charles dm
charles dm Freelancer

Untuk sesuatu yang tidak dapat dikatakan, aku harus mengatakannya!!

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

LRT Palembang Dikritik Prabowo, Bagaimana Masa Depan LRT Jabodebek?

20 Februari 2019   00:21 Diperbarui: 20 Februari 2019   12:15 304 4 0
LRT Palembang Dikritik Prabowo, Bagaimana Masa Depan LRT Jabodebek?
LRT Palembang/ KOMPAS.com/ Aji YK Putra

Ada satu hal menarik dari debat kedua Capres 2019 pada Minggu, 17 Februari 2019 malam lalu. Calon Presiden 02, Prabowo Subianto melancarkan kritik terkait proyek infrastruktur yang dibuat pada masa pemerintahan Joko Widodo.

"Tim Pak Jokowi bekerjanya kurang efisien, banyak infrastruktur dikerjakan dengan grusa-grusu tanpa feasibility study yang benar. Akibatnya, banyak proyek infrastruktur yang tidak efisien, rugi," demikian kata Prabowo.

Ketua Umum Partai Gerindra itu memberikan beberapa contoh. Dua di antaranya adalah proyek Light Rail Transit (LRT) Palembang dan Bandara Internasional Kertajati, Jawa Barat. Prabowo menilai proyek-proyek itu belum memberikan dampak berarti. Yang terjadi saat ini adalah animo masyarakat yang minim. Tidak hanya sepi penumpang, kedua proyek itu pun berpotensi menjadi monumen belaka.

Apa yang dikatakan Prabowo tidak sepenuhnya keliru. Terkait LRT Palembang misalnya. Sejak dibuka secara komersial per Oktober 2018, keberadaannya memang belum cukup dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Djoko Setijowarno, pengamat transportasi Universitas Soegijapranata, menyebut jumlah penumpang LRT Palembang pada hari kerja berkisar di angka 3.000-4.000 penumpang. Jumlah tersebut meningkat hingga 8.000 orang pada akhir pekan. Namun angka tersebut masih jauh dari target yakni 30.000 penumpang per hari.  

Menjawab kritik Prabowo ini, pria asal Solo itu mengatakan semua proyek infrastruktur yang dikerjakan sudah melewati uji kelayakan. Tidak hanya soal kualitas tetapi juga proyeksi penggunaannya.

Menyitir Jokowi, bila saat ini LRT Palembang masih sepi penumpang, lambat laun jumlahnya bakal bertambah seiring kesadaran masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi menuju transportasi masal. "Pengalaman saya mempelajari dari negara lain butuh 10-20 tahun," tandas Jokowi.

Bahkan negara tetangga terdekat, Singapura, butuh waktu jauh lebih lama dari yang dicontohkan Jokowi. Singapura memerlukan 50 tahun untuk membenahi transportasi umum menjadi secanggih dan sebagus saat ini. Tentu dengan demikian masyarakat atau penggunanya menjadi sangat antusias, begitu akrab dan menjadi sangat bergantung dengan moda transportasi umum.

Apa kabar LRT Jabodebek?

Demikian pertanyaan yang mengemuka usai debat tersebut di tengah proses pembangunan moda transportasi serupa di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek). Sudah banyak informasi yang terpublikasi terkait proyek pembangunan LRT Jabodebek. Selain itu, warga Jakarta dan sekitarnya pun bisa melihat proses pembangunan yang hingga kini masih berlangsung.

Focus Grup Discussion (FGD) bertajuk "Pembangunan LRT Jabodebek dan Sumsel untuk Siapa?" pada Rabu, 13 Februari 2019 lalu menambah informasi dan menyingkap banyak hal. Bertempat di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta Barat, acara yang digagas oleh Harian Warta Kota, bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian dan Kompasiana itu, dihadiri sejumlah narasumber terkait.

Mereka adalah Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri; Vice President PMO Operation LRT Jabodebek, Iwan Eka; Direktur Operasi II PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Pundjung Setya Brata; Pengamat Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno; dan Pengamat Perkotaan dari Universitas Tri Sakti, Nirwono Joga.

