Cahyani
Cahyani Freelance Writer

Yoga, masak dan parenting adalah keseharianku

Selanjutnya

Tutup

Wanita

Kesabaran Berbuah Nikmat, Yang Marah Pijatin

12 November 2017   00:58 Diperbarui: 12 November 2017   01:21 386 1 0

Percikan emosi terkadang hadir disaat lelah sudah menyeruak, sementara mereka berdua masih asyik mengajak bermain dan tidak segera tidur. "Singa nya mau keluar" itu istilah kami sekeluarga, kalau ada yang sudah menunjukkan gelagat mau emosi. Entah bibir si kecil yang lucu mulai cemberut, atau kakak nya yang tiba-tiba diam dan terlihat sebal atau bisa juga aku sendiri yang sudah mulai mengeluarkan kata-kata bernada sedikit keras.

 Sementara suami ku adalah yang paling sabar diantara kami, dialah yang seringkali mengingatkan "sabar ya cinta, kalau capek biar anak-anak sama aku saja" dan kemudian dia mengajak mereka berdua naik ke punggungnya untuk bermain kuda-kuda an, atau membuka papan catur hadiah dari kakek dan mulai bermain menjalankan peluncur, poin atau gerak kuda yang menurut mereka aneh.

Itulah suasana keluarga kecilku yang mengasyikkan, dengan beragam warna yang bercampur di dalamnya. Ada tawa, sedih dan bahagia.

Namun akhir-akhir ini suasana ketidakseimbangan sempat muncul.

1.Entah kenapa anak-anak jadi sering marah sendiri dan bertengkar. Kalau ngikut buku parenting nih, saya dan suami seringnya coba untuk biarkan mereka menyelesaikan sendiri. Tapi suasananya jadi agak kurang enak ya untuk beberapa saat. Akhirnya isakan tangispun mulai terdengar entah dari sang kakak atau adiknya, sementara saudara satunya lagi kemudian keluar sambil membanting pintu agak keras.

2. Mulai muncul benih-benih malasmengerjakan kumon, ngaji atau sholat. Dan ujung-ujungnya mereka sebal dan marah. Tapi anehnya kalau pegang gadget handphone dan nonton youtube bawaannya ga pernah bosan, asik banget. "kok jadi gini ya.." batinku, hal inipun akhirnya aku diskusikan dengan suami. Oiya tentang sholat, memang mereka belum wajib, karena kakak masih berumur 8tahun dan adiknya 6tahun. Namun kami berusaha untuk membiasakan sejak dini, dengan harapan tentunya semoga mereka terbiasa dan tentu juga kami tanamkan pemahaman pentingnya kita berdoa kepada Allah SWT, salah satunya adalah ya melalui sholat.

Momen pencarian..

Kami berdua (saya dan suami) berusaha untuk tetap sabar dan dengan telaten mengingatkan mereka "nak, kalau singanya mau keluar coba diam dulu atau katakan dengan baik, tidak perlu kok pake teriak" sahutku pelan . Sembari memikirkan cara kreatif bagaimana ya supaya kebiasaan marah dan bertengkarnya itu bisa hilang. Sedih sih kalau dengar anak-anak bertengkar dan kemudian berakhir dengan tangisan dan acara banting-banting mainan atau pintu. Yang saya tahu dan pahami, rasa marah itu sebenarnya hadir karena kita tidak bisa mengkomunikasikan perasaan kita dengan tepat. Entah itu perasaan kecewa, sebal atau apapun yang tidak pas di hati.

Misal nih..contoh kasus riil yang simple aja: kakak dan adik mau mandi berdua, namun kebetulan sang kakak masuk kamar mandi duluan dan entah kenapa dia belum sempat pakai closet untuk pipis, tahu-tahu adiknya segera menyusul masuk kamar mandi dan langsung pakai closetnya (dan tentunya tanpa ijin kakak yang sudah masuk duluan). Nah mulailah terjadi konflik deh. Kakak mulai teriