Marlistya Citraningrum
Marlistya Citraningrum Pekerja Millennial

Biasa disapa Citra. Foto dan tulisannya emang agak serius sih ya. Semua foto yang digunakan adalah koleksi pribadi, kecuali bila disebutkan sumbernya. Akun Twitter dan Instagramnya di @mcitraningrum. Kontak: m.citraningrum@gmail.com. https://www.instagram.com/mcitraningrum

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Mengabdi untuk Publik (Bukan Negara)

12 Januari 2019   12:49 Diperbarui: 12 Januari 2019   18:13 714 9 4
Mengabdi untuk Publik (Bukan Negara)
Kredit foto: Clark Tibbs via Unsplash

"Kamu nggak berminat jadi PNS?" ibu saya pernah bertanya, sekali. Meski dilahirkan dalam keluarga pengabdi negara, juga dengan lingkungan yang mempedulikan kemapanan karir; sejak lama saya sudah dilihat sebagai "keanehan" karena jalur pendidikan, hobi, dan kebiasaan saya yang tidak mengikuti pola kebanyakan. Maka pertanyaan tentang karir menjadi PNS itu jarang muncul, karena saya diduga tidak akan mengikuti jenjang karir Bapak dan Ibu.

Jawaban saya biasanya singkat, "Saya belum berminat." (Jawaban panjang pernah saya tulis di artikel ini: Buat Apa Jadi PNS?)

Idealisme Tentang Berkarya

Menyebut karir atau pekerjaan terkadang sering menjadi perdebatan dan seringkali dipertemukan dengan istilah lain: berkarya.

Ada kekaburan definisi tentang karir dan pekerjaan yang menyebabkannya sering dibilang hanya berorientasi uang dan sifatnya superfisial, tidak mengikutsertakan motivasi luhur mulia atau mendalam. Berkarya acap dipilih sebagai kata netral (dan lebih mendalam? Tergantung yang baca juga ya.)

Saya, tentu juga memiliki idealisme tentang berkarya. Bila disamakan dengan cita-cita, saya hanya ingat pernah punya cita-cita menjadi astronot, saat SD. Pada waktu itu "daftar" cita-cita bagi anak-anak masih sangat terbatas, biasanya berkutat di dokter, guru, polisi, astronot.

Saya menyebut astronot karena waktu itu saya kagum dengan Bu Pratiwi Soedarmono, dan karena saya merasa bila menjadi astronot saya nggak perlu ketemu banyak orang (anaknya pemalu #eaaaa).

Setelah SD, sejujurnya saya tak pernah punya cita-cita. Saya hanya punya langkah-langkah pendek, bayangan mengenai 1-3 tahun ke depan. Lulus SMP mau sekolah di mana.

SMP lulus, mau sekolah SMA di mana, ambil jurusan apa. Lulus SMA, mau kuliah di mana, ambil jurusan apa. Hidup saya selow, tidak punya ambisi selain menjalankan tahapan-tahapan pendidikan itu dengan baik. Jadi bisa dibilang idealisme saya sederhana: jalani peran dengan baik.

Saat kuliah, saya sedikit bertanya-tanya akan mengambil pekerjaan apa setelah lulus. Dengan jurusan teknik yang saya ambil, pilihannya bisa bekerja di pabrik/perusahaan, mengajar di sekolah menengah, atau sekolah lagi untuk jadi dosen. Usut punya usut, karena saya disarankan dosen saya untuk sekolah lagi. Yo uwis, si Citra yang idealismenya pendek itu dengan senang hati sekolah lagi.

Sebelum berangkat saya sedikit membayangkan bahwa saya kemungkinan besar akan jadi peneliti atau dosen. Saya cenderung lebih menyukai yang pertama karena saya tahu kemampuan "mengasuh" saya kurang banget. Nanti malah mahasiswanya pada kabur, hahaha.

Pulang dan Mengabdi untuk Publik

Saat sekolah lagi itu, saya menemukan idealisme suasana kerja (karena saya juga bekerja part-time sebagai peneliti). Saya punya bayangan bahwa tempat saya berkarya nanti setidaknya memenuhi beberapa kriteria: atasan yang bersifat pemimpin (leader, not a boss), hierarki yang tidak ketat, keterbukaan, berbasis kemampuan (merit), dan secara finansial cukup (cukup ya, nggak harus wow banget kayak kerja di korporasi).

Setelah lulus saya sempat melamar ke beberapa tempat di negara tempat saya melanjutkan studi, namun kemudian saya memutuskan pulang meski saat itu juga belum ada kepastian hendak berkarya di mana. Saya "nganggur" 6 bulan setelahnya (uhuk).

Dalam 6 bulan itulah, saya melakukan perjalanan dan mencari jawaban (atau kepastian?) atas idealisme berkarya yang saya miliki. Pertanyaan yang muncul sungguh banyak, mulai dari mau pilih kota apa hingga soal kompromi-kompromi apa yang saya sebaiknya pikirkan. Dari masa permenungan itu, dan dengan idealisme tempat berkarya yang saya miliki saat saya tinggal di luar negeri; akhirnya saya menjerumuskan diri bekerja di sektor yang asing sekali bagi saya: sektor publik non-pemerintah.

Idealisme yang saya miliki mengenai atasan, hierarki, hingga keterbukaan memang secara tidak langsung mencoret bekerja di pemerintahan. Saya percaya banyak juga kondisi kerja di pemerintahan yang baik, tapi saya memang tak mau mengambil risiko. Sementara itu idealisme saya soal menjalani peran dengan baik itu juga mendorong saya untuk memikirkan apa yang bisa saya kerjakan untuk orang lain.

Maka ketika memutuskan masuk ke sektor publik non-pemerintah, ada kombinasi suasana kerja dan tujuan lebih besar yang menjadi jangkar idealisme saya.

Saya bisa berkarya di tempat kerja yang baik, ikut melakukan sesuatu yang saya harap bisa memberikan manfaat pada banyak orang dan bisa saya lihat dampaknya, dan bisa memandang tujuan jangka panjang; sesuatu yang sebelumnya tidak saya miliki. Dinamika yang hadir merupakan sesuatu yang asing namun sekaligus menyenangkan, mengingat sebagai anak sains, saya kebanyakan berkutat dengan lab, bukan dengan orang.

Saya tidak memiliki momen titik balik seperti Michelle Obama yang dikisahkannya dalam biografinya Becoming, saat ia memutuskan meninggalkan pekerjaan sebagai pengacara kelas tinggi berbayar huwow untuk bekerja di sektor pemerintahan (dan kemudian sektor non-pemerintahan) dengan bayaran nggak sampai setengahnya. 

Namun saya bisa merasakan kegelisahannya untuk mencoba sesuatu yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, dan terlibat dalam sebuah cause yang terfokus pada kemaslahatan orang banyak (publik). Ia meninggalkan kemapanan dan memilih jalan sunyi (agak puitis memang). Yang saya alami tidak seekstrem Michelle Obama, saya hanya memilih jalan yang sebelumnya tak pernah masuk dalam radar idealisme saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2