Mohon tunggu...
mohammad mustain
mohammad mustain Mohon Tunggu...

Memotret dan menulis itu panggilan hati. Kalau tak ada panggilan, ya melihat dan membaca saja.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Tirto Tersandung Hoaks Pelegalan Zina

18 Maret 2019   16:01 Diperbarui: 18 Maret 2019   16:12 2444 17 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tirto Tersandung Hoaks Pelegalan Zina
Tangkapan layar meme tirto.id

,

Entah apa yang sebenarnya terjadi di tubuh redaksi tirto.id sehingga bisa membuat kesalahan fatal terkait hoax pelegalan zina. Redaksi portal berita itu memang telah meminta maaf secara terbuka dan menjelaskan kronologi kesalahan mereka dan upaya menghapus postingan yang sudah telanjur tersebar di medsos. Namun pertanyaan tentang kinerja redaksi tirto.id sehingga terjadi kesalahan seperti itu belum terjawab.

Kasus ini terjadi Minggu malam kemarin saat portal berita mengadakan lliputan langsung acara debat cawapres yang diantaranya mereka wujudkan berupa meme yang diunggah di Twitter. Salah satu meme menggambarkan KH Ma'ruf Amin, dengan ditambahi kutipan ucapan di acara debat itu, tetapi yang ditulis di situ hanya frase "zina (bisa) dilegalisir".

Tanpa perlu banyak berpikir, orang akan menilai KH Ma'ruf Amin berucap "zina (bisa) dilegalisir". Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Frase itu hanya penggalan dari kalimat yang panjang. Lengkapnya, seperti ditulis tirto.id sendiri,

"Kami juga mengajak kita semua untuk melawan dan memerangi hoaks. Karena hoaks merusak tatanan bangsa indonesia. Melawan dan memerangi fitnah, seperti kalau Jokowi terpilih kementerian agama dibubarkan, kementerian agama dilarang, azan dilarang, zina dilegalisir. Saya bersumpah demi Allah, selama hidup saya akan saya lawan upaya-upaya untuk melakukan itu semua."

Penjelasan tirto.id kurang lebih sama seperti itu juga.  [1]    Hanya saja tidak ada penjelasan mengapa sebuah kalimat panjang bisa berubah seperti itu. Meme tirto.id  jadinya seperti membenarkan hoax pelegalan zina dan LGBT jika Jokowi menang pilpres. Padahal maksud KH Ma'ruf Amin adalah mengklarifikasi hoax itu.

Memang tirto.id telah mengganti kalimat dalam meme tersebut  menjadi:

"Kami juga mengajak kita semua melawan dan memerangi hoaks, fitnah [...] seperti zina dilegalisir".

Meme revisi juga disertai kalimat  :

"Visual ini memperbaiki kekeliruan sebelumnya yang memotong konteks ucapan Maruf Amin yang hendak mengklarifikasi hoaks. Tirto meminta maaf atas kekeliruan tersebut."

Klarifikasi ini dilakukan pukul 23.53 . Entah sudah berapa lama selang waktu dari tweet meme sebelumnya. Demikian juga berapa ribu netizen yang telah menikmati meme hoax sebelumnya.

Tirto.id juga mengaku khilaf terkait meme lain yang menggambarkan Sandiaga Uno dengan kutipan:

Janji Sandiaga Uno, "Kami akan hapuskan UN", 

divisualkan dalam bentuk meme sembari dikomentari dengan kalimat: 

"Eh...? Kirain apus NU".

Komentar itu oleh tirto.id, dalam permintaan maafnya, disebut:

"Komentar itu bukan hanya tidak perlu, melainkan juga insensitif dengan peran NU dalam konteks sosial di Indonesia." Tweet ini telah dihapus.

Tirto.id memang telah meminta maaf kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf khususnya KH Ma'ruf Amin, TKN, para pendukung pasangan 01, publik, nahdliyyin, juga PBNU. Tetapi tetap saja ada yang mengganjal dan perlu penjelasan, mengapa hal itu bisa terjadi. Hal itu semata karena kesalahan teknis atau ada faktor interes pribadi di dalam tim tirto.id.

Berhentilah Bermain Hoax Pelegalan Zina dan LGBT

Fakta menunjukkan hoax tentang pelegalan zina dan LGBT jika Jokowi-Ma'ruf menang pilpres, sudah jadi materi kampanye hitam pendukung Prabowo-Sandi. Kita tidak tahu seberapa besar pengaruh isu ini di masyarakat pemilih karena belum pernah ada penelitian yang dilakukan terkait isu ini.

Meskipun demikian, jika yang jadi objek kampanye hitam ini masyarakat di akar rumput yang miskin informasi, pengaruhnya tentu bisa signifikan. Isu seks bebas dan LGBT adalah isu sensitif dan sangat mudah memancing emosi masyarakat. Terlebih lagi masyarakat yang religius di pedesaan yang masih memegang teguh norma dan adat yang normal.

Jika dilihat dari sudut pandang Itu, kampanye dengan tema ini bisa efektif untuk menjatuhkan lawan politik dan meraih dukungan. Dan, jika melihat tren pemanfaatan berita hoax dalam pilpres kali ini, yang diwarnai strategi semburan dusta dan kebohongan, penggunaan hoax pelegalan zina dan LGBT ini hanya salah satunya.

Fakta yang ada menunjukkan pelaku penyebaran hoax pelegalan zina dan LGBT jika Jokowi-Ma'ruf menang pilpres, beragam. Kasus di Karawang misalnya, melibatkan emak-emak anggota relawan Pepes pendukung Prabowo-Sandi. 

Sementara yang berlatar belakang tokoh agama dan ada yang tercatat sebagai jurkam nasional BPN Prabowo-Sandi, ada nama Tengku Zulkarnain. Di Kalibaru, Banyuwangi, yang pidato di masjid dengan topik hoax serupa, juga seorang ustadz. Namanya Supriyanto. Kedua orang ini sudah minta maaf dan mencabut ucapannya.

Terakhir, seorang ketua DPP PAN yang jadi caleg di Dapil Banten II, Yandri Susanto dihujat rame-rame di medsos karena ada video berdurasi 30 detik yang memperdengarkan pidatonya, menyinggung upaya pelegalan LGBT juga. Dia bicara isu pelegalan LGBT itu dalam acara pelatihan saksi dan relawannya di Baros, Kabupaten Serang.

Yandri memang telah membantah bahwa dia menuduh seseorang, pihak, atau parpol yang akan melegalkan LGBT. Sayangnya video utuh pidatonya yang katanya satu jam itu tidak disertakan. Meskipun begitu, pembicaraan di video berdurasi 30 detik yang viral itu sudah membuktikan dia menggunakan isu pelegalan LGBT. 

Dari beberapa kasus itu, sulit untuk menyebut hoax pelegalan zina dan LGBT jika Jokowi-Ma'ruf menang pilpres itu sebagai kasus insidental. Melihat beragamnya latar belakang penyebar hoax itu, seolah membuktikan hoax sengaja disebar bukan lagi melibatkan orang per orang. Tujuannya jelas, menjatuhkan pasangan Jokowi-Ma'ruf.

Karena itulah, ketika tirto.id melakukan kesalahan dan meminta maaf, terkait meme yang menyudutkan KH Ma'ruf Amin tadi, saya teringat hal ini. Tentu wajar juga jika saya mempertanyakan intererest pribadi anggota tim tirto.id dalam perhelatan pilpres kali ini. Soal minta maaf sih wajar, Tengku Zulkarnain juga melakukan hal yang sama.

Terkait persoalan hoax pelegalan zina dan LGBT ini, meski para pelaku yang telah terungkap adalah para pendukung pasangan 02, saya tetap menghargai bantahan BPN Prabowo-Sandi bahwa mereka tidak menggunakan kampanye hitam. Mereka menyatakan ingin menang secara bermartabat. Itu pernyataan mereka saat kasus emak-emak Pepes dulu.

Walaupun, ada tanda juga karena ada juga anggota BPN yang membela ketiga anggota relawan Pepes itu, dengan menyebut ketiga emak itu tidak menyebar hoax. Mereka hanya mengungkapkan kekhawatiran. Khawatir kok disosialisasikan.

Saya sempat punya penilaian subjektif bahwa munculnya hoax pelegalan zina dan LGBT ini seperti "menggantikan" hoax tentang PKI yang pernah dilontarkan untuk mendiskreditkan Jokowi sejak Pilpres 2014 lalu. Isu PKI adalah isu yang sensitif juga yang bisa dengan cepat mempengaruhi sikap masyarakat kita yang terjajah secara emosional oleh perkara ini sejak Orba berkuasa.

(Sebenarnya kalau disebut "mengganti" dalam pengertian total atas hoax PKI itu tidak tepat juga. Sebabnya, hoax tentang PKI itu masih muncul di medsos dan masyarakat. Hanya saja, melihat Jokowi dan pendukungnya yang begitu gigih melawan hoax ini, akhirnya hoax PKI mungkin dinilai kurang efektif lagi sehingga dimunculkan hoax LGBT ini.)

Namun, bisa juga hoax pelegalan zina dan LGBT ini sebagai upaya miembelokkan isu yang sebelumnya marak terkait orientasi seksual, skandal seks, dan gaya hidup yang sempat menyasar kubu lawan politik Jokowi. Lihat saja betapa riuhnya saat beberapa akun di  medsos jika bicara isu ini.

Masyarakat bisa saja menilai seperti itu berkaca pada hoax sebelumnya. Jokowi disebut china, anti Islam,  kenyataannya justru sebaliknya. Masih ada beberapa contoh lain yang menunjukkan hal serupa.

Kembali ke soal hoax pelegalan zina dan LGBT. Lepas dari sebab hoax ini dipilih sebagai materi kampanye untuk menyerang Jokowi-Ma'ruf, ini adalah bentuk kampanye hitam yang keji dan tentunya perlu dilawan bersama. Secara hukum, penyebaran fitnah seperti ini bisa terancam hukuman cukup berat, 6 tahun penjara berdasarkan UU ITE Pasal 28 ayat 2.

Berhentilah menyebar hoax, jangan lagi berkilah dan berbasa-basi. Jangan hanya gara-gara ingin menang pilpres, bangsa ini hendak kau pecah belah dengan fitnah yang keji.

Salam waras saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x