Mohon tunggu...
Cak Miep
Cak Miep Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Hilangnya Semangat Generasi Pelopor

8 Mei 2019   18:32 Diperbarui: 8 Mei 2019   19:27 0 0 0 Mohon Tunggu...
Hilangnya Semangat Generasi Pelopor
147135174457b30bc04afaa-5cd2bc253ba7f769f3182323.jpg

Di masa penjajahan pendiri bangsa membangun nasionalisme dalam konteks melawan penjajah. para pendiri bangsa yang berjuang di masa pergerakan didominasi oleh generasi muda. Baik sebagai individu maupun sebagai komunitas, golongan mudah layang berani secara radikal mempertanyakan tantangan zaman nya. Mulai dari Kartini yang menggugat sistem paternalistik, A Rivai yang mempertanyakan mentalitet pribumi hingga Sutomo dan Gunawan yang menggugat kemunduran bangsanya merupakan contoh generasi Pelopor. Mereka merupakan perintis Gerakan anak-anak Muda.


Sebagai suatu peristiwa munculnya kaum muda sebagai pelopor di awal abad XX tidak dapat dilepaskan dari struktur masyarakat nusantara agraris yang sedang berkembang dengan pendidikan modern. Dalam Masyarakat agraris generasi muda cenderung dianggap sebagai sosok penerus yang tidak akan banyak melakukan perubahan radikal.

Penghargaan dan penghormatan terhadap senioritas dalam masyarakat tidak digugat oleh generasi muda. Memang pada masyarakat saat itu ada tradisi pemuda yang belum menduduki posisi tertentu memilih mengembara dan menjadi "joko lelono", pemuda pengembara. Para pemuda meninggalkan rumah untuk berguru dan menuntut ilmu ke berbagai perguruan atau pesantren sebelum yang bersangkutan kembali dan menetap dengan keluarganya. Berhubung aktivitas yang dilakukan cenderung Individual pengaruhnya tidak cukup radikal atau revolusioner.

Kondisi diatas berbeda dengan kepeloporan pemuda terdidik atau pelajar pada awal abad XX. Perkenalannya dengan pengetahuan modern melalui budaya baca-tulis memungkinkan kaum muda ini melakukan pengembaraan intelektual. Sebagai sosok yang sedang mencari jati diri dan mudah resah melihat ketidakadilan, mereka mampu merumuskan masalah yang dihadapi zamannya secara cerdas. Mereka tidak hanya melakukan perjuangan secara individu. Waktu senggang yang dimiliki serta pengetahuan modern yang dikenal memberi ruang anak-anak muda terpelajar pada saat itu mengusulkan dan atau melakukan perubahan formulasi sesuai politik.


Pengalaman hidup mereka yang sering diperlakukan tidak adil oleh sistem kolonial memberi pengaruh yang signifikan terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan. Segregasi masyarakat nusantara yang membedakan mereka dengan kelompok timur asing dan eropa menyadarkan mereka bahwa sistem sosial-politik-ekonomi kolonial yang kapitalis tidak cocok dengan cita-cita ideal mereka. Konsekuensi dari pengalaman tersebut mereka mengusulkan suatu sistem sosial-politik-ekonomi yang bersifat inklusi, adil serta menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.


Cita-cita ideal yang berkobar-kobar dari kaum  muda ini mendorong mereka untuk berani bersikap berbeda dengan generasi sebelumnya maupun generasi sezamannya. Mereka berbeda dengan generasi sebelumnya karena cara pandang mereka tentang perjuangan sudah berbneda. Pada generasi sebelumnya perjuangan lebih dikaitkan dengan kekrasan, yaitu perlawanan senjata. Generasi muda ini melihat perjuangan bersenjata atau fisik dianggap tidak relevan lagi. Mereka mengusulkan suatu perjuangan yang lebih mengandalkan "akal" melalui suatu organisasi yang bersifat modern. Posisi mereka sebagai anak-anak terpelajar atau terdidik memberikan cara pandang yang lebih berbeda dengan generasi sebelumnya.
Mereka juga berbeda dengan generasi sezamannya. Sebagai kelompok kecil yang kreatif, khususnya sebagai golongan terpelajar yang tercerahkan mereka berani memikirkan sesuatu yang lebih besar serta kepentingan yang jauh kedepan. Mereka tidak larut dengan kepentingan pribadi semata. Pandangan yang visioner menyebabkan mereka berani masuk dubia pergerakan nasional yang penuh resiko.
Kemampuan mereka membaca memungkinkan mereka melihat realitas secara berbeda. Keberaksaraan yang sebelum kedatangan penjajah masih dikuasai oleh kalangan istana dan mengalami kemunduran sehingga mayoritas masyarakat nusantara terbelenggu dalam kelisanan mulai menampakkan titik-titik longgar perubahan. Melalui kemampuan membaca mereka makin banyak mengenal kata. Kata telah membebaskan mereka dari keterbatasan dunia yang sempit. Dari pemnendaharaan kata yang makin banyak, kesadaran mereka makin tumbuh dan merekah. Mereka tidak hanya merasa sebagai obyek dunia. Mereka juga mulai mencipta dunia. Mereka memposisikan diri sebagai subyek dunia. Sebagaian dari mereka kemudian menulis dan dalam menulis mereka mendahuluinya dengan membaca.


Keberaksaraan telah membebaskan sosok Tirto Adi Surjo, Wahidin Sudirohusodo, Kartini, A. Rifai, Ahmad Dahlan dari belenggu keterbelakangan yang dialami oleh bangsanya. Mereka menjadi resah dan gelisah. Pengetahuan moderend yang diperoleh menjadikan mereka tidak lagi dapat melihat tradisi secara tradisional. Keberadaban suatu bangsa tidak lagi mengandalkan pada budaya lisan. Mereka menyadari bahwa melalui tulisanlah suatu bangsa dengan membangun dan mengaktualisasikan diri secara maksimal. Kelebihan bangsa barat yang lebih maju dan berhasil menjajah nusantara bukan disebabkan oleh takdir tuhan.


Mereka berhasil menjajah bangsa Asia Afrika karena penguasaan ilmu dan teknologi. Mereka lebih mengandalkan akal dan pikiran. Cara efektif melawan penjajah tidak patut lagi mengandalkan kekerasan atau kekuatan senjata. Cara perlawanan yang efektif adalah mencerdaskan rakyat untuk berani berfikir merdeka. Kemerdekaan substantif suatu bangsa tidak mungkin di realisasi tanpa adanya rakyat yang berani berfikir merdeka.


Dalam konteks itulah generasi muda pada masa penjajahan sangat gemar membaca, berdiskusi, berpolemik dan menulis. Kelompok ini biasanya tidak terbelenggu oleh kepentingan pribadi dan jangka pendek. Sikap altruis, yaitu kerelaan untuk berkorban demi kepentingan orang banyak cukup menonjol pada kelompok ini. Pada saat generasi sezamannya cenderung memikirkan memikirkan kepentingan diri dan keluarga melalui belajar dan mencari pekerjaan yang dapat memberi kemandirian ekonomi, generasi kreatif ini rela berkorban untuk kepentingan sempit dan sesaat yang dihadapi. Keberanian mereka dalam berjuang dengan pemikiran yang visioner itulah yang secara umum mereka disebut generasi pelopor.


Menurut sejarawan Onghokham (1991;136-7), posisi kaum muda tahun 08 dan 28 karena posisinya yang istimewa. Pada saat mayoritas masyarakat nusantara belum mengenal baca tulis, mereka mengenal dan mendapat ilmu barat. Berkat ilmu penguasa kolonial memungkinkan kaum muda ini sebagai intelegensia. Intelektual yang berfikir untuk masyarakatnya. Baik mereka yang belajar kedokteran, teknik, ilmu hukum, atau ekonomi tidak menyempitkan diri dalam bidang-bidang mereka, akan tetapi bacaan dan pendalaman pengetahuan mereka yang luas menyebabkan sadar akan isu-isu besar zaman mereka seperti kolonialisme, imperialism, hubungan internasional dan lain-lain. Generasi ini memang istimewa, berani menentang kolonialisme, menyodorkan suatu keadaan lain dari yang ada, yakni suatu indonesia merdeka."


Sebagai generasi pelopor secara kuantitas yang terlibat didalamnya tidak besar. Menurut Robert Van Niel (1984) kalangan terpelajar yang terlibat dalam dunia pergerakan tidak lebih dari 10% jumlah pelajar pada saat itu. Namun karena masalah yang diangkat banyak menyangkut masalah hajat hidup orang banyak pengaruhnya cukup besar dan signifikan dalam perubahan zaman. Gelora perjuangan kaum muda, sudah barang tentu bukan sekedar muda karena usia, melainkan karena pemikiran sangat menentukan perjalanan bangsa indonesia.
Dan mereka yang terjun dalam bidang pergerakan pada saat itu memang telah terseleksi oleh istem sosial-politik zamannya. Mereka yang tertarik dengan perjuangan rakyat tidak semata-mata disebabkan oleh keberanian, melainkan juga idealisme. Memperjuangkan bangsa dan negara bukan untuk memperoleh jabatan dan fasilitas. Sikap dan tindakan mereka sering menghadapi resiko ditangkap dan ditahan oleh aparat pemerintah kolonial. Suwardi Surya Ningrat, Douwes Dekker, Ciptomangonkusuma, Marcodikromo, Cokroaminoto, Tan Malaka, Sukarno, Hatta, Sjahrir dan banyak tokoh pergeragak lainnya yang ditangkap dan dipenjara oleh penguasa. Mereka tidak gentar. Konsekuensinya mereka yang berjuang sejak awal siap menghadapi resiko. Salah satunya ditanah merah Dan Boven Digul yang cukup menyiksa. Mereka yang ditangkap dan ditahan tidak malu. Mereka juga tidak dijauhi oleh masyarakat. Masyarakt tetap hormat dan kagum karena mereka dotahan justru oleh komitmen perjuangan untuk rakyat, bangsa dan negara. Dan setelah merdeka sebagian dari tokoh-tokoh yang ditahan tersebut dipercaya menjadi pejabat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x