Mohon tunggu...
Anton Da Karola
Anton Da Karola Mohon Tunggu... | tukang foto | tukang kliping

Citizen journalist from South Sumatera.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Perlukah Literasi Media Sosial untuk Guru?

15 November 2019   22:34 Diperbarui: 15 November 2019   23:57 0 2 1 Mohon Tunggu...
Perlukah Literasi Media Sosial untuk Guru?
fb-robbani-5dcec400d541df58c93d20f2.jpg

Sabtu (16/11/2019) pagi ini saya akan mengisi materi Optimalisasi Konten Media Sosial & Strategi Marketing. Kemungkinan besar peserta yang hadir adalah guru sekolah.

Apa sih, pentingnya acara ini buat guru? Apalagi kalau yang hadir guru Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Sepertinya kurang nyambung. Karena biasanya yang butuh pelatihan seperti ini adalah humas perusahaan, atau partai politik.

Saya berterima kasih sekali karena justru pihak Sekolah Islam Terpadu (IT) Robbani - Indralaya lebih paham dan mengundang saya. Saya bukan ahli tetapi praktisi, saya bisa karena biasa menggunakan berbagai platform media sosial untuk mengirim konten dan publikasi kegiatan. Tugas liputan seperti ini akan berat dilakukan jika seorang diri. Setidaknya butuh tiga orang untuk mendokumentasikan suatu acara: fotografer, videografer dan reporter.

Sering kita lihat wali murid yang berkerumun maju ke depan saat acara wisuda siswa-siswi TKIT, mereka ramai-ramai merekam tingkah anaknya yang maju ke atas panggung. 

Selain mengganggu hadirin, kadang juga bikin sewot panitia acara karena mereka sudah menyiapkan tim dokumentasi khusus. Wali murid yang telanjur maju, berusaha cuek sambil mundur teratur. Mereka merasa publikasi usai acara kurang gaungnya, terlalu lama jeda antara acara dengan publikasi. Belum lagi risiko bila ternyata durasi penampilan sedikit dan wajah anak tercinta lewat begitu saja.

Justru yang paling update, malah panitia atau peserta yang kebetulan iseng merekam. Mereka langsung upload ke akun media sosial saat itu juga. Hitung-hitung menambahkan status baru di media sosial masing-masing.

Hal seperti inilah yang kadang di luar perkiraan panitia, kecepatan dalam menyebarkan informasi, live/ siaran langsung yang bisa diambilalih oleh media sosial. Saya pernah mendapatkan dokumentasi acara perpisahan TK anak saya dalam bentuk CD dengan durasi nyaris sama dengan acara yaitu sekitar tiga jam tanpa sempat saya buka lagi karena kurang praktis dan laptop yang memakai CD semakin jarang.

Peran humas penting, tetapi lebih penting lagi jika banyak yang terlibat dalam civitas sekolah. Istri saya heran, karena kelas baru anak kedua kami di TK yang sama ternyata kurang informatif. Tak ada foto-foto kegiatan seperti sebelum-sebelumnya, bahkan agenda yang seharusnya diinfokan jauh-jauh hari malah diberitahu H-1. Walau ini bukan bagian tugas sebagai pengajar, karena waktu luang mereka sendiri sudah sangat terbatas tapi meningkatkan interaksi antara orang tua dengan kegiatan sekolah akan memberi efek secara tidak langsung.

Istri saya pernah ditanya oleh masyarakat sekitar sekolah tentang kelebihan sekolah tempat anak saya belajar, "Sama saja sih..." jawabnya polos. Padahal inilah kesempatan menjelaskan kepada khalayak luas bahwa pilihan ke sekolah tersebut bukan sembarangan. Ada kelebihan sekolah yang tidak bisa ditemukan di sekolah biasa dan ini hanya bisa dijawab oleh guru, serta stakeholder sekolah sehingga wali murid akan lebih mudah menyampaikan sendiri versinya.

Maka, perlu bagi para guru menambah literasi tentang media sosial sebagai jembatan atau strategi untuk mengajak orang tua di lingkungan sekolah untuk memprioritaskan anaknya sekolah disini meskipun bisa jadi mereka tinggal di tempat yang cukup jauh dari sekolah. Ini akan memudahkan tim marketing untuk bekerja. Dibanding sekolah negeri, sekolah swasta tentu lebih repot mengejar calon siswa-siswi baru. Nah, sudah masuk strategi marketing bukan? 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x