Mohon tunggu...
Cornelius Juan
Cornelius Juan Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar

Saya Cornelius Juan memiliki hobi membaca, merenung, bermain bulutangkis.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Malan, Pembangunan Manusia Otentik Khas Dayak

10 September 2022   21:00 Diperbarui: 13 September 2022   10:59 696 9 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Metode dalam berladang khas Dayak ini tidak sekedar menanam dan memanen. Ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh para peladang. (Dok. Teresia Jari Jatam Kaltim via KOMPAS.com)

Malan 

Berladang dalam perspektif umum adalah kegiatan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan. Pemenuhan bagi masyarakat luas dan kental kaitannya dengan dimensi jasmaniah. 

Namun hal ini berbeda bagi masyarakat Dayak. Bagi mereka, Malan (dalam Bahasa Dayak Ngaju artinya berladang) adalah kegiatan yang tidak terbatas pada pemenuhan pangan tetapi mewujud dalam kebudayaan melainkan salah satu cara orang Dayak sendiri menimba pemenuhan spiritual. 

Akhir-akhir ini, aktivitas berladang khas Dayak ini dilarang. Sanyo, mantir adat dan pemuka adat di Desa Kalumpang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah berkata, "Orang Dayak yang tidak berladang sudah hilang jati dirinya karena hampir semua ritual kami terkait dengan perlandangan". 

Dilarangnya masyarakat Dayak berladang karena metode yang mereka lakukan dinilai merusak lingkungan oleh pemerintah, terkhsusunya oleh Kementrian Perluasan dan Perlindungan Hutan Erwin Noorwibowo.

Bagaimana metode malan yang diterapkan masyrakat Dayak ini? Dan mengapa malan dilarang?

Metode Malan 

Metode dalam berladang khas Dayak ini tidak sekedar menanam dan memanen. Ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh para peladang.

Pertama adalah memilih lahan untuk ditanami untuk selama satu atau dua tahun dan dilanjutkan dengan ritual tertentu. 

Dalam ritual, mantir adat umumya mmempersembahkan seekor ayam atau sebutir telur kepada Ranying Hatalla penguasa alam. Tujuan ritual ini supaya tidak ada halangan dalam berladang. Kedua adalah pembabatan lahan atau meneweng dalam Bahasa Dayak Ngaju. Pembabatan ini tidak hanya dilakukan oleh laki-laki melainkan perempuan. 

Lalu hasil dari penebasan atau pembabatan lahan ini dikumpulkan di beberapa titik di lahan tersebut. Sebelum dibakar, peladang membuat parit kecil di sekitar lahan miliknya, mengukur arah mata angin dan memprediksi hujan agar saat dibakar, api tidak merambat ke lahan atau kebun milik peladang lain. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan