal itu secara "to the point", Muhaimin menjadi tak sabaran, sehingga ia dan para petinggi PKB pun mulai bermanuver menyatakan lebih dulu Muhaimin sebagai cawapres Jokowi, dengan menyebarkan berbagai spanduk dan baliho berisi tulisan tentang hal itu di berbagai kota di Indonesia, kemudian diikuti dengan mengdeklarasikannya secara terbuka.

Selain Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum PKB, Presiden Jokowi juga pada 7 Maret 2018  pernah mengajak Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, untuk datang bersamanya meninjau proyek MRT.

Pada 24 Maret 2018, Jokowi juga pernah mengajak Ketua Umum Golkar Arlangga Hartarto (yang juga Menteri Perindustrian) untuk menemaninya lari pagi di Kebun Raya Bogor.

Usai lari pagi, Jokowi mengaku berdialog ringan dengan Airlangga seputar Golkar. Termasuk, tutur dia, membahas terkait cawapres 2019. Saat ditanya lebih jauh pembicaraan soal cawapres, Jokowi menjelaskan,  menyampaikan mengenai kriteria cawapres 2019-nya. Jokowi juga mengaku mendengarkan apa yang diinginkan dari Golkar tentang hal itu.

"Ya, masih sebatas kriteria. Belum ke orangnya. Di internal kita sendiri juga masih belum rampung," kata Jokowi.

Ketika ditanya lagi, apakah lari pagi dengan Airlangga itu adalah tanda bahwa ia sudah memilih cawapres-nya.

"Ini dilihat sendiri-lah, ini cocok enggak? Dilihat sendiri!" jawab Jokowi sambil tertawa.

Ketika itu Jokowi bahkan mengenakan kaos oblong warna kuning, warna khas Partai Golkar.

Tapi, meskipun ia pasti berambisi, diam-diam pasti mengharapkan Jokowi memilihnya, Airlangga tidak menjadi ke-pe-de-an, tidak ge-er, lalu over acting seperti Muhaimin Iskandar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5