Mohon tunggu...
Cuba
Cuba Mohon Tunggu... Lainnya - Catatan Ringan

Pemula

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Italia yang Dirindukan

15 Juni 2021   22:29 Diperbarui: 15 Juni 2021   22:42 428 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Italia yang Dirindukan
Sumber: https://www.uefa.com/

Perdana Menteri Italia Giulio Andreotti atau beken disebut Don Giulio, pernah berujar bahwa di Italia, tak ada malaikat dan tak ada setan, yang ada hanya pendosa kecil. Jangan pernah mencari malaikat di Italia meskipun di sana banyak gereja. Berbuat salah, berlaku curang adalah soal biasa saja bagi orang Italia. Melakukan dosa kecil tidak membuat orang masuk neraka asalkan segera bertobat.

Sepak bola Italia mencerminkan dengan jelas ujaran Giulio. Sepak bola Italia selalu diwarnai rivalitas abadi, sarat tendensi, dan bahkan mafia sepak bola. Di sana sepak bola adalah metafora kehidupan, sebuah permainan yang harus dituntut menjadi pemenang apa pun caranya, habis perkara. Setiap pemain memainkan perannya dengan 'baik'. 

Mereka dilatih bermain tenang, sabar, ulet seperti pecatur yang cermat membaca situasi. Ciri khas paling dikenal dari sepak bola Italia adalah kesederhanaan, yakni konservatif dalam bertahan. Pecinta sepak bola kemudian menyebut cattenacio.

Saya generasi milenial (kelahiran mulai 1980), tumbuh dari tayangan Liga Italia di TVRI dan RCTI mulai akhir tahun 1980-an. Lega Calcio liga terbaik di Eropa kala itu. Kumpulan pemain terhebat dan termahal bersaing keras di klub Juventus, AC Milan, dan Inter Milan.

Saya masih ingat AC Milan merajai Piala Champions; Juventus sukses di Piala UEFA; dan Inter (atau mungkin Parma) memenangkan Piala Winners. Banyak pakar yang bilang persaingan Serie-A jauh lebih sangar daripada persaingan di kompetisi Eropa.

Rivalitas klub sekota AC Milan dengan Inter Milan sudah terpolarisasi melampaui batas dari sekadar kompetisi Serie-A ke lintas persaingan antarnegara. Ketika Serie-A libur, kemudian turnamen seperti Euro dan Piala Dunia digelar, tifosi Milan hampir pasti memilih Italia dan Belanda.

Sedangkan Interisti menjagokan Italia dan Jerman. Tentu ada alasan, AC Milan diisi trio emas Belanda: Marco van Basten; Ruud Gullit; dan Frank Rijkaard. Sedangkan klub La Beneamata diperkuat tiga bintang dari Jerman: Juergen Klinsmann; Lothar Mattaheus; dan Andreas Brehme. Tiga menir lebih sukses di ajang klub, namun tiga orang Jerman lebih mengilap di turnamen antarnegara.

Dengan sendirinya kompetisi berkualitas akan menciptakan tim nasional yang tangguh. Gli Azzuri, julukan timnas Italia, selalu berhasil membentuk kesebelasan yang tangguh dan padu. Italia selalu ditempatkan di pot-1 sebagai wujud tim unggulan utama yang siap mengangkat trofi juara.

Sejarah menunjukkan betapa tim sepakbola Italia tak pernah putus melahirkan pesepakbola yang memiliki keahlian yang berbeda dengan karakter pesepakbola negara lain. Roberto Baggio, Franco Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Del Piero, Fabio Cannavaro, Francesco Totti, dan Andrea Pirlo; adalah legenda layaknya master atau bisa juga disebut seniman lapangan hijau. Mereka kalau bertanding punya visi kuat, sangat tenang, cerdik, dan matang.

Italia adalah negara dengan tradisi panjang, pertandingan-pertandingan yang pernah dijalani Italia telah melegenda yang sarat klimaks, kontroversial, bahkan skandal di ajang empat tahunan. Bagian yang membentuk wajah sepak bola Eropa dan dunia.

Generasi sebelum kita selalu mengenang dahsyatnya laga Italia vs Jerman (Barat) pada semifinal Piala Dunia 1970, atau final Piala Dunia 1982 di mana Italia kembali mengempaskan Jerman dengan benteng pertahanan seperti karang yang dikomandoi Claudio Gentile.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN