Dyah Sulistiowati
Dyah Sulistiowati lainnya

Saya adalah seorang plegmatik sanguinis yang mencintai bahasa dan sastra!

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Kreasi Bahasa Indonesia: Penggunaan Kata Ulang Dwipurna Semakin Populer

24 September 2012   07:28 Diperbarui: 24 Juni 2015   23:49 1339 0 0

"Dy, kita nggak jadi pakai agen travel yang itu gegara senior yang pernah kerja sama dengan mereka bilang kalau manajemen acaranya kurang bagus."


Pertama kali saya mendengar kata "gegara" adalah ketika saya dan teman-teman saya sedang rapat Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dua tahun silam. Daerah yang akan kami kunjungi adalah beberapa media cetak dan siar di Bali. Seperti yang tertera pada kutipan di atas, salah satu teman saya mengucapkan kata "gegara". Saat itu saya berpikir, Gegara? Maksudnya "gara-gara" kali ya? Saya pun menanyakan hal itu kepada teman saya dan memang benar "gegara" yang baru saja ia ucapkan mengacu pada kata "gara-gara".

Saya pun mencoba menganalisis kecil-kecilan. Melihat asal-usulnya, kata "gegara" merupakan bentuk kata ulang dwipurna yang diambil dari kata ulang "gara-gara". Kata ulang dwipurna adalah bentuk kata ulang dimana bunyi vokal dari suku kata pertama direduplikasi (diulang) dengan mengubah bunyi vokal tersebut menjadi "e" seperti bunyi dalam kata "pelan" [1]. Biasanya kata ulang dwipurna digunakan pada kata ulang yang bermakna "banyak" atau "macam-macam", seperti "pohon-pohonan" menjadi "pepohonan" dan "batu-batuan" menjadi "bebatuan". Dwipurna juga biasa digunakan pada kata ulang semu--- kata dasar yang berbentuk kata ulang--- seperti "laki-laki" menjadi "lelaki".

Pada kasus "gegara", bisa disimpulkan bahwa teman saya menggunakan kata ulang dwipurna pada kata ulang semu "gara-gara" (gara-gara merupakan kata dasar, lihat KBBI). Teman saya mungkin ingin menghemat satu suku kata ketika berbicara sehingga terdengar lebih sederhana. Saat itu juga saya berpikir bahwa dia telah berkreasi dengan memaksimalkan penggunaan kata ulang dwipurna yang jarang digunakan pada kata "gara-gara".

Beberapa bulan kemudian, frekuensi penggunaan kata "gegara" di jurusan kami kian tinggi. Kini tidak hanya kata "gara-gara" saja yang dimodifikasi, tapi juga kata-kata lain seperti "teman-teman", "buku-buku", "tugas-tugas", "tiba-tiba", dan lainnya. Masing-masing dimodifikasi menjadi "teteman", "bebuku", "tetugas", dan "tetiba" . Penggunaan dwipurna ini biasa saya jumpai di forum diskusi kelas kami di Facebook dan dalam obrolan sehari-hari. Bahkan kini sering saya jumpai di linimasa Twitter, kata "gegara", "tetiba", dan bentuk kata ulang dwipurna lain sering digunakan oleh publik figur yang saya ikuti dan beberapa teman yang lain.

Terlepas dari apakah modifikasi tersebut contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, penggunaan dwipurna pada beberapa kata ulang merupakan bentuk kreasi dalam penggunaan bahasa Indonesia. Masyarakat makin mengenal beberapa aspek morfologi dalam bahasa Indonesia sehingga memungkinkan mereka untuk menggunakannya secara maksimal. Mungkin kita teringat beberapa kasus serupa dimana para penutur bahasa berkreasi dengan aspek morfologi bahasanya, seperti yang terjadi dalam bahasa Inggris. Kata "brunch" dan "smog" misalnya. Mereka adalah hasil gabungan dari dua kata; "brunch" yang terdiri dari "breakfast" dan "lunch" serta "smog" yang terdiri dari "smoke" dan "fog". Dengan menggabungkan dua kata tersebut, terciptalah makna kata baru. Dalam morfologi bahasa Inggris, penggabungan kata ini disebut blending.

Penggunaan kata ulang dwipurna yang belakangan ini populer membuat saya mengapresiasi bahasa Indonesia. Ini baru penggunaan kata ulang dwipurna yang membuat suatu kata dalam bahasa Indonesia terdengar menarik. Bagaimana dengan penggunaan beberapa aspek morfologi bahasa Indonesia yang lain? Dengan mengenal lebih dalam aspek-aspek bahasa Indonesia seperti aspek morfologi dan sintaksnya, kita bisa berkreasi dengan bahasa Indonesia. Menggunakan bahasa Indonesia secara kreatif membuat bahasa Indonesia menjadi lebih unik dan menarik. Tak menutup kemungkinan bila suatu saat banyak orang asing yang ingin mempelajari bahasa Indonesia karena keunikannya. Jadi tunggu apalagi, yuk kita mengenal lebih dalam dan berkreasi dengan bahasa Indonesia!

Referensi

[1] Keraf, Gorys. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Jakarta: Grasindo.