Daniel H.T.
Daniel H.T. wiraswasta

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Realitas Muhaimin yang "Ngotot" Menjadi Cawapres Jokowi

15 April 2018   00:13 Diperbarui: 17 April 2018   18:44 3114 12 8
Realitas Muhaimin yang "Ngotot" Menjadi Cawapres Jokowi
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar meresmikan posko JOIN, Jokowi-Muhaimin di kawasan Tebet, Jakarta, Selasa (10/4/2018).(KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Ambisi maha besar untuk menjadi calon wakil presiden Jokowi  di Pilpres 2019 yang diperlihatkan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, atau biasa disapa Cak Imin itu benar-benar over acting melampui dosis. Melawan realitas, melangkahi Jokowi, ajaran Gus Dur pun dimanfaatkan lagi.

Ambisi maha besar Muhaimin plus ke-ge-er-annya, yang berlanjut pada ke-ngotot-annya agar dipilih Jokowi untuk mendampinginya sebagai cawapres di Pilpres 2019 setidaknya dimulai saat ia diundang Presiden Jokowi untuk mendampinginya meresmikan pengoperasian kereta bandara Soekarno-Hatta, pada 2 Januari 2018.

Undangan Jokowi itu tak disia-siakan Muhaimin, di acara peresmian kereta bandara oleh Presiden Jokowi  itu, ia menempel ketat Jokowi, seolah-olah tak mau berpisah dengan RI-1 itu.

Mulai sejak ia menyambut kedatangan Jokowi di bandara, saat Jokowi berjalan ke lokasi peresmian, Muhaimin terus sedekat mungkin dengan Jokowi, Menteri-menteri pun berjalan di belakangnya; saat Jokowi berpidato ia berada di samping Jokowi; saat Jokowi memencet tombol peresmian, ia berdiri di dekat Jokowi;  saat Jokowi berjalan ke kereta bandara untuk mencobanya, ia terus berjalan dempet Jokowi, sampai di dalam kereta, duduk di sebelah Jokowi.

Momen bersama Jokowi  itu rupanya dianggap Muhaimin sebagai isyarat pasti Jokowi akan memilihnya sebagai cawapres-nya. Ia begitu sangat yakin sampai bersikap seolah-olah Jokowi sudah menetapkannya demikian, sehingga ketika kenyataannya Jokowi sampai hari ini belum menetapkan pilihan siapa yang akan menjadi cawapres-nya, Muhaimin justru mendahuluinya.

Setelah bersama Jokowi di acara peresmian kereta bandara Soekarno-Hatta itu,  Muhaimin bersama dengan para petinggi PKB, dan para pendukungnya mulai gencar mengkampanyekan Muhaimin sebagai cawapres Jokowi. Baliho dan spanduk berbagai ukuran bertuliskan Muhaimin sebagai cawapres Jokowi pun disebarkan di hampir seluruh Indonesia.

Jokowi Sudah Menjelaskan

Padahal adalah biasa gaya politik Jokowi adalah seperti itu, ketika hendak membahas suatu persoalan bangsa, masalah sosial-politik, atau masalah-masalah negara lainnya, kerap ia mengundang para tokohnya untuk bersamanya berdialog dengannya, baik secara tertutup, maupun terbuka (kebanyakan),  sambil makan siang, sambal minum teh bersama, saat meninjau atau meresmikan suatu proyek, saat berolah raga, dan sebagainya.

Hal ini sebenarnya sudah dinyatakan oleh Jokowi, saat ditanya wartawan: Mengenai kenapa dia mengundang Muhaimin saat peresmian kereta bandara Soekarno-Hatta itu. Jokowi berkata bahwa momen itu untuk berdialog tentang kereta dan masalah lainnya. Saat ditanya wartawan, apakah juga bicara tentang pilihan cawapres, Jokowi secara diplomatis menjawab singkat, "Tanya Cak Imin," sambal menoleh ke Muhaimin.

Saat ditanya spekulasi mengenai Muhaimin yang hendak menjadi cawapres-nya pada 2019, Jokowi hanya menjawab singkat. "Bagus, bagus, bagus."

Jawaban Jokowi itu rupanya menambah kelebihan kepercayaan diri Muhaimin bahwa Jokowi sudah mantap memilihnya sebagai satu-satunya cawapres, tak mungkin ada lagi yang lain.

Tapi, seiring berjalannya waktu Jokowi belum juga menyatakan hal itu secara "to the point", Muhaimin menjadi tak sabaran, sehingga ia dan para petinggi PKB pun mulai bermanuver menyatakan lebih dulu Muhaimin sebagai cawapres Jokowi, dengan menyebarkan berbagai spanduk dan baliho berisi tulisan tentang hal itu di berbagai kota di Indonesia, kemudian diikuti dengan mengdeklarasikannya secara terbuka.

Selain Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum PKB, Presiden Jokowi juga pada 7 Maret 2018  pernah mengajak Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, untuk datang bersamanya meninjau proyek MRT.

Pada 24 Maret 2018, Jokowi juga pernah mengajak Ketua Umum Golkar Arlangga Hartarto (yang juga Menteri Perindustrian) untuk menemaninya lari pagi di Kebun Raya Bogor.

Usai lari pagi, Jokowi mengaku berdialog ringan dengan Airlangga seputar Golkar. Termasuk, tutur dia, membahas terkait cawapres 2019. Saat ditanya lebih jauh pembicaraan soal cawapres, Jokowi menjelaskan,  menyampaikan mengenai kriteria cawapres 2019-nya. Jokowi juga mengaku mendengarkan apa yang diinginkan dari Golkar tentang hal itu.

"Ya, masih sebatas kriteria. Belum ke orangnya. Di internal kita sendiri juga masih belum rampung," kata Jokowi.

Ketika ditanya lagi, apakah lari pagi dengan Airlangga itu adalah tanda bahwa ia sudah memilih cawapres-nya.

"Ini dilihat sendiri-lah, ini cocok enggak? Dilihat sendiri!" jawab Jokowi sambil tertawa.

Ketika itu Jokowi bahkan mengenakan kaos oblong warna kuning, warna khas Partai Golkar.

Tapi, meskipun ia pasti berambisi, diam-diam pasti mengharapkan Jokowi memilihnya, Airlangga tidak menjadi ke-pe-de-an, tidak ge-er, lalu over acting seperti Muhaimin Iskandar.

Pada kesempatan itu, Jokowi juga menyampaikan bahwa proses penjaringan cawapres dia masih berjalan, belum ditentukan siapa-siapa saja bakal calonnya (apalagi menetapkan satu orang sebagai calon). Sehingga demikian, pengumuman nama cawapres-nya tidak akan diumumkan dalam waktu dekat.

Apalagi, jelas Jokowi,  pembahasan cawapres itu  harus melibatkan para Ketua Parpol pendukung (tentu saja terutama mendengar pilihan dan keputusan PDIP).

"Masih panjang, masih panjang. Kita masih berbicara dengan ketua-ketua partai (politik). Di internal sendiri kita juga masih menggodok. Saya kira masih panjang," tutur Jokowi lebih jelas lagi.

Kepercayaan Diri yang Terlalu Berlebihan

Pada 14 Maret 2018, di acara Mata Najwa, Trans7 TV, Muhaimin Iskandar mengatakan, elektabilitas Jokowi saat ini sedang berada pada posisi berbahaya, jika salah memilih cawapres, pasti akan kalah di Pilpres mendatang, oleh karena itu Jokowi butuh dirinya sebagai  cawapres, agar Jokowi bisa menang. Ketika dikonfirmasi Najwa, apakah itu artinya Jokowi akan rugi besar jika tidak memilih ia sebagai cawapres, spontan Muhaimin membenarkannya.

Muhaimin juga berkata, PKB, punya massa 11 juta yang bisa berpengaruh signifikan terhadap kemenangan di Pilpres 2019. "Siapa pun yang didukung PKB pasti menang," ujarnya. Sedangkan syarat untuk didukung PKB, calon presiden bersangkutan harus memilih Muhaimin sebagai cawapres-nya.

Kalau memang benar begitu, kenapa bukan dia sendiri saja yang mencalonkan dirinya sebagai presiden, jika sungguh sangat yakin dengan pernyataannya itu, bukankah berarti, Jokowi pun lewat, apalagi Prabowo, jika bertanding dengan Muhaimin di Pilpres 2019?

Muhaimin punya alasan, kata dia, sebenarnya ia lebih pantas menjadi presiden, bukan wakil presiden,  banyak pihak yang memintanya untuk menjadi capres, bukan cawapres. Tetapi, karena menghargai Jokowi, mengedepankan tata karma dengan Jokowi, karena  PKB merupakan partai pendukung Jokowi, maka ia merasa tidak enak jika satu koalisi sama-sama maju menjadi capres melawan Jokowi.

"PKB ialah pendukung Pak Jokowi, harus ada tata krama, jangan sampai saya bersaing dengan Pak Jokowi."

"Inilah sebabnya Cak Imin masih mendeklarasikan diri sebagai cawapres bukan sebagai capres," katanya di acara Mata Najwaitu.

Suatu alasan yang lucu yang terlalu dibuat-buat.

Survei Membuktikan

Berbagai survei mengenai elektabilitas Jokowi dengan beberapa simulasi pasangan cawapres memperlihatkan bahwa "ancaman" Muhaimin Iskandar itu tidak beralasan sama sekali. Dirinya jika dipasangkan dengan Jokowi tidak menunjukaan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan alternatif calon yang lain.

Survei yang dilakukan oleh Populi Center (7-16 Februari 2018) dengan margin error sekitar 2,89 persen menunjukkan hasil sebagai berikut:

Jokowi-Sri Muljadi: 57,3 persen; Jokowi-Muhaimin: 50,6 persen; dan Jokowi-Moeldoko: 49,1 persen.

Hasil survei Poltracking Indonesia (27 Januari -- 3 Februari 2018), dengan margin error sekitar 2,8 persen:

Jokowi-Tito: 45,3 persen; Jokowi-Muhaimin: 47,6 persen; dan Jokowi-Budi Gunawan: 45,0 persen.

Hasil survei Alvara Research Center (17 Januari -- 7 Februari 2018), dengan margin error sekitar 2,13 persen:

Jokowi-AHY: 56,4 persen; Jokowi-Gatot: 54,8 persen; dan Jokowi-Muhaimin: 57,6 persen.

Jadi, tampaknya siapapun yang dipasangkan dengan Jokowi, tidak akan memperngaruh secara signifikan terhadap elektabilitas Jokowi, Jokowi tetap jauh lebih unggul daripada Prabowo Subianto jika dipasangkan dengan siapa pun, jauh dari bahaya, sebagaimana diklaim Muhaimin Iskandar.

Hasil survei terbaru, yang dilakukan oleh lembaga survei Kedai KOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) pada 19-27 Maret 2018, dengan margin error sekitar 2,97 persen,  dirilis pada Minggu, 15 April 2018, justru menunjukkan peningkatan singnifikan elektabilitas (tanpa simulasi pasangan cawapres)  Jokowi  jauh melampui Prabowo, yakni sebesar 48,3 persen, dibandingkan dengan Prabowo sebesar 21,5 persen.

Sebaliknya, jika Muhaimin dipisahkan dari Jokowi, sebagai calon presiden, justru itu yang sangat berbahaya baginya,  elektabilitasnya langsung terjun bebas ke nomor paling buncit, tak lebih dari 2 persen, di bawah simulasi capres-capres lainnya, seperti Gatot Nurmantyo, AHY, dan Anies Baswedan.

Perseteruan Muhaimin dengan Gus Dur, Hubungannya dengan Keluarga Gus Dur

Saat Jokowi pada 24 Maret 2018 telah memastikan bahwa penentuan cawapres dia belum bisa dipastikan dalam waktu dekat ini, karena untuk menentukan hal itu harus melibatkan semua parpol pendukung (yang dipimpin oleh PDIP), Muhaimin justru semakin pe-de sebagai cawapres pilihan Jokowi.

Hal yang mendasari ke-pe-de-an-nya itu adalah pertemuan dia dengan Presiden Jokowi pada 23 Maret 2018, di Istana Kepresidenan, Jakarta. Pada 25 Maret 2018, Muhaimin mengutarakan keyakinannya itu lagi kepada wartawan.

Muhaimin enggan menyebut apa yang diungkapkan oleh Jokowi sehingga dirinya demikian optimistis menjadi cawapres Jokowi, dia hanya bilang,   "Ya banyaklah (yang diperbincangkan). Yang penting optimistis, optimistis pokoknya, optimis."

"Dua hari lalu, saya diterima beliau, ngobrol panjang, kesimpulan saya sangat optimistik, Insya Allah, ya (jadi cawapres Jokowi di Pilpres 2019)," ujar Muhaimin usai ziarah di makam  Taufiq Kiemas di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Ziarahnya ke makam Taufik Kiemas, suami Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarno putri itu pun merupakan ziarah politik, kemungkinan maksudnya untuk mengambil hati Megawati untuk ikut mendukung, memberi support, agar Jokowi mau menjadikan dia cawapres-nya Jokowi.

Pertanyaannya adalah kenapa Muhaimin tidak ziarah ke makam Gus Dur, pendiri PKB, dan pamannya sendiri?

Jawabannya, diduga karena ia tahu, Gus Dur tidak suka dengannya sampai akhir hayatnya. Gus Dur sangat kecewa dan sakit hati terhadap keponakannya itu, karena sekitar sepuluh tahun lalu, demi menguasai PKB sampai tega berseteru, memperkarakan di pengadilan, dan menyingkirkan Gus Dur dari PKB, yang nota bene adalah pendiri PKB, dan pamannya sendiri.

Muhaimin pernah menyangkal bahwa ia pernah berseteru dengan Gus Dur gara-gara memperebutkan PKB, ia menuduh pihak keluarga Gus Dur yang tidak suka kepadanya, oleh karena itu  mereka mengrekayasa seolah-olah perseteruan itu terjadi, padahal tidak, meskipun berperkara di pengadilan soal PKB, hubungannya dengan Gus Dur tetap baik.

Atas tuduhan Muhaimin itu, pihak keluarga Gus Dur sampai pernah mengadakan konferensi pers untuk merespon tuduhan Muhaimin itu.

Pada 8 April 2014, di Jalan Kuningan Timur Nomor 12, Jakarta Selatan,  konferensi pers itu diadakan oleh pengacara keluarga Gus Dur, Pasang Haro Rajagukguk. Pada kesempatan itu ditegaskan bahwa pihak keluarga menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa perseteruan itu nyata terjadi sampai Gus Dur meninggal dunia, dan bahwa tuduhan Muhaimin tentang rekayasa itu, merupakan tuduhan yang keji.

"Saya menegaskan konflik itu ada sampai ia (Gus Dur) wafat. Itu pernyataan (dari kubu Muhaimin) direkayasa, diada-ada, keji, baik kepada Gus Dur, keluarga dan Gusdurian," demikian antara lain pernyataan yang dibacakan oleh Pasang Haro Rajagukguk ketika itu.

Alisa Wahid, salah satu putri Gus Dur, menulis di blog pribadinya, 6 April 2014 mengenai pengalaman pribadi dia terkait perseteruan ayahnya dengan Muhaimin, bagaimana sikap Gus Dur terhadap Muhaimin saat itu, yang menunjukkan ketidaksukaan Gus Dur terhadapnya.

Sebagaimana dikutip dari detik.com, Alissa menuturkan, ketika itu kubu Muhaimin pernah meminta dia menjembati islah antara Muhaimin dengan Gus Dur.

Alissa menyaksikan sendiri bagaimana sikap Gus Dur terhadap Muhaimin, ketika Muhaimin bersama istrinya, Rustini,  datang ke rumah Gus Dur di Ciganjur, Gus Dur sama sekali tidak menganggap Muhaimin. Semua upaya Muhaimin mengajak berbicara dengan Gus Dur, tidak pernah ditanggapi sama sekali. Gus Dur hanya melayani percakapan dengan Rustini.

Gus Dur juga secara terang-terangan menolak kedatangan Lukman Eddy ke Ciganjur. Lukman Eddy adalah Sekjen PKB versi kepemimpinan Cak Imin. "Sebagai orang yang blak-blakan, (saya) mengingat bagaimana Gus Dur bersikap bahkan kepada 'musuh-musuh' politiknya, respons Bapak saat itu amat sangat jelas: tidak suka bertemu dengan mereka," demikian tulisan Alissa .

Pada 2008, saat proses hukum perselisihan antara PKB Muhaimin melawan PKB Gus Dur sedang bergulir di pengadilan, (mungkin karena sakit hatinya), Gus Dur terjatuh di kamar mandi, ternyata ia menderita stroke ringan.

Gus Dur sangat kecewa dengan pernyataan orang-orang PKB versi Muhaimin di sidang Pengadilan Tata Usaha Negara yang menyatakan lebih senang Gus Dur tidak di PKB. "Orang-orang ini saya yang bawa masuk politik, kok tega, ya, mereka ngomongbegitu tentang saya, Man," ucap Gus Dur kepada Sulaiman, ajudannya.

Puncaknya adalah ketika Mahkamah Agung menyatakan gugatan PKB Gus Dur ditolak dan menyatakan PKB yang sah adalah hasil Muktamar Semarang dengan Ketua Umum Muhaimin Iskandar, dan Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro. Muhaimin tetap berkantor di Menteng, tidak lagi di DPP PKB Kalibata, tempat biasa Gus Dur ngantor. Kondisi kesehatan Gus Dur pada 2009 itu makin buruk.

Gus Dur sampai mengumpulkan amplop-amplop bela rasa dan urunan biaya perawatan. Uang yang disimpan di laci kantor PBNU itu hendak digunakan Gus Dur untuk menggelar lagi muktamar PKB.

"Bapak sedang mengumpulkan uang untuk muktamar PKB, Nak. Imin nggak bisa dibiarkan terus-menerus," ucap Gus Dur seperti ditirukan Alissa. Gus Dur juga beberapa kali bercerita, PKB tak boleh dipegang Cak Imin.

Karena itu, Alissa pun meminta Muhaimin tidak mengait-ngaitkan PKB versinya dengan Gus Dur. Tidak diperkenankan pula memakai simbol-simbol Gus Dur untuk kepentingan menarik suara dan kekuasaan.

"Hanya ingin mendapatkan dukungan dari pencinta Gus Dur, tega sekali orang-orang ini menyebarkan narasi yang justru menghina karakter Gus Dur. Tega sekali menjual nama Gus Dur sedemikian rupa hanya untuk kepentingan sesaat, yang tentu saja tidak bisa dibawa mati," kata Alissa

Sejak terjatuh di kamar mandi, dinyatakan menderita stroke ringan, penyakit Gus Dur kian parah, sampai terpaksa dirawat di rumah sakit, sampai akhirnya meninggal dunia pada 30 Desember 2009.

Pihak keluarga Gus Dur sudah sejak 2009, berkali-kali mengingatkan Muhaimin agar jangan pernah lagi membawa-bawa nama besar Gus Dur, kenyataannya hal itu berkali-kali dilanggar, baik di pemilu 2009, maupun di pemilu 2014, dan kini terulang dari di masa menjelang pemilu 2019.

Bahkan yang sekarang lebih spesifik lagi, fokus pada sosok Muhaimin Iskandar, yaitu untuk mencapai cita-citanya menjadi cawapres Jokowi, untuk mendapat dukungan sebanyak-banyaknya, ia kembali membawa-bawa nama besar Gus Dur, kali ini ajaran Gus Dur yang juga dikenal dengan nama Gus Durian. Ajaran Gus Dur itu dipadu dengan ajaran Soekarno (untuk mendapat dukungan dari PDIP), dan konsep perpaduan itu diberi nama  "Sudurisme", berasal dari kata Soekarnoisme dan Gus Durianisme.

Terkait dengan itu, Alissa Wahid pun kembali menyatakan keberatan keluarganya atas sikap Muhaimin yang lagi-lagi membawa-bawa nama Gus Dur itu. Kali ini diutarakan lewat akun Twitter-nya, @AlisassaWahid.

Alissa antara lain mengatakan, pihaknya tidak keberatan ajaran Gus Dur itu dijadikan dasar gerekan, tetapi dijadikan instrumen kampanye, tidak layak. (Karena itu hanya demi kepentingan pribadi).

Muhaimin dan kawan-kawannya di PKB hanya memanfaatkan ajaran Gus Dur untuk kepentingan politik Muhaimin, sedangkan di masa-masa biasa, bukan di tahun politik seperti sekarang ini, ajaran Gus Dur tidak pernah dibiacarakan, apalagi dipraktikkan.

Ketika pihak minoritas ditindas, dipersekusi, di manakah mereka dengan ajaran Gus Dur, padahal salah satu ajaran Gus Dur itu adalah selalu berbicara dan berupaya membela hak-hak mereka, sebagaimana pernah dilakukan oleh Gus Dur di masa hidupnya.

Berikut cuitan-cuitan @AlissaWahid di akun Twitter-nya tentang penggunaan ajaran Gus Dur oleh Muhaimin untuk mencapai cita-citanya menjadi cawapres Jokowi:

(Twitter)
(Twitter)


(Twitter)
(Twitter)

(Tangkapan layar Twitter Alissa Wahid)
(Tangkapan layar Twitter Alissa Wahid)

Dengan dasar sejarah perseteruan Muhaimin Iskandar dengan Gus Dur seperti itu, dan hubungannya dengan keluarga Gus Dur sampai sekarang ini, apakah mungkin Jokowi yang sangat menghormati Gus Dur dan keluarganya itu akan mau menerima Muhaimin sebagai cawapres-nya?

Bila dengan Gus Dur saja, Muhaimin bisa bersikap begitu demi mendapat PKB, apalagi dengan Jokowi kelak?

Demi Cawapres, Muhaimin Melawan Realitas?

Apapun yang terjadi, bagi Muhaimin Iskandar alias Cak Imin itu menjadi cawapres Jokowi rupanya sudah menjadi harga mati, maka itu, apapun yang terjadi, setelah tak sabar lagi menunggu kepastian dari Jokowi, Muhaimin malah melangkahi Jokowi, dengan mengdeklarasikan dirinya sebagai cawapres Jokowi, sekalipun mengdeklarasikan pasangan "Jokowi-Muhaimin," atau "Jokowi-Cak Imin", dan mulai disosialisasikan.

Menurut pengakuan Muhaimin, ia telah diberi izin oleh Jokowi untuk melakukan branding pasangan capres-cawapres 2019-2024: Jokowi-Muhaimin, termasuk menggunakan foto Jokowi (detik.com).

Dengan demikian, untuk mencapai cita-cita tingginya itu, Muhaimin telah menggunakan tiga nama besar, yaitu: Soekarno, Gus Dur, dan Jokowi.

Apakah benar Jokowi telah mengizinkan Muhaimin untuk melakukan branding "Jokowi-Muhaimin" atau "Jokowi-Cak Imin", sebagaimana diakui oleh Muhaimin?

Kebenaran terhadap klaim Muhaimin ini patut diragukan, yaitu berdasarkan pernyataan Jokowi sendiri bahwa cawapres dia belum bisa ditentukan dalam tempo dekat ini, karena masih harus berdiskusi dengan semua partai pendukung, tentu saja keputusan akhirnya juga ada di tangan PDIP, tepatnya Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Jadi, bagaimana bisa, Jokowi malah memberi izin kepada Muhaimin untuk branding dan menyosialisasikan pasangan "Jokowi-Muhaimin", atau "Jokowi -- Cak Imin"?

Namun demikian, rupanya Muhaimin sudah pantang mundur, untuk ngototterus menjadi cawapres Jokowi, sekalipun itu harus melawan realitas, menyandera dan melangkahi Jokowi sendiri.

Maka, pada 6 April 2018, Muhaimin Iskandar pun meresmikan posko relawan Cak Imin, yang disingkat CINTA: "Cak Imin untuk Indonesia". Posko ini akan diperbanyak PKB dan pendukung Anies,  di seluruh Indonesia.

Setelah posko CINTA diresmikan, pada 10 April 2018, Muhaimin pun meresmikan lagi posko yang diberi nama "Posko JOIN," singkatan dari "Jokowi -- Muhaimin", di Kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

"Saya nyatakan PKB pada Pilpres 2019 mendatang akan mengusung pasangan Pak Jokowi dan Muhaimin Iskandar yang oleh sahabat Ancu (sapaan akrab Usman Sadikin) disebut pasangan JOIN."

"Semoga Allah memberi kekuatan, semoga Allah memberi kesuksesan, insyaallah JOIN yang akan menang pada 2019 mendatang," katanya mantap, seolah-olah Jokowi sudah menentukannya sebagai cawapres.

Dengan deklarasinya sebagai cawapres Jokowi itu dapat dikatakan bahwa Muhaimin sedang melawan realitas. Realitanya adalah sampai hari ini Jokowi bersama partai-partai pendukung belum juga memberi tanda-tanda apa lagi memilih siapa cawapres yang akan mendampingi Jokowi di Pilpres 2019, tetapi Muhaimin, PKB dan para pendukungnya justru sudah mengdeklarasi terlebih dahulu, lengkap dengan segala macam atributnya.

Deklarasi itu juga bisa dimaknai bahwa Muhaimin dan PKB sengaja melakukan hal itu untuk membentuk posisi tawar (bargaining power)  yang kuat untuk "memaksa" Jokowi memilih Muhaimin sebagai cawapres dia.

PKB melawan logika dengan bukan mengdeklarasi dukungan mereka terhadap pen-capres-an Jokowi terlebih dahulu, tetapi malah mengdeklarasi Muhaimin lebih dulu sebagai cawapres Jokowi, dengan "ancaman" tersirat jika Jokowi tidak memilih Muhaimin Iskandar, maka deklarasi itu dibatalkan, demikian juga dengan dukungan PKB terhadap Jokowi. Mereka akan mengalihkan dukungannya kepada Prabowo, padahal sebelumnya disebutkan bahwa dukungan terhadap Jokowi-Muhaimin itu harga mati bagi PKB.

Ternyata, "harga mati"itu  bisa diubah-ubah sesuai kehendak. Begitulah ciri politikus oportunisme, yang hanya ingin bisa memenangkan pemilu saat ini supaya bisa menikmati dan memanfaatkan kekuasaan sekarang juga. 

Seorang teolog Amerika Serikat, James Freeman Clarke (1810-1888) pernah mengatakan: 

“Perbedaan antara seorang politisi dan negarawan adalah politisi hanya memikirkan tentang pemilihan umum, sementara negara­wan memikirkan generasi akan datang.”

Karikatur Majalah Tempo
Karikatur Majalah Tempo

                                                                                                                                                         

                                                                                                                                                       *****