Para pembicara dalam acara FGD yang dipandu Maria Aneke, jurnalis Kompas TV/foto dokpri
Para pembicara dalam acara FGD yang dipandu Maria Aneke, jurnalis Kompas TV/foto dokpri
Acara ini dihadiri oleh para influencer, blogger, dan sejumlah komunitas dari Kompasiana dan Komunitas UNJ Commuter. Salah satu influencer yang cukup dikenal publik adalah Ditto Percussion, nama lain untuk Muhammad Pradana Budiarto yang adalah musisi, pembawa acara, plus penulis.

Acara sejak sore hingga menjelang malam itu mengupas banyak hal. Sejauh mana progress pembangunan, kapan mulai beroperasi, seberapa besar daya angkut, bagaimana jam operasional, siapa yang mengoperasikan, fasilitas apa yang akan tersedia, hingga besaran tarif. Tidak terkecuali masukan dari para peserta di antaranya fasilitas dan pelayanan yang ramah disabilitas, hingga ketersediaan moda tersebut untuk penduduk yang tinggal atau berdomisili di Tangerang.

Antusiasme peserta mengikuti FGD/foto dokpri
Antusiasme peserta mengikuti FGD/foto dokpri
Kita terlambat

Patut diakui pembangunan moda transportasi umum di Indonesia cukup terlambat dibanding negara-negara lain. Hal ini diakui oleh Zulfikri dengan menyebut durasi keterlambatan Indonesia dibanding negara-negara lain mencapai 26 tahun. Siapa saja yang sudah beranjangsana, jangankan ke Eropa dan Amerika Serikat, cukuplah ke Singapura, pun akan mengamini hal tersebut.

Penampakan LRT di Singapura/thetravelearn.com
Penampakan LRT di Singapura/thetravelearn.com
Bila masyarakat negara lain sudah bisa menikmati layanan transportasi publik yang memadai dan terintegrasi, penduduk di ibu kota Jakarta masih harus berkutat dengan pilihan yang minim dan pengorbanan lebih untuk menjangkau tujuan.

Selama hari kerja saya adalah satu dari ribuan warga yang menggunakan layanan KRL Commuter Line. Saya bersyukur bisa menikmati transportasi yang cepat dan tepat waktu. Sayangnya, volume penumpang masih tak sebanding dengan ketersediaan rangkaian kereta. Tak heran saat jam-jam sibuk, entah pergi atau pulang, para penumpang seperti bergulat dengan sesama untuk mendapat ruang di dalam kereta.

Potret stasiun KRL di ibu kota/foto Kompas.com
Potret stasiun KRL di ibu kota/foto Kompas.com
Kenyataan ini menunjukkan bahwa pilihan moda transportasi massal yang ada saat ini masih belum memadai untuk menampung arus penumpang yang tinggi. Relasi dan frekuensi perjanan KRL masih terbatas. Sekalipun telah ditopang oleh bus Transjakarta dan transportasi umum lainnya, masih saja kurang. Tanpa perlu mencari tahu berapa banyak penumpang yang memerlukan tambahan moda transportasi, sudah bisa dikatakan kehadiran LRT di ibu kota sangat diperlukan.

Idealnya, kata Zulfikri, sebuah kota dengan tingkat kepadatan penduduk di atas satu juta jiwa, memiliki angkutan transportasi massal seperti LRT dan MRT (Mass Rapid Transit). Itulah mengapa mengandalkan KRL, Transjakarta, Kopaja hingga mikrolet di ibu kota belum cukup memenuhi kebutuhan transportasi.

Pengerjaan tak mudah

Pembangunan LRT Jabodebek fase I membentang dari Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, lantas Cawang-Kuningan-Dukuh Atas dengan panjang keseluruhan mencapai 44,3 kilometer. Proyek ini dikerjakan oleh PT Adhi Karya Tbk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3