Mohon tunggu...
M Daffa Rafiecena
M Daffa Rafiecena Mohon Tunggu... Memberi inspirasi bukan sensasi

Lahir di Jakarta, traveler, culinary and movies lover, Mahasiswa Hukum, Sedang menata masa depan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

No Lockdown = Pembunuhan Massal?

30 Maret 2020   22:34 Diperbarui: 31 Maret 2020   09:38 108 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
No Lockdown = Pembunuhan Massal?
metro.co.uk

China sebagai negara mengumumkan wabah Covid-19 pertama perlahan-lahan membaik kembali meskipun tetap waspada karena terjadinya pandemi Covid-19 hampir belahan dunia tak terkecuali Indonesia atas minimnya persiapan. 

Saat ini China bukan lagi tercatat dalam kasus tertinggi melainkan Amerika Serikat setelah sempat diduduki Italia, kemungkinan besar Indonesia bisa jadi memiliki jumlah lebih dari itu, mengingat geografis yang luas, demografi yang besar, disertai fasilitas dan tenaga medis kurang memadai, pelaksanaan kedisiplinan masyarakat yang sulit, dan tingkat kematian terbesar didunia setelah dari jumlah yang melebihi pasien yang sembuh.

Jujur saya kecewa terhadap negara sekarang dalam menghadapi bencana Covid-19 ini dengan kinerja yang dilakukan Presiden beserta kabinetnya terutama Menkes dirasa kurang meyakinkan membuat kita sebagai masyarakat semakin panik dan cemas, apalagi pyshical distancing terasa longgar karena sebagian kita mengesampingkan kedisiplinan yang sebenarnya menjadi kunci utama tanpa tindakan yang berlanjut.

Jika dilihat sepintas pasukan tenaga medis dengan siap bertarung layaknya adegan terakhir Endgame justru satu persatu mati syahid saat bersusah payah menjalankan tugas berbahaya ini dengan jumlah tenaga dan APD yang kurang sehingga cepat tertular setelah kontak langsung dengan pasien Covid-19 yang semakin tak terkendali, walau tak sedikit juga selebritis hingga beberapa konglomerat memberi donasi dan bantuan impor dari luar negeri untuk meringankan sedikit beban dalam pertempuran ini.

Bukan tak mungkin kewalahan Indonesia dalam menghadapi Covid-19 membuat anak-anak mengurungkan niatnya menjadi dokter atas fenomena kematian lebih yang tinggi termasuk tenaga medis tersebut.

Hal membuat kita #dirumahaja semakin bete dan baper terhadap minimnya aksi kerja yang dilakukan pemerintah pusat dalam pandemi seperti ini, kenapa bisa terjadi?

Pemerintah pusat sudah menghimbau melakukan work from home dan pyhsical distancing untuk memutus mata rantai virus tersebut hanya saja kunci permasalahannya kedisiplinan susah diubah, hingga tidak diperlukan lockdown total meski banyak pihak mendorongnya karena dibilang cara paling efektif terutama Jabodetabek sebagai sumber penyebaran virus itu, bahkan penerbangan untuk WNA masih terbuka, informasi mengenai jumlah kasus sebenarnya masih simpang siur membuat kepanikan makin tinggi.

Berbeda dengan pusat, justru beberapa pemerintah daerah bisa dibilang sigap menangani bencana wabah tingkat nasional terutama gubernur Anies dengan memberi informasi dan fasilitas untuk relawan kemanusiaan meskipun bisa dibilang cara untuk memperbaiki namanya setelah dicap lawannya gagal menangani banjir awal tahun ini.

Soal lockdown, banyak pemda mengajukan hingga langsung menerapkan karantina wilayah walau harus terganjal dengan pusat yang seharusnya memberi kemudahan karena tingkatnya korban meninggal, kita sudah tahu siapa para Sengkuni dibalik itu semua.

Penerapan lockdown dianggap cara paling jitu saat pandemi, walau efek negatifnya masih terasa seperti ketimpangan sosial yang ekstrim dan tingginya kepanikan penduduk bagi negara yang belum memilki perencanaan cepat dan matang seperti di India yang masih menetapkan kasta baru-baru ini, rasanya negara kita cepat mengambil buruknya saja alasan takut matinya jalan perekonomian.

Korea dan Jerman dengan perekonomian dan teknologi yang mandiri mampu menghadapi wabah pandemi meskipun tanpa lockdown pun, rupanya Indonesia over pede masih mampu padahal kita juga lihat ketergantungannya terhadap asing, pada saat perang dagang pun Indonesia juga paling terkena dampak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN