Mohon tunggu...
Danang Hamid
Danang Hamid Mohon Tunggu... Freelance, father of three and coffee

Voice Over Indonesia Talent, Radio, Father of three and Black coffee

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Warga Tawang Banteng, Tasikmalaya: "Air Keruh, Eta Herangkanlah!"

20 Agustus 2017   00:37 Diperbarui: 20 Agustus 2017   17:36 3474 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Warga Tawang Banteng, Tasikmalaya: "Air Keruh, Eta Herangkanlah!"
dokumentasi pribadi

Masyarakat Desa Tawang Banteng, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya memilih caranya sendiri dalam memperingati HUT ke-72 RI, pada Kamis (17/8) lalu.

Dengan mobil bak terbuka, merekamembawa seperangkat sound system sebagai pengeras suara, aquarium berisi air keruh yang diangkut menuju lapangan Kudang Sukaratu, tempat upacara hari kemerdekaan dilaksanakan.

Dengan melewati jalan raya sekitar Tawang Banteng, Sukaratu, air keruh berlumpur mereka pamerkan dan diarak beriringan dengan peserta karnaval lainnya dari delapan desa di wilayah Kecamatan Sukaratu.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Kehadiran kontingen Desa Tawang Banteng ini cukup menyita perhatian masyarakat yang tumpah ruah di jalan desa, menyaksikan tradisi pawai dengan aneka polah serta kreativitas masing-masing, hajat karnaval agustusan di desa yang benar-benar sederhana ini menjadi berbeda dari biasanya.

Meski sebagian kaum ibu yang awalnya bertanya-tanya mengapa mobil dari Desa Tawang Banteng ini memamerkan air keruh dalam plastik yang digantung pada ranting-ranting bambu bersama akuarium, sementara desa lainnya mengarak hasil bumi alakadarnya seperti petai china, sayuran hijau dan lain-lain, menyertakan anak-anak didik dan santri dari lembaga pendidikan yang mereka punyai, kostum dan kendaraan modifikasi, gaya lelaki jadi seolah perempuan (masih ada saja karnaval model begini) dan berbagai Jampana.

Dokpri
Dokpri
Dalam kesederhanaan karnaval Agustus kali ini, sebagian masyarakat desa merasa terampas haknya mendapatkan air bersih dan layak digunakan untuk berbagai kebutuhan hidup seperti kebutuhan pertanian dan kolam ikan hingga mandi dan mencuci.

"Air Keruh Mengganggu Kemerdekaan Kami." Begitulah kalimat yang terpampang di bagian belakang mobil bak terbuka yang mereka tumpangi

"Kami meminta perhatian dari pemerintah untuk masalah air ini, bertahun-tahun tak pernah mendapatkan penanganan, air keruh, berlumpur, budi daya ikan dan pertanian tidak bisa maksimal, kami mengajak agar persoalan ini diselesaikan bersama-sama!" ujar Sang Orator bertelanjang dada dengan kulit berbalut lumpur dari atas mobil bak terbuka menyampaikan aspirasinya.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Masyarakat Desa Tawang Banteng merasa seolah-olah pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan pengusaha tambang pasir yang berlokasi di beberapa desa di bawah kaki Gunung Galunggung mengabaikan hak-hak mereka sebagai warga yang secara turun temurun merupakan penduduk setempat yang mengandalkan perekonomian dari ketersediaan sumber daya air yang layak dan bersih.

"Coba aja lihat di daerah kidul, Tawang Banteng, Cibanjaran, Ciponyo dan sekitarnya airnya kiruh, seueur leutakan, tani atau nanam ikan juga nggak bakal bener," Jelas Muhaemin (38) warga Desa Sinagar, "Nggak sampai berbulan-bulan leutak di balong bisa satuur. Lebih dalamnya," imbuh dia.

Gunung Galunggung yang pernah meletus pada 5 April, 1982 memberikan berkah tersendiri bagi ketersediaan pasir yang berkualitas untuk kebutuhan pembangunan, bahkan sejak jaman Orde Baru, kala itu kereta api pengangkut pasir bisa sampai ke Cibanjaran dengan rel yang sengaja dibangun membentang mulai dari Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya.

Adanya perusahaan tambang pasir yang berlokasi di hulu-hulu sungai menjadikan air sungai di bagian hilir menjadi tercemar oleh lumpur galian pasir, terjadi bertahun-tahun lamanya sejak pasir Galunggung dieksploitasi.

"Jangan karena perusahaan memberikan sumbangan untuk PAD, masyarakat yang lain dirugikan, apa lagi bagi warga Kabupaten Tasikmalaya sekitar sini, air itu vital sekali!" ungkap Agus (33), warga yang turut hadir menjelang upacara HUT RI ke-72 Tingkat Kecamatan Sukaratu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN