Mohon tunggu...
Cynthia Tulai
Cynthia Tulai Mohon Tunggu... ~seorang penulis pemula

Beautiful things don't ask for attention

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kecantikan yang Menyeluruh dan Utuh pada Wanita Menurut Sudut Pandang Kristen

4 Desember 2019   10:41 Diperbarui: 4 Desember 2019   10:51 0 0 0 Mohon Tunggu...

Kecantikan adalah hal alamiah yang diinginkan oleh setiap wanita. Bahkan sebagian wanita rela menggunakan begitu banyak waktu, usaha dan uang untuk mempercantik penampilannya. Tidak dipungkiri bahwa kecantikan wanita cenderung dinilai dari apa yang tampak oleh mata secara lahiriah atau kondisi fisik.

Menurut lembaga riset pemasaran Sigma Research, mengungkapkan, "Dari wawancara terhadap 1200 orang, lebih dari 40% mendefinisikan kecantikan berdasarkan kondisi fisik. Hanya 14,8% yang mendefinisikan kecantikan berdasarkan kepribadian yang menarik, sedangkan yang menganggap perilaku ramah sebagai cantik hanya 9,5%". Dari fakta tersebut dapat dikatakan bahwa kecenderungan orang menilai suatu kecantikan adalah dari tampilan secara lahiriah. Namun, sebaliknya pandangan Tuhan terhadap wanita adalah menyeluruh dan utuh.

Di dalam 1 Petrus 3:3-4, Petrus menekankan "manusia batiniah yang tersembunyi" sebagai daya tarik dan kecantikan sejati. Selain itu, Petrus juga menekankan "roh yang lemah lembut dan tentram" sebagai hal yang esensi bagi kecantikan batiniah wanita. Artikel ini dijelaskan dari 1 Petrus 3:3-4 menggunakan uraian yang diberikan oleh Matthew Henry. Melalui artikel ini, penulis menyimpulkan bahwa kecantikan wanita yang menyeluruh dan utuh adalah meliputi kecantikan lahiriah dan batiniah.

Dunia memberikan pandangan wanita mengenai konsep kecantikan. Dan seringkali konsep kecantikan itu menjadi suatu patokan bagi wanita untuk menilai kecantikan yang sesungguhnya. Menurut Lisa Glassford, konsep dunia menilai kecantikan kecantikan yaitu dari potongan tubuh yang sempurna, kulit yang bersih, gigi yang sempurna, memakai busana yang menarik, memiliki pergaulan yang tepat. Ini adalah konsep dunia yang memandang kecantikan adalah dari hal-hal lahiriah.

Apabila kita menyetujui konsep kecantikan tersebut, maka kita sudah masuk dalam perangkap kecantikan. Wanita seharusnya tidak terperangkap ke dalam konsep kecantikan yang sempit yaitu hanya melihat pada yang lahiriah saja. Sebab Tuhan menciptakan manusia adalah menyeluruh dan utuh, baik yang tampak di luar maupun di dalam.

Pada karya penciptaan-Nya Tuhan melihat bahwa apa yang diciptakan-Nya itu "sungguh amat baik" (Kejadian 1:31). Apa yang tampak dari ciptaan-Nya adalah dalam kondisi lahiriah dan ini berarti Tuhan menyukai keindahan. Maka, dapat dikatakan bahwa kecantikan lahiriah tidaklah berdosa. Namun oleh karena dosa, citra wanita yang dikehendaki oleh Tuhan telah menjadi rusak. Ketika manusia pertama, Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka pada akhirnya menyadari bahwa mereka telanjang dan mereka membuat cawat dari pohon ara (Kejadian 3:7). Dosa telah membuat manusia melihat kebobrokan dirinya dan berusaha untuk menutupinya. Pada akhirnya manusia menjadi cenderung untuk memperbaiki tampilan lahiriahnya dan melupakan tampilan batiniahnya.

Seperti yang diungkapkan Petrus di dalam dalam 1 Petrus 3:3 yang mengatakan, "Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah". Berdasarkan tafsiran Matthew Henry menjelaskan bahwa Rasul Petrus memberikan aturan mengenai pakaian perempuan saleh. Di sini disebutkan ada tiga macam perhiasan yang dilarang yaitu mengepang-ngepang rambut, memakai emas, mengenakan pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu, perempuan cabul biasa menggunakan ketiga macam perhiasan tersebut.

Hal yang perlu diamati dari bagian ini, pertama, setiap orang harus memperhatikan semua perilaku lahiriah supaya sesuai dengan iman Kristen yang mereka akui. Kedua, menghiasi tubuh secara lahiriah itu sering kali tidak senonoh dan berlebihan. Hal ini juga di dukung oleh tulisan Elvi Gracemawati yang mengutip pendapat Wayne Grudem yang mengatakan, "Peter's point is not that any of them are forbidden, but they should not be a woman's 'adorning', her source of beauty." Di sini Petrus tidak melarang wanita untuk memakai perhiasan atau dandanan yang menarik. Tetapi itu bukanlah sumber utama kecantikan seorang wanita.

Amsal 4:23 mengatakan, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan". Artinya, apa yang timbul dari dalam batin akan menggambarkan citra diri yang sesungguhnya. Dan citra diri atau gambar diri yang diinginkan Tuhan adalah serupa dengan Kristus yang memiliki sifat kelemah lembutan dan tentram. Seperti yang Petrus tekankan dalam 1 Petrus 3:4, yaitu, "tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah".

Menurut penjelasan dari Ensiklopedi Alkitab Masa Kini memaparkan "nilai tinggi yang diberikan kepada sikap lemah lembut dalam urutan kebajikan dikenakan kepada teladan dan ajaran Yesus Kristus." Selain itu dijelaskan juga bahwa dalam Perjanjian Baru lemah lembut (kata benda prauts dan kata sifat praus) menunjuk kepada sikap batin. Hal itu termasuk watak Kekristenan, yang hanya dihasilkan oleh Roh Kudus (Galatia 5:23). Yesus Kristus telah memberikan suatu teladan yang nyata mengenai kelemahlembutan. Dan inilah sikap batin yang Tuhan Yesus inginkan dimiliki oleh setiap wanita.

Gene A. Getz berpendapat bahwa kualitas wanita-wanita Kristen adalah kelemahlembutan yang terkait dengan ketentraman dan sikap berdiam diri. Di dalam Alkitab kualitas ketentraman di antara wanita seringkali dikaitkan dengan ketaatan dan ketundukan. Di dalam 1 Perus 3:1,5 kata "tunduk" disebutkan sebanyak dua kali. Begitu juga dalam tulisan Paulus yang mengatakan, "Perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat" (1 Korintus 14:34) dan "Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh" (1 Timotius 2:11). "berdiam diri" yang dimaksudkan adalah "ketenangan" dan "ketentraman" yang mengarah kepada "sifat" seorang wanita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x