charles dm
charles dm Freelancer

Untuk sesuatu yang tidak dapat dikatakan, aku harus mengatakannya!!

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Refleksi Hari Gizi Nasional, Jangan Sepelekan Berat Badan Anak

30 Januari 2019   07:50 Diperbarui: 30 Januari 2019   14:28 196 1 1
Refleksi Hari Gizi Nasional, Jangan Sepelekan Berat Badan Anak
Ilustrasi cek berat badan anak/nakita.grid.id

Disadari atau tidak, saban 25 Januari kita memperingati Hari Gizi Nasional. Tak terkecuali tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, momen peringatan tersebut selalu dirayakan dengan berbagai cara. 

Mungkin saja ada yang tidak merayakan, tetapi memaknai perayaan itu dalam hidup sehari-hari. Bisa jadi ada yang tidak tahu, tidak merayakan, dan belum sepenuhnya mengaplikasikan pesan dari perayaan tersebut.

Bila kita sejenak membuka lembaran sejarah, Hari Gizi Nasional sudah menghiasi kalender perayaan sejak pertengahan 1960-an silam. Tahun ini memasuki tahun ke-59. 

Dikutip dari www.kemkes.go.id, yang menginisisi peringatan ini adalah Lembaga Makanan Rakyat (LMR) untuk memperingati dimulainya pengkaderan Tenaga Gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan oleh LMR pada 25 Januari 1951.

Kehadiran sekolah tersebut membuka pintu bagi kehadiran tenaga gizi yang semakin bertumbuh dalam jumlah seiring kehadiran banyak lembaga pendidikan terkait. Namun tidak hanya itu sasarannya. 

Sebagaimana diikhtiarkan oleh Prof.Poorwo Soedarmo, kehadiran lembaga pendidikan itu tidak lain untuk mendukung tumbuh kembang manusia Indonesia. Sosok yang dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia itu merupakan kepala Lembaga Makanan Raykat yang merupakan bagian dari Lembaga Penelitian Kesehatan yang dikenal sebagai Lembaga Eijckman.

Setelah diperingati bertahun-tahun lamanya, bagaimana status gizi masyarakat Indonesia saat ini? Apakah tak ada lagi masalah gizi yang dialami penduduk kita?

Mari kita lihat data yang tersaji saat ini. Salah satu masalah gizi yang masih dihadapi Indonesia adalah anak dengan berat badan kurang. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan satu dari lima anak Indonesia mengalami berat badan kurang.

Situasi ini bila tidak segera diintervensi akan berdampak lanjut. Apalagi bila itu mendera anak dalam usia tumbuh kembang.  Anak dengan berat badan tidak ideal terancam menderita gizi kurang (wasting), bahkan stunting atau tubuh kerdil.

Masih mengacu pada data Riskesdas 2018, presentase balita di Indonesia dengan berat badan kurang (underweight) dan berat badan sangat kurang (severe underweight) cukup tinggi yakni mencapai 17,7 persen.

Data-data di atas mengantar kita pada satu kesimpulan. Angka anak yang menderita kekurangan gizi di Indonesia masih tinggi. Bahkan melebihi ambang batas yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni 10 persen.

Bila situasi ini tidak segera diatasi maka risikonya akan mengular panjang. Tidak hanya mengancam tumbuh kembang balita, tetapi juga eksistensi bangsa. Kita terancam kehilangan generasi penerus. 

Di tangan anak-anak itu kita menyerahkan nasib bangsa ini. Bila tumbuh-kembang mereka tidak ditopang oleh gizi yang seimbang dan memadai maka sulit bagi mereka untuk bisa mengaktualisasikan diri secara baik di kemudian hari.

ada 14 provinsi yang memiliki proporsi gizi buruk lebih besar dibandingkan rata-rata nasional. Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi yang memiliki jumlah balita dengan gizi buruk terbesar, yaitu 6,9 persen terhadap populasi balita di daerah tersebut/Keterangan dan infografis dari Tirto.id
ada 14 provinsi yang memiliki proporsi gizi buruk lebih besar dibandingkan rata-rata nasional. Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi yang memiliki jumlah balita dengan gizi buruk terbesar, yaitu 6,9 persen terhadap populasi balita di daerah tersebut/Keterangan dan infografis dari Tirto.id
Kita bisa menggunakan dalil sederhana ini. Kekurangan gizi tentu akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Anak yang kurang gizi akan berpengaruh pada hasil belajar. 

Hasil belajar akan menentukan masa depan mereka. Bila hasil belajar tidak maksimal, tingkat kreativitas dan produktivitas mereka akan rendah. Konsekuensinya, mereka hanya akan menjadi pekerja kasar di kemudian hari.

Bila demikian maka sulit bagi mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Bila kehidupannya tak layak maka bukan tidak mungkin mereka akan melahirkan generasi serupa. Rantai persoalan ini pun akan terwarisi. Entah sampai kapan.

https://twitter.com/Nutrisi_Bangsa
https://twitter.com/Nutrisi_Bangsa
Dimulai dari Orang Tua

Persoalan gizi di Indonesia itu kompleks. Sebabnya pun beragam. Kemiskinan misalnya. Keterbatasan akses terhadap pangan yang cukup berdampak pada ketidakcukupan pemenuhan gizi. Namun kemiskinan itu hanya satu sebab.

Kekurangan gizi juga disebabkan oleh faktor lain. Mutu pelayanan kesehatan dasar yang rendah misalnya. Imunisaasi yang tak terpenuhi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku hidup tak sehat adalah sejumlah turunannya.

Di samping itu, kualitas pola asuh anak, konsumsi makanan yang tidak memenuhi syarat gizi seimbang, hingga faktor-faktor yang lebih luas seperit situasi ekonomi, politik, perubahan iklim dan sebagainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3