Hamdani
Hamdani Cangkoi Burong | Penulis Independen

Ekspresikan Pikiran Melalui Tulisan

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Program "Beli Satu Buku Satu Bulan", Kiat Membuat Perpustakaan Mini di Rumah

6 Oktober 2018   06:36 Diperbarui: 9 Oktober 2018   09:31 3152 12 7
Program "Beli Satu Buku Satu Bulan", Kiat Membuat Perpustakaan Mini di Rumah
Foto: pixabay.com

Jika buku diibaratkan sebagai rumah, maka membaca merupakan jendelanya. So, untuk memperoleh rumah yang bagus dan indah sebaiknya diawali dengan sebuah rencana. Begitulah jika kita ingin memperoleh sebuah buku yang bagus, berkualitas, dan best seller.

Sebuah rencana diperlukan agar seseorang tidak salah membeli buku. Karena kita akan sangat kebingungan memilih sebuah buku yang benar-benar diinginkan di antara tumpukan buku yang menggunung di book store. Apabila tidak memiliki kriteria yang jelas terhadap buku yang akan dibeli. Maka lebih baik menunda belanja buku.

Memiliki buku-buku bagus dan berkualitas di pustaka pribadi tentu mempunyai makna tersendiri bagi tuan rumahnya. Bukan semata-mata untuk pencitraan atau niat membangun persepsi terhadap citra diri, akan tetapi buku-buku tersebut dapat nantinya dibaca oleh setiap orang yang membutuhkan.

Kualitas sebuah buku memang tidak diwakili oleh cover-nya. Bukan pula ditentukan oleh warna dan visual fisiknya. Namun buku berkualitas itu tercermin pada isi tulisan atau materi yang disampaikan dalam buku tersebut dari satu bab ke bab lainnya secara berkesinambungan dan menarik.

Banyak orang yang terpengaruh pada halaman depan sebuah buku saat mereka akan membeli. Apalagi dengan desain yang menarik dan artistik, membuat sampul sebuah buku semakin menonjol di antara deretan buku lain pada sebuah display di book store. Padahal nilai sebuah buku sangat tergantung pada isinya dan judul yang diangkat.

Membeli buku untuk dijadikan sebagai bahan koleksi di pustaka pribadi barangkali sedikit lebih mudah dalam menetapkan kriteria buku berkualitas yang diinginkan. Biasanya buku yang dicari pun sangat beragam baik dari judulnya, genre-nya sampai penulis. 

Sehingga alasan tersebut memudahkan kita untuk membeli buku dengan varian yang berbeda-beda. Dari berbagai variasi kemudian buku-buku itu dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok agar memudahkan dalam manajemen pustaka dan pengelolaan. Sehingga nantinya informasi tentang koleksi buku, judul, nama penulis dan kategori buku mudah disusun.

Dewasa ini kecenderungan orang dalam membeli buku memang sedikit menurun. Apalagi dengan berkembangnya buku digital yang dapat dengan mudah diunduh dari internet membuat buku berbasis kertas mulai ditinggalkan. 

Beberapa penjual buku di book store mulai mencemaskan kondisi ini karena berpengaruh terhadap penjualan mereka. Meskipun demikian para penjual buku versi kertas tetap berupaya agar usaha mereka dapat bertahan ditengah gempuran teknologi informasi yang semakin dahsyat.

Rata-rata pengunjung setiap hari ke toko buku menurut salah seorang pemilik toko buku di kawasan sebuah kampus di Kota Banda Aceh hanya mencapai puluhan orang. Jumlah ini menurun bila dibandingkan dua tahun lalu di mana setiap harinya hampir ratusan pengunjung yang datang dan membeli buku ditokonya.

Para penjual menduga ini sebagai dampak negatif dari berkembangnya distribusi buku-buku digital baik yang berbayar maupun gratis di internet. Mahasiswa yang biasanya membeli buku-buku ilmiah sebagai buku pegangan wajib dalam perkuliahan, kini lebih banyak membaca jurnal-jurnal yang diunduh dari publisher journal. Walaupun demikian untuk buku-buku pelajaran bagi siswa dan murid sekolahan masih banyak yang menggunakan buku kertas. Jadi bisnis buku masih ada peluang.

Bagi saya yang memiliki niat untuk membuat pustaka mini di rumah tentu tidak terpengaruh dengan tren buku digital, meskipun saya juga akan pertimbangkan untuk memasang media internet untuk dapat menikmati buku-buku 'online' di perpustakaan saya.

Untuk saat ini target membeli buku setiap bulan minimal satu buku merupakan strategi yang terus saya jalankan. Setiap pendapatan bulanan saya sisihkan sekurang-kurangnya sepuluh persen sebagai budget beli buku. Bahkan untuk beberapa jenis buku dengan anggaran belanja pribadi sepuluh persen itu dapat membeli lebih dari satu buku.

Selain itu saya juga mengajak anak-anak dan keluarga untuk ikut membeli buku setiap bulannya. Memotivasi mereka agar gemar membaca buku dan menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya belajar. Walaupun tidak mudah, namun secara pelan-pelan kesadaran mereka untuk mencintai buku mulai tumbuh.

Semoga cita-cita ini dapat sesegera mungkin terwujud menjadi kenyataan yang sesuai dengan harapan. Kini jumlah buku yang sudah kami koleksi masih sangat terbatas hanya 350-an judul saja. 

Target ke depan jumlah buku bisa mencapai ribuan, sehingga pustaka mini ini dapat dibuka untuk warga lingkungan sekitar terutama anak-anak. Dengan cara tersebut saya mengharapkan budaya membaca dapat menjadi bagian dari kehidupan mereka kelak.

Jika kita melihat pada indeks minat membaca dikalangan anak-anak, remaja, dan bahkan dikalangan mahasiswa sendiri sangat rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Anak-anak kita lebih senang bermain game online daripada membaca buku. 

Kalau pegang smartphone bisa tahan berjam-jam namun ketika membaca buku, satu halaman saja mereka tidak mau. Lantas bagaimana mau meningkatkan wawasan keilmuan dan pengetahuan mereka?

Salam***