PRIADARSINI (DESSY)
PRIADARSINI (DESSY) karyawan swasta

penikmat jengQ, pemerhati jamban, penggila serial Supernatural, pengagum Jensen Ackles, penyuka novel John Grisham, pecinta lagu Iwan Fals, pendukung garis keras Manchester United ....................................................................................................................... member of @KoplakYoBand

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Lenyapnya Tahi Lalat Khatulistiwa

20 Januari 2015   22:53 Diperbarui: 2 September 2015   12:24 80959 1 3
Lenyapnya Tahi Lalat Khatulistiwa
1421743897147686703

 

Sebenarnya keputusan paling berat itu saat saya memutuskan untuk menghilangkan ciri khas yang sudah melekat di wajah saya sejak lahir, yaitu tahi lalat khatulistiwa. Alasannya karena 2 tahun terakhir ini sepertinya perkembangannya menjadi pesat. Bahkan yang tadinya kecil ikutan membesar.

 

Aslinya justru tahi lalat yang kecil di atas mulut itu sudah ada sejak lahir, cuma pas saya SMP, tiba-tiba tumbuh tahi lalat lagi dempet dengan yang kecil itu. Nah tahi lalat yang tumbuh belakangan ini terus membesar. Sudah berapa kali saya ke dokter, katanya selama nggak gatal dan nggak berubah warna nggak masalah.

 

Tapi 2 tahun terakhir ini yang kecil ikutan membesar dan mulai tumbuh bulu. Setiap ketemu saudara, pasti bilang kayaknya tahi lalatnya tambah besar. Dan ketemu saudara yang dokter, dia nyaranin ketauan dioperasi aja.

 

Singkat cerita, saya pun jadi khawatir, tadinya saya tidak berniat untuk menghilangkan ciri khas saya ini, cuma saya pikir-pikir saya harus mempertimbangkan juga masalah dampak kesehatannya. Karena kalau berubah menjadi ganas nanti malah jadi panjang urusannya.

 

Akhirnya saya mulai cari-cari info seputar cara paling aman dan efektif untuk menghilangkan tahi lalat. Pilihannya adalah operasi atau laser. Setelah saya timbang-timbang kayak paling gampang dilaser. Prosesnya kayaknya lebih simple.

 

Lalu pergilah saya ke klinik kecantikan yang paling top dan mempunyai fasilitas laser CO2. Pas saya ketemu dokter kecantikannya, kemudian dia bilang, “Wah lumayang gede ya dan dempet, ini kalau dilaser biaya kurang lebih Rp. 1.200.000”

 

Saya pikir yah nggak apa-apa lah dengan biaya segitu. Tapi terus dokternya melanjutkan, “Tapi kami tidak menanggung resikonya ya..”

 

“Maksudnya dok?”, saya mulai ragu.

 

“Bila sesudah dilaser ternyata tahi lalatnya ganas dan juga belum tentu akar-akarnya terputus total. Bisa jadi dia hidup kembali. Dan sepertinya tidak bisa sekali tembak. Saya sih sarankan lebih baik dioperasi di rumah sakit saja.”

 

Jadilah saya ke rumah sakit sekalian coba pakai kartu BPJS Kesehatan. Di rumah sakit prosedural pasien BPJS tidaklah rumit (untuk kisah selengkapnya, nanti saya tulis terpisah). Kemudian saya berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit dan kelamin.

 

Saat dokternya melihat tahi lalat saya dia cuma bilang, “oke ini saya rujuk ke dokter bedah saja ya.”

 

“Dok, kalau dilaser aja gimana dok?”, saya bingung kok dokternya udah langsung nyuruh ke dokter bedah.

 

“Nanti coba dibicarakan saja dengan dokter bedah, soalnya dia yang tau.”, dokternya melanjutkan.

 

Mungkin karena di rumah sakit umum atau karena itu hari sabtu, dokternya terkesan buru-buru. Jadi saya merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

 

Beberapa hari selanjutnya, saya pun pergi ke rumah sakit swasta. Menurut teman saya, sebaiknya coba konsultasi ke dokter bedah plastik. Nah di RS ini, saya bisa tanya-tanya banyak. Dokternya pun bilang, “saya tidak menyarankan untuk dilaser, karena akarnya takkan terputus total, bakalan tumbuh lagi. Jadi sebaiknya dioperasi.”

 

“Kalau dioperasi nanti ada bekasnya nggak dok? Terus proses yang harus saya lewati apa aja?”

 

“Karena besar dan tebal, jadi harus dibelek 3cm ke kiri dan 3cm ke kanan. Jadi kurang lebih bekasnya akan sepanjang 7cm. Hilangnya sekitar 1 sampai 1,5 tahun. Prosesnya cuma dibius lokal, kalau nggak punya penyakit gula, bisa langsung operasi, lamanya operasi sekitar 1 – 1,5 jam.”

 

Waduh saya mulai ragu, masak muka saya bakalan ada codetnya sepanjang 7cm selama 1,5 tahun?!! Udah kayak preman aja dong tampangnya. Lalu saya tanya biaya operasinya. Dokter minta saya ke suster untuk minta perhitungan biaya. Menurut dokter, di RS ini operasi wajib dilakukan di ruang operasi, sehingga ada biaya ruang operasinya. Kalau di RS lain tempat dia juga terdaftar sebagai dokternya, memperbolehkan dia bila melakukan operasi ringan di ruang prakteknya.

 

Sehingga ketika suster membawa perhitungan harga, lumayan juga untuk menghilangkan tahi lalat saya biayanya sekitar Rp. 6.600.000. Hmm.. Saya pikir ketahuan saya kembali ke RS Umum saja yang bisa menggunakan BPJS.

 

Di hari saya akan berangkat ke RS Umum untuk mendatangi dokter bedah. Sebelum berangkat saya iseng-iseng searching lagi di google, tentang pengalaman orang yang operasi tahi lalat. Eh malah ketemu website klinik tahi lalat tanpa operasi. Saya pun mulai searching ke sana sini, cari pengalaman orang-orang yang pernah menghilangkan tahi lalatnya di klinik tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3