Cucum Suminar
Cucum Suminar Kompasianer

Belajar dari menulis dan membaca. Twitter: @cu2m_suminar

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Berikan Anak Uang Jajan Ideal, Bila Tidak, ...

7 September 2018   23:16 Diperbarui: 8 September 2018   09:49 1696 5 3
Berikan Anak Uang Jajan Ideal, Bila Tidak, ...
Ilustrasi diambil dari kompas.com

Berapa besar uang jajan yang harus diberikan untuk anak?

Pertanyaan tersebut sempat beberapa kali muncul di what's apps grup dan lini masa sosial media. Ada beberapa ibu yang menanyakan hal tersebut. Mereka sepertinya masih bingung menentukan berapa nominal uang jajan yang ideal yang harus diberikan kepada anak sebagai bekal tambahan saat sekolah.

Saya termasuk salah satu dari ibu-ibu tersebut. Maklum tahun ini merupakan pengalaman pertama memutuskan untuk memberikan anak uang jajan. Namun alih-alih bertanya melalui media seperti itu, saya memilih mensurvei harga di kantin sekolah secara langsung. Sekalian ikutan jajan hehe.

Saya juga mengobrol dengan beberapa ibu dari teman sekelas anak saya, maupun yang tingkatannya lebih tinggi. Sebagai perbandingan dan pertimbangan. Sebab, saya ingin memberikan uang jajan yang pas. Jangan sampai terlalu banyak, tetapi juga jangan sampai terlalu sedikit. Apalagi dari rumah juga sudah dibekali beberapa cemilan, terkadang malah makanan berat.

Saya masih ingat pesan ibu saya. Membekali uang jajan untuk anak itu harus pas. Jangan terlalu berlebih, namun juga jangan kurang. Bila diberikan terlalu banyak akan berdampak kurang baik, sebaliknya bila diberikan terlalu sedikit juga akan menimbulkan masalah tersendiri.

Bila uang jajan diberikan sangat terbatas, khawatir anak akan menghalalkan beragam cara untuk mendapatkan keinginan membeli sesuatu --meski itu hanya sepotong kue. Apalagi anak kecil biasanya tidak tahan "godaan". Saat anak lain membeli makanan favorit di kantin, belum tentu ia bisa menahan diri. Sekali-dua kali mungkin bisa, namun bila terus menerus?

Kalau dibiarkan seperti itu, khawatir lama-lama anak akan mencoba meminta-minta pada temannya yang membeli makanan tersebut. Alasannya ingin mencoba, tetapi lama-lama takutnya jadi kebiasaan. Tidak mau kan memiliki anak bermental peminta-minta --lain hal ya kalau mereka saling tukar makanan.

Hal yang paling ditakutkan adalah anak jadi nekat, mencuri uang jajan teman misalnya, atau "mencuri" makanan si teman yang disimpan di kotak bekal. Beberapa kali saya mendengar cerita mengenai kasus seperti ini. Salah satunya saya malah pernah melihat sendiri secara langsung.

Hal yang lebih menakutkan adalah anak khawatir mudah terbujuk. Diiming-imingi akan diberikan uang atau barang/makanan yang ia inginkan, anak akan mau melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Dulu ini alasan ibu saya selalu memberikan uang jajan yang cukup.

Meski demikian, memberikan uang jajan yang terlalu berlebihan juga menurut saya kurang baik. Anak jadi berperilaku konsumtif. Ia juga jadinya tidak bisa memilah mana yang prioritas. Mana makanan yang sebaiknya ia beli, mana yang tidak, karena uang jajan yang diberikan cukup untuk membeli semua makanan yang dia inginkan --meski perut sudah tidak "muat".

Selain itu khawatir dimanfaatkan oleh temannya. Diajak berteman bukan karena anak kita menyenangkan, namun karena "mengincar " uang jajan agar bisa ikut kecipratan menikmati.

Namun, itu sebenarnya masih mending, yang paling dikhawatirkan justru ada anak lain yang "memalak" karena tahu anak kita selalu diberi uang jajan yang sangat berlebih.

Selain hal yang disebutkan itu, uang jajan berlebih juga khawatir membuat anak kita membeli barang-barang yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh anak seusianya. Takutnya malah dibelikan barang atau makanan yang tidak boleh anak kita konsumsi karena berbahaya, atau malah dilarang negara.

Ah, memutuskan berapa uang jajan yang harus diberikan kepada anak memang susah-susah gampang, kalau teman-teman Kompasianers berapa nominal uang jajan yang diberikan kepada si buah hati? Haish! Kok jadi ikutan bertanya juga ujung-ujungnya hehe. Salam Kompasiana! (*)