Mohon tunggu...
Ega Krisnawati
Ega Krisnawati Mohon Tunggu... Jurnalis - About me

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Atma Jaya Yogyakarta angkatan 2017.

Selanjutnya

Tutup

Film

Representasi Negosiasi Wajah pada Film Koki-koki Cilik (2018)

22 Mei 2020   08:27 Diperbarui: 22 Mei 2020   08:25 369
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pemilihan film Koki-koki Cilik (2018) diawali dengan adanya konflik yang dijalani oleh anak-anak, yakni persahabatan, mewujudkan mimpi, dan keluarga.

Melalui konflik tersebut, penulis ingin melihat bagaimana tokoh di dalam film, mempertahankan wajah (citra) dan gaya mengelola konflik.

Penulis berpadan pada buku milik West dan Turner dengan judul Pengantar Teori dan Komunikasi Analisis dan Aplikasi tahun 2017 terkait teori Negosiasi Wajah.

Metode analisis film yang digunakan oleh penulis adalah bahasa verbal dan non-verbal. Penulis ingin menganalisis Negosiasi Wajah tokoh dengan metode kata-kata yang diucapkan, yang ditegaskan dengan gerakan, ekspresi wajah, dan vokalik (cara berbicara) (KUSUMAWATI, 2016 , hal. 142-146).

Penulis berpadan pada jurnal Al-Irsyad milik Tri Indah Kusumawati, dengan judul Komunikasi Verbal dan Non Verbal.

Teori yang digunakan adalah Negosiasi Wajah. Negosiasi wajah menurut Goffman (Turner, 2017, hal. 205) citra yang ditampilkan oleh individu dan ditampilkan ke publik, sebagai sesuatu yang dipertahankan, hilang, atau diperkuat. Menurut Brown and Levinson Wajah dibedakan menjadi Wajah Positif, dan Wajah Negatif. Wajah Positif adalah wajah yang disukai oleh publik, dan  wajah negatif adalah wajah yang dihindari oleh publik.

Seseorang akan mempertahankan wajahnya, melalui tiga cara yakni, kerja wajah bijaksana, kerja wajah solidaritas, dan kerja wajah penerimaan. Kerja wajah bijaksana adalah seseorang mempertahankan wajahnya dengan cara menghormati otonomi orang lain. Kerja wajah penerimaan adalah seseorang mempertahankan wajahnya dengan mengesampingkan aspek negatif seseorang, dan mengutamakan aspek positifnya. (Turner, 2017, hal. 208)

Manajemen Wajah menurut Ting Toomey (Turner, 2017, hal. 214), usaha melindungi wajah dengan adanya negosiasi. Gaya mengelola konflik lintas budaya, antara lain mengindar, kesediaan membantu, kompromi, dominasi, dan Integrasi.  Gaya menghindar adalah individu individu yang mengelak pertentangan, kesediaan membantu adalah gaya yang dengan pasif berusaha memuaskan kebutuhan orang lain, kompromi adalah gaya di mana individu menemukan jalan tengah untuk sebuh solusi. Dominasi adalah gaya seseorang untuk mengambil keputusan dengan mengandalkan otoritas, dan integrasi adalah gaya seseorang menemukan solusi dengan berkolaborasi. (Turner, 2017, hal. 214-215).

Analisis Negosiasi Wajah akan dibedakan menjadi dua bagian, pertama analisis wajah dan kerja wajah, dan kedua analisis gaya mengelola konflik. Tokoh dan penokohan yang dianalisis dalam film adalah, Bima sebagai tokoh utama, Dian Subrata sebagai Ibu Audrey, Audrey sebagai saingan Bima, Melly sebagai teman Bima, Kevin sebagai teman Bima, Niki sebagai teman Bima, Alva sebagai teman Bima, Rama sebagai cleaning service yang tadinya adalah Chef ternama, Grant sebagai Chef di Cooking Class, Malik sebagai Chef Senior, dan Aini sebagai Ibu Bima.

Analasis Wajah dan Kerja Wajah

dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri

2. Analisi Gaya Pengelolaan Konflik

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun