oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Kekalahan The Minions dan Aturan Servis yang Kembali Jadi Sorotan

23 Mei 2018   12:13 Diperbarui: 23 Mei 2018   15:00 2864 6 3
Kekalahan The Minions dan Aturan Servis yang Kembali Jadi Sorotan
Ekpresi Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya saat menghadapi ganda Thailand di partai kedua penyisihan grup Piala Thomas 2018/gambar badmintonindonesia.org

Pertandingan kedua penyisihan Grup B Piala Thomas antara Indonesia kontra Thailand, Selasa (22/5/2018) kemarin cukup menguras emosi. Meski di atas kertas tuan rumah kurang diunggulkan, situasi di lapangan pertandingan ternyata berbeda. Prediksi dan statistik tidak menjamin hasil akhir. Dalam pernyataan yang jamak disebut kira-kira demikian: segala sesuatu bisa terjadi.

Sedikitnya ada dua momen yang membuat saya harus menahan napas lebih lama. Pertama, saat menyaksikan partai kedua antara Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya menghadapi Kitthisak Namdash dan Nipitphon Puangpuaphet. 

Merujuk pengalaman dan ranking dunia, pasangan tuan rumah itu bukan lawan sepadan the Minions. Marcus dan Kevin yang kini berada di puncak rangking BWF diprediksi bakal menang mudah.

Namun harapan tinggal harapan. Meski berstatus non unggulan, Namdash dan Puangpuaphet tak mau menyerah sebelum bertanding. Keduanya membuat pendukung tuan rumah bersorak dan sesama anggota Tim Thomas dan Uber yang berada di sisi lapangan tersenyum dan menari. Setelah mengunci set pertama, keduanya sempat mendapat tekanan di game kedua. 

Namun mereka berhasil menjaga momentum untuk menyumbang poin. Diluar perkiraan, wakil tuan rumah ini membungkam juara All England itu dalam pertarungan selama 48 menit dengan skor akhir 16-21, 21-13, 12-21.

Kemenangan di partai kedua membuat Thailand bersemangat. Kedudukan kedua tim pun imbang. Partai ketiga menjadi krusial. Situasi berbeda terjadi di kubu Indonesia. Kekalahan The Minions meninggalkan kekecewaan. Apalagi para pencinta bulu tangkis di tanah air yang sempat terganggu dengan tayangan TVRI yang tiba-tiba berpindah ke lain program. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi netizen dan yang tak terpublikasikan menghadapi dua situasi yang cukup sensitif ini!

Harapan besar kini berpindah ke pundak Ihsan Maulana Mustofa yang tampil sebagai tunggal kedua. Apakah ia mampu mencatatkan kemenangan mudah seperti Anthony Ginting di partai pertama? Mampukah Ihsan bermain dengan tenang dan sambil sesekali mengumbar senyum seperti saat Ginting membuat Khosit Phetpradab tak berkutik?

Situasi sungguh berbeda. Ginting memiliki modal bagus saat menghadapi Phetpradab. Selain berada di depan lawannya dalam daftar ranking dunia, ia juga unggul dalam head to head. Ginting, pemain berperingkat 13 dunia, unggul 2-1 dalam rekor pertemuan atas pemain berperingkat 26 dunia itu. Di pertemuan terakhir di Malaysia Masters 2017, Ginting menang, meski harus bermain rubber set, 26-28 21-10 21-12.

Sementara Ihsan sebaliknya. Wangcharoen lebih diunggulkan baik dari peringkat dunia maupun rekor pertemuan. Wangcharoen berperingkat 32, sementara Ihsan 16 strip di belakangnya. Tidak hanya itu. Ihsan pun kalah di pertemuan sebelumnya pada awal Januari di Thailand Masters 2018. Saat itu pemain berusia 22 tahun ini menyerah straight set 14-21 13-21.

Situasi yang kurang menguntungkan ini membuat degup jantung kubu Indonesia makin kencang. Apalagi Ihsan! Selain kurang diunggulkan, ia juga mendapat tekanan tambahan dari situasi secara keseluruhan. Batin pemain asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini tentu cukup bergolak.

Ihsan berusaha tampil tenang. Sempat tertinggal di game pertama, ia mampu menyamakan kedudukan, bahkan dengan lebih meyakinkan di game kedua. Puncak pertarungan terjadi di game ketiga. 

Tidak hanya menguras tenaga kedua pemain, energi para penonton pun tersedot. Betapa tidak, kedua pemain menampilkan duel ketat. Saling kejar mengejar angka setelah kedudukan sama kuat 17-17. Bisa disebut setelah itu, jantung para penonton bekerja lebih kencang. Tanpa perlu berpanjang kata, perjalanan skor ini sudah cukup menggambarkannya: 18-18, 20-18, 20-20.

Setelah itu masih ada tiga match point lagi. Ihsan sempat tertinggal 20-21, sebelum menyamakan kedudukan menjadi 21-21. Selanjutnya giliran Ihsan memimpin, namun berhasil dikejar Wangcharoen. Ihsan kembali memimpin setelah "challenge in". Angka terakhir diwarnai reli panjang sebelum Ihsan menutupnya dengan "smash" keras. Bagi saya, "rally" terakhir menjadi "play of the day" yang mengkombinasikan teknik dan tensi yang panjang.

Ihsan Maulana Mustofa menjadi bagian penting dari kemenangan Indonesia atas Thailand/gambar dari badmintonindonesia.org
Ihsan Maulana Mustofa menjadi bagian penting dari kemenangan Indonesia atas Thailand/gambar dari badmintonindonesia.org
Tidak hanya itu, pertarungan kedua pemain selama 1 jam dan 22 menit itu menjadi duel terpanjang sementara di turnamen ini. Kemenangan Ihsan menjadi titik balik bagi tim Indonesia. Pasangan ganda putra Fajar Alfian/Mohammad Rian Ardianto serta tunggal ketiga, Firman Abdul Kholik tanpa kesulitan meraih poin. Kemenangan dua game langsung yang diraih di dua partai itu memastikan skor akhir 4-1 untuk keunggulan Merah Putih sekaligus membuka langkah ke perempat final.

Kredit patut diberikan kepada Ihsan. Dalam segala tekanan, ia mampu menyumbang poin. Ia melewati momen penuh ketegangan dengan semangat juang pantang menyerah hingga akhirnya menang. Meski begitu perjuangan tim secara keseluruhan patut diapresiasi.

Apresiasi juga patut diberikan kepada Thailand. Mereka telah menghadirkan tontonan yang menarik berkat "fighting spirit" yang memukau, tidak hanya kepada Indonesia tetapi juga Korea Selatan di pertandingan sebelumnya. Anak asuh Rexy Mainaky mampu mencuri satu game dari Indonesia dan dua game dari Korea Selatan, sebuah perjuangan yang pasti tidak mengecewakan penonton dan lebih dari cukup mendatangkan "respect."

Hasil akhir Indonesia vs Thailand/www.tournamentsoftware.com
Hasil akhir Indonesia vs Thailand/www.tournamentsoftware.com
Momok baru Minions

Kembali lagi ke Minions. Menarik berbicara lebih jauh tentang kekalahan pasangan ini. Terlepas dari faktor keberuntungan dan ketidakberuntungan, ada pertanyaan penting yang patut dikemukakan. Mengapa keduanya bisa menyerah mudah dari pemain non unggulan?

Banyak sebab, tentu saja. Jeda kompetisi yang cukup lama bisa menjadi alasan. Tidak mengayun raket dalam turnamen kompetitif selama dua bulan membuat mereka harus kembali beradaptasi satu sama lain. Termasuk pula mendapatkan kembali "chemistry" yang telah dibangun selama ini.

Waktu selama 60 hari memang cukup panjang untuk beristirahat. Tetapi juga cukup signifikan mempengaruhi momentum dan tren positif yang telah dijaga. The Minions terakhir kali tampil di tur BFW saat mempertahankan All England pada Maret lalu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3