Muhammad Zulfadli Tahir
Muhammad Zulfadli Tahir pegawai negeri

Dosen Fak. Ilmu Sosial UNM Makassar. Penggemar berat dunia olahraga.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Piala Dunia 2014, Final Klasik di Atas Derita Tuan Rumah dan Juara Bertahan (Kilas Balik-6)

14 Juni 2018   13:47 Diperbarui: 14 Juni 2018   13:42 502 1 1
Piala Dunia 2014, Final Klasik di Atas Derita Tuan Rumah dan Juara Bertahan (Kilas Balik-6)
(sumber foto: www.fifa.com/worldcup)

Piala Dunia 2014 edisi ke-20 digelar di Brasil, negara dengan budaya sepak bola yang sudah mendarah daging bagi setiap masyarakatnya. Tim Selecao, difavoritkan meraih trofi ke-6, bukan hanya karena mereka berstatus tuan rumah, bukan juga hanya karena dilatih oleh pelatih berpengalaman Felipe Scolarie. Brasil memiliki materi pemain dengan talenta-talenta tinggi.

Pada mulanya, deretan pertandingan yang tersaji membuktikan bahwa Brasil adalah Piala Dunia paling kejam bagi tim Eropa. Lihat saja, lebih dari separuh wakil Eropa rontok sebelum putaran II. Tak tanggung-tanggung, Spanyol juara bertahan tampil memalukan dan sangat menderita. La Furia Roja hancur dicabik-cabik oleh Belanda 1-5.

Italia dan Inggris dengan gemerlap liganya, pulang membawa luka dari grup yang sama. Dua raksasa juara dunia itu takluk dari negara kurcaci Kosta Rika. Portugal juga melempemmeski  membawa Cristiano Ronaldo, pemain Ballon d'or yang mewujudkan gelar Decima bagi Real Madrid. Mega bintang hanya membuat sebiji gol, kalah bersaing dengan rival, Jerman dan Amerika Serikat, di penyisihan.

Namun tak ada tim paling menderita selain sang tuan rumah Brasil. Dua kali menjadi tuan rumah, dua kali pula seluruh orang Brasil merasakan kehancuran dan menanggung aib dalam waktu yang sangat panjang.

Tragedi Maracanazo yang terus menghantui selama 64 tahun mungkin bisa ditutup dan mulai dilupakan, namun ironisnya tragedi itu digantikan dengan bencana sepak bola paling kelam bagi negara pemegang lima Piala Dunia. Orang akan menyebutnya Mineirazo, merujuk kota kekalhan telak 1-7 dari Jerman. Tentu Mineirazo akan terus melukai seluruh Brasil dalam rentang waktu yang sangat panjang.

"Jangan pernah lagi ada Piala Dunia di Brasil", begitu kata banyak penduduk Brasil.

Final Klasik

Jerman versus Argentina adalah sebuah final klasik yang sangat dinanti-nanti. Ambisi, gengsi, prestise, dan mungkin saja dendam sudah mengawali duel bersejarah di Rio de Jeneiro sebelum pertarungan itu berlangsung.

Ini final yang sama persis dengan Piala Dunia 1986 dan 1990. Dua laga puncak dengan dua drama berbeda itu begitu mudah diingat penggemar sepak bola karena tokoh utamanya adalah Diego Armando Maradona.

Piala Dunia 2014 the greatest on earth, akhirnya dimenangi the greatest team, Jerman. Gol extra time Mario Goetze, menyudahi perlawanan alot Argentina di Estadio Maracana, kuil sepak bola Brasil. Jerman berhak menuliskan namanya di dasar trofi Piala Dunia.

Para pendukung pun berteriak "Germany Weltmeister", Jerman Juara Dunia. Super star Lionel Messi,  tak dapat menyembunyikan wajah pedih setelah gagal menyamai sukses Maradona 28 tahun sebelumnya. Gelar individu best player tak bisa menghiburnya sedikit pun.

Sekali lagi ini adalah Piala Dunia dimana tim yang paling terorganisasi, fit, disiplin, dan punya mental dan semangat baja yang akan memenanginya. Jerman punya banyak pemain kelas dunia yang sudah mencapai usia emasnya, tapi mereka bekerja serempak sebagai tim.

Ini Piala Dunia yang tidak dapat menampilkan ambisi pribadi. Dahulu mungkin Diego Maradona begitu mudahnya meliuk dan seolah seorang diri meraih trofi Piala Dunia. Cristiano Ronaldo mecoba hal serupa bersama Portugal, tapi gagal. Lionel Messi pun demikian, tak kan bisa sendiri membawa Argentina Juara Dunia.

Jerman Menemukan El Dorado

Bangsa Eropa harus menanti 84 tahun dalam delapan kali kesempatan untuk menaklukkan benua Amerika. Sang penakluknya bernama Jerman, wakil Eropa yang menemukan El Dorado, kota yang hilang kaya akan emas di tanah Latin.

Jerman pantas menjadi yang terbaik diantara yang terbaik. Jerman memenangi gelar keempat mereka, dengan cara yang berkelas, menumbangkan tiga negara berstatus juara dunia: Perancis, Brasil, dan Argentina.

Mereka bermain stabil dan solid sebagai sebuah tim. Tidak negara lain di Piala Dunia yang memainkan sepak bola serapih, sekreatif, seefektif, dan mematikan seperti yang ditampilkan Bastian Schweinsteiger, cs. Kejayaan Jerman sekaligus kemenangan sepak bola modern.

Apa yang diraih pasukan skuad Loew bukan hasil kerja singkat dan mudah. Mereka memetik hasil kerja keras bertahun-tahun. Tenaga, keringat, darah, dan airmata telah mereka korbankan. Di beberapa turnamen besar sebelumnya, mereka sudah sangat dekat dengan gelar.

Jerman memberikan contoh bagaimana bangkit dari kegagalan demi kegagalan. Mereka tak pernah kehilangan motivasi, terus bekerja keras, untuk memberikan kebanggaan pada negara mereka.  Dan kini mereka sudah menuntaskan penantian indah di Brasil 2014.  Germany Weltmeister.

Malam nanti seraya berkumandang takbir Idul Fitri 1439 H, di belahan benua Eropa, tepatnya di Luzhniki Stadium Moskow, Nesto Pitana dari Argentina akan meniup pluit Kick-Off match antara Rusia melawan Arab Saudi. Yes, Piala Dunia akan dimulai hingga sebulan penuh ke depan. Akankah ada kejutan ? sudah pasti. Akan kah ada juara dunia baru ? menarik ditunggu.

Biarkan kita semua menikmati 64 pertandingan sepak bola kelas dunia, dan tetap, "Jangan Nonton Bola tanpa Kacang Garuda".