Marlistya Citraningrum
Marlistya Citraningrum Pekerja Millennial

Biasa disapa Citra. Bekerja di bidang energi berkelanjutan dan keadilan iklim. Di waktu luangnya, Citra adalah Editor-in-Chief di Indonesia Mengglobal. Semua foto yang digunakan adalah koleksi pribadi, kecuali bila disebutkan sumbernya. Percayalah, Citra tak seserius tulisannya. Kontak: m.citraningrum@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Hijau Artikel Utama

Geng G20 dan Tertinggalnya Indonesia

7 Juli 2017   12:40 Diperbarui: 7 Juli 2017   15:13 1807 8 5
Geng G20 dan Tertinggalnya Indonesia
Sumber: mopo.de

Minggu ini, perhelatan besar negara-negara G20 berlangsung di Hamburg, Jerman. Summit atau pertemuan ini merupakan pertemuan ke-12 bagi negara-negara yang berkontribusi pada 85% GDP global. Tema berulang yang biasanya dibahas adalah pertumbuhan ekonomi, perdagangan, juga pasar finansial; namun G20 Summit juga banyak membahas isu lain yang penting di ranah global.

Salah satunya adalah isu pemanasan global dan perubahan iklim.

Lupakan bahwa bumi itu diperdebatkan bulat atau datar, pada kenyataannya kegiatan manusia dalam berbagai sektor: energi, transportasi, dan produksi memberikan dampak yang luas pada lingkungan. Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak dan batu bara menghasilkan emisi (keluaran) karbondioksida dan gas rumah kaca (GRK) yang menyebabkan peningkatan suhu global. Sudah sekian lama kita mendengar kutub utara yang mencair. Sudah cukup sering kita melihat foto beruang kutub yang kurus kering mati kelaparan. Dan barangkali sudah cukup lama pula kita sadar bahwa musim saat ini sungguh sulit diprediksi.

Ini tak hanya terjadi di luar sana, ini juga terjadi di Indonesia.

Cita-Cita Bersama
Negara-negara G20 yang jumlahnya 19 itu memang selain menyumbang porsi besar terhadap GDP global, tentu saja juga menyumbang porsi tidak kalah besar terhadap polusi udara. Ya iyalah ya, pertumbuhan ekonomi tentu selaras dengan naiknya produksi dan aktivitas manusia. Jika dihitung, negara-negara G20 ini totalnya menyumbang emisi GRK dari sektor energi sebesar 82% dari total negara-negara di seluruh dunia.

Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab. Maka tak bisa dipungkiri juga bahwa G20 juga harus berkontribusi signifikan untuk mengurangi emisi GRK yang membahayakan ini.

Sementara Kesepakatan Paris sudah digulirkan (dan ditinggalkan oleh Donald Trump, eh, maksudnya Amerika Serikat), negara-negara G20 memang sudah mulai beralih ke energi hijau, yaitu energi terbarukan yang lebih bersih (kebalikan dari bahan bakar fosil). Peralihan ini disebut dengan peralihan "cokelat" ke "hijau" (brown menggambarkan energi kotor dari fosil, green adalah energi terbarukan). Langkah-langkah besar sudah banyak dilakukan negara-negara G20 untuk proses peralihan ini, misalnya Brazil yang sudah mencapai penggunaan energi terbarukan hingga 38% dari total penggunaan energi nasional. 

China, sebagai kekuatan ekonomi besar, muncul digdaya "memimpin" peralihan ke energi hijau dengan pembangunan infrastruktur energi hijau yang masif, mulai memensiunkan pembangkit listrik batu bara, dan memberikan subsidi besar untuk mobil listrik. Amerika Serikat yang awalnya digadang-gadang untuk semakin progresif dalam peralihan ini justru mundur. Penolakan yang disampaikan oleh Presiden Trump diperkirakan akan berdampak besar, terutama terkait pembiayaan.

Usaha penekanan emisi GRK ini perlu dilakukan terus menerus dengan skala besar, karena bila tren penggunaan energi kotor tidak berubah, target Kesepakatan Paris untuk menjaga kenaikan suhu global tak lebih dari 2 derajat C tidak akan tercapai. Berdasarkan laporan Climate Transparency, usaha negara-negara G20 ini bukan tanpa hasil. Selama periode 1990 -- 2014, GDP G20 naik 34%, namun pertumbuhan ekonominya jauh lebih tinggi: 117%. Ini adalah ilustrasi bahwa kita semakin efisien dalam menggunakan energi. Emisi GRK dan karbondioksida juga mulai "datar", angka dalam lima tahun terakhir tidak meningkat sepesat sebelumnya.

picture1-595f280fb1dab40ad538b545.jpg
picture1-595f280fb1dab40ad538b545.jpg

Bangga? Boleh. PR masih banyak. We are not moving fast enough.

Indonesia Tertinggal
Sementara anggota geng G20 lain mulai move on dari mantan, ehem salah kan, batu bara, Indonesia masih menggunakan batu bara untuk kelistrikan. Ini memang sebuah persoalan yang bermata dua: di satu sisi Indonesia masih berupaya melistriki 100% penduduknya, sementara itu kita juga harus mulai bergerak meninggalkan energi kotor. Harga energi terbarukan yang *masih* dianggap lebih mahal dibanding batu bara juga menjadi pertimbangan yang serius, meski diharapkan dengan cepatnya perkembangan teknologi energi terbarukan, harganya akan semakin turun. 

Saat ini porsi energi terbarukan yang dipakai di Indonesia memiliki angka yang cukup tinggi, namun didominasi oleh air dan panas bumi. Pemanfaatan angin dan surya cenderung masih menjadi wacana dan diterapkan dalam skala-skala kecil, jauh tertinggal dari negara-negara G20 lainnya. Kebijakan dan peraturan yang ada saat ini juga dilihat belum menarik banyak pihak untuk ikut berinvestasi membangun pembangkit energi terbarukan di Indonesia.

Tantangan energi di Indonesia itu memang luas, kompleks, dan hampir selalu menjadi isu politis. Kita berkaca saja dari dialihkannya subsidi listrik untuk golongan 900 VA. Sadar tidak sadar, mau tidak mau, kita yang bisa membaca ini adalah golongan privileged, punya akses informasi dan punya akses energi. Kita tidak bisa menutup mata pada lebih dari 20 juta penduduk Indonesia yang masih gelap-gelapan. Ini baru isu energi dalam kelistrikan, belum isu transportasi. Jika dibandingkan dengan negara-negara G20 lain, subsidi bahan bakar fosil Indonesia (termasuk BBM) adalah yang terbesar. Mau mengalihkan subsidi, implikasi pada ekonomi, kepercayaan masyarakat, hingga ketahanan nasional menjadi pertimbangan.

Kebijakan tak populer untuk mengurangi subsidi dan mengalihkannya pada agenda lain sesungguhnya pertanda yang cukup positif. Pemerintah juga sudah mulai menggodok berbagai peraturan dan kebijakan yang dapat memberikan ruang kondusif untuk pengembangan energi terbarukan. Efisiensi energi dalam berbagai sektor juga terus digalakkan. Indonesia perlu mempercepat prosesnya, untuk bersama-sama bersama negara-negara G20 lainnya, berkontribusi dalam "menyelamatkan" masa depan bumi, mau bulat atau datar.

Selamat rapat Pak Jokowi dan segenap menteri. Ketertinggalan itu motivasi, bahwa kita punya banyak ruang untuk pengembangan diri.

Salam hangat,

Citra