Mohon tunggu...
Kosasih Ali Abu Bakar
Kosasih Ali Abu Bakar Mohon Tunggu... Dosen - Analis Kebijakan Ahli Madya, Pusat Penguatan Karakter

Baca, Tulis, Travelling, Nongkrong, Thinking

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Cinta Bersama Rasa, Hasrat, dan Akal

11 Maret 2024   07:50 Diperbarui: 11 Maret 2024   08:08 197
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Sudah lama tidak menulis tentang cinta dan harapan. Menulis puisi yang penuh dengan gairah dan hasrat. Sebuah upaya untuk menyelami sisi terdalam dari hati dan pemikiran seseorang, komunitas bahkan bangsa. Bahan bakar dari itu semua adalah cinta, kita akan terheran-heran bagaimana cinta itu bisa menggerakkan seseorang atau sekelompok orang.

Tulisan ini bisa jadi karena telah kehilangan orang yang dicintai. Selamat jalan Ma Ngah, semoga Allah SWT menempatkan Ma Ngah di tempat terbaik di sisi-Nya. Ma Ngah, adalah dalam hidupnya orang yang mengert akan cinta, cinta itu tidak bisa dipaksakan, tapi tidak salah juga jika terus diperjuangkan.  Ia yang tetap setia bersama kami ketika hampir semua orang berjalan menjauhi. Di akhir masanya, ia telah menyerahkan cintanya hanya kepada Tuhan dan sering kali menasehati kami semua untuk selalu ingat atau cinta kepada Tuhan. 

Sekaligus tulisan ini adalah hasil diskusi dengan teman-teman saya yang sedang menjalani hidupnya. Semoga Tuhan memberikan kita kekuatan menjadi manusia yang lebih baik ke depan. Dan sebagai ingatan saya yang akan atau sedang memasuki masa puber ke 2.

Perjalanan cinta itu memang menggairahkan, bahkan bisa menembus ruang, perbedaan, dan waktu. Seolah-olah membawa kita di masa lalu, ketika kita sedang pertama kali jatuh cinta, atau ketika kita merasa hampa ketika putus cinta. 

Kali pertama memang semuanya terasa begitu bergairah, seolah-oleh dunia ada dalam genggaman dan atau lepas dari genggaman. Rasanya begitu dalam dan kerap kali membuat kita terpuruk atau tenggelam hingga kedewasaan yang mengajarkan kita untuk berenang dan mengarungi laut yang menenggelamkan itu.

Dasar cinta itu dalam sebuah hubungan yang kerap membingungkan dengan berbagai bentuknya. Ada sebutan cinta pada pandangan pertama, Ada sebutan cinta timbul karena sering bertemu atau witing tresno jalaran soko kulino. Ada juga cinta yang tumbuh karena diawali rasa benci atau sebal. Bahkan ada yang disebut Stockholm Syndrome, ketika yang diculik jatuh cinta kepada penculik. Intinya, cinta itu sulit dan hanya diri kita sendiri yang tahu, cinta itu abstrak penyebabnya tapi terlihat dalam aktualisasinya.

Hal yang menarik lainnya, cinta itu tidak hanya bicara hanya hubungan people to people, tapi bisa  people to thing or people to job, atau lainnya, cinta kepada benda/sesuatu atau pekerjaan. Bahkan bisa juga cinta kepada Tuhan. 

Sering dalam bahasa agama, dikatakan hal yang paling baik adalah ketika kita mencintai sesuatu karena Tuhan. Sebenarnya, cinta kepada Tuhan itu adalah pelampung, kita telah membuat "cantolan" atau "pegangan" agar rasa dan hati kita bila kecewa karena cinta maka kita tidak akan tenggelam dan hancur.

Salah satu indikator dari cinta biasanya adalah rindu. Ketika kita teringat akan seseorang yang terus membayang, artinya rindu itu telah datang. Ketika kita ingin melakukan sebuah pekerjaan dengan terus menerus, ada rindu disana. Hal yang sama ketika rindu kepada Tuhan. Dylan mengatakan jika rindu itu berat, sehingga ia berkata kepada pujaannya agar biar ia saja yang menanggung rindu tersebut. 

Ketika rindu itu datang, dasarnya bukan lah nafsu biasanya, tapi lebih kepada rasa. Bila itu rasa, maka itulah jatuh hati atau cinta. Segala sesuatu yang dilakukan penuh dengan rasa, berbeda dengan nafsu. Bila itu nafsu, maka itu bukan jatuh cinta atau hati, tapi lebih kepada hasrat secara fisik saja atau permainan akal. Tapi, perlu dipahami juga, bahwa cinta dan hasrat itu sering kali berdampingan, itulah ujiannya.

Hal yang perlu diingat jika bisa jadi rindu itu hanya pada satu orang saja atau kelompok saja, bertepuk sebelah tangan. Seringkali yang dirinya merasa tidak merindu, maka si merindu akan berupaya memberitahu yang dirindu dengan berbagai upayanya. Jika sama-sama merindu maka tinggal menunggu keberanian dari salah satu yang merindu agak rasa itu bisa diketahui. Disitulah pelabuhan rasa itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun