Mohon tunggu...
Daffa Rizqi Prayudya
Daffa Rizqi Prayudya Mohon Tunggu... Penulis

Perkenalkan saya Daffa seorang penulis. Saya menulis untuk menjelaskan fenomena - fenomena ekonomi dan mencoba menjelaskan dengan bahasa yang mudah. Saya merupakan sarjana ekonomi Universitas Diponegoro

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Kurva Kuznets : Sisi Lain dari Penghapusan Premium dan Pertalite

1 Juli 2020   15:38 Diperbarui: 1 Juli 2020   16:59 59 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kurva Kuznets : Sisi Lain dari Penghapusan Premium dan Pertalite
Sumber : paper.id diolah penulis

Akhir -- akhir ini, terdapat wacana pemerintah untuk menghapus BBM berjenis premium dan pertalite. Pemerintah menghapus jenis BBM tersebut agar kendaraan menjadi lebih ramah lingkungan. Selain itu, pengaturan baku mutu emisi gas buang telah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O atau yang lebih dikenal dengan Standar Emisi Euro IV. Sehingga BBM yang memiliki nilai oktan dibawah 91 seperti premium dan pertalite perlu dihentikan penggunaannya (Kontan, 2020)

Sekilas kebijakan tersebut memiliki dampak yang kurang menyenangkan bagi masyarakat, terkhusus dari segi konsumsi. Hal tersebut dikarenakan BBM berjenis premium dan pertalite merupakan BBM yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Tertekannya konsumsi masyarakat berpotensi menurunkan permintaan kendaraan bermotor dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, perubahan penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan merupakan salah satu indikator kemajuan suatu negara jika melihat dari kurva kuznets. Artikel ini akan membahas lebih lanjut terkait dengan sisi lain dari penghapusan BBM berjenis premium dan pertalite

Kurva Kuznets Lingkungan

Kurva Kuznets Lingkungan menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi pada awalnya mengarah pada kerusakan lingkungan, namun masyarakat akan mulai peduli terhadap lingkungan saat tingkat petumbuhan mencapai titik tertentu (Pettinger, 2019). Hal tersebut dikarenakan teknologi berkembang seiring dengan bertumbuhnya perekonomian, sehingga ketika telah mencapai pertumbuhan tertentu, maka teknologi yang dikuasai dapat menjadi lebih ramah lingkungan. Dalam artikel ini, teknologi yang dimaksud adalah bahan bakar dengan kadar timbal yang lebih rendah.

Sumber : https://www.economicshelp.org/blog/14337/environment/environmental-kuznets-curve/ 
Sumber : https://www.economicshelp.org/blog/14337/environment/environmental-kuznets-curve/ 

Beberapa penelitian juga pernah dilakukan untuk membuktikan fenomena kurva kuznets lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Hilton & Levinson (1998) dengan sampel 48 negara selama 20 tahun menunjukan bahwa penurunan emisi pada kurva tersebut memiliki ketergantungan terhadap pengurangan kadar timbal bensin. Penurunan kadar timbal bensin akan mengurangi emisi yang ditimbulkan.

Kemudian  Gallagher (2003) menemukan bahwa Cina mulai mengadopsi standar Uni Eropa untuk emisi polusi dari mobil dengan jeda waktu sekitar delapan hingga sepuluh tahun. Pengadopsian standar tersebut merupakan upaya pemerintah Cina untuk menurunkan tingkat emisi. Penelitian oleh Koilo (2019) yang dilakukan di negara Eropa Timur dan Asia Tengah juga membuktikan teori pada kurva kuznets lingkungan tersebut.

Namun, terdapat kritik yang menjelaskan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi tidak menurunkan emisi dan tetap meningkatkan emisi. Seperti penelitian yang dilakukan oleh He (2007) bahwa negara berkembang tidak mengikuti kurva kuznets lingkungan. Hal tersebut dikarenakan institusi di dalam negara tersebut belum memiliki upaya yang serius di dalam menurunkan emisi

Keterkaitan Kurva Kuznets dengan Kebijakan Ini

Penghapusan BBM berjenis premium dan pertalite bertujuan agar kendaraan bermotor menjadi lebih ramah lingkungan. Kebijakan tersebut merupakan suatu langkah untuk mengurangi kerusakan lingkungan yang beriringan dengan perekonomian yang lebih maju. Kemajuan perekonomian suatu negara dapat mendorong kemajuan teknologi pada industri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN