Mohon tunggu...
chitania sari
chitania sari Mohon Tunggu... mahasiswa

suka nulis dan jalan-jalan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Semua Komponen Bersinergi Jauhkan Pendidikan dari Intoleransi

15 Januari 2020   05:45 Diperbarui: 15 Januari 2020   06:00 14 0 0 Mohon Tunggu...
Semua Komponen Bersinergi Jauhkan Pendidikan dari Intoleransi
sman88 Jakarta

Seminggu lalu kita dikejutkan oleh  orangtua siswi yang mengadukan kelompok ekstra kulikuler Kerohanian Islam (Rohis) SMA 1 Gemolong Sragen Jawa Tengah yang mengirimkan pesan wa berisi kecaman kepada seorang murid karena ybs tidak memakai jilbab.

Pesan wa itu mirip terror karena dilakukan berulang-ulang dengan kata-kata yang tajam, termasuk memberi label tertentu pada sang orangtua korban.  Mereka mengatakan bahwa orangtua murid adalah ortu yang tidak paham dalil agama.

Pesan itu dilakukan oleh salah satu murid anggota rohis, artinya sama-sama murid dan mereka mengakui bahwa mereka memang mengirimkan pesan itu ketika terjadi pertemuan antara ortu, anggota rohis dan pihak sekolah. Kepala sekolah tidak bisa bicara apapun kecuali mengatakan bahwa mereka kecolongan.

Jika berkilah kecolongan , itu tidak terjadi untuk pertama kali. Hal lain yang yang terjadi di Jawa Tengah adalah adanya kalimat-kalimat yang bernada intoleransi pada lembar kerja siswa (LKS) pelajaran padatahun 2015 lalu.

Saat itu pada LKS Pendidikan Agama Islam kelas XI SMA memuat kalimat seperti ini "Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah SWT, dan orang yang menyembah selain Allah, telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh". Kasus ini sempat menarik perhatian banyak orangtua dan juga dianggap kecolongan.

Tidak hanya sampai di situ. Pada tahun 2019 lalu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan bahwa setidaknya adalah tujuh kepala sekolah SMA SMK dan SLB di Jawa Tengah yang diduga terpapar radikalisme.

Saat itu dia mengatakan tujuh orang tersebut masih dalam pembinaan untuk kembali ke jalan yang benar. Jika mereka tidak mengindahkan, Gubernur Jateng berjanji akan mendak dengan tegas.

Lebih jauh dia mengatakan bahwa dia juga mendapat laporan dari beberapa tokoh agama dan masyarakat soal penanaman radikalisme di sekolah itu dilakukan dengan sangat massif. Mereka (kaum radikal itu) seakan tidak kehabisan cara untuk menggaet sebanyak mungkin murid untuk memasukkan faham radikalisme kepada murid. Baik melalui mata pelajaran,  dan juga ekstra kulikuler.

Lebih jauh Gubernur Jawa Timur , Khofifah Indar Parawansa juga menyoroti tentang masifnya penyebaran radikalisme di lingkungan sekolah. "Bahkan ada survei dari UIN Syarief Hidayatullah Jakarta yang cukup mengerikan.

Tidak sedikit anak yang disurvei sepakat bahwa orang murtad boleh dibunuh," katanya. Survey itu melibatkan banyak pihak yaitu pendidik, kepala sekolah, serta para dosen dan menunjukkan bahwa intoleransi di dunia pendidikan bisa dikatakan tinggi.

Kita mungkin masih ingat sebuah kelompok kecil anak PAUD di sebuah kota di Jawa Timur yang sedang melakukan karnaval membuat tercengang warganet. Pasalnya kostum karnaval mereka adalah kostum perang sabil yang sering ditampakkan di medan peperangan Suriah (waktu itu masih berperang) seperti membawa replica pistol dan senjata lainnya. Konsep kekerasan dan peranga tas nama agama seperti itu meski tak diterangkan secara verbal akan terekam kuat di benak anak-anak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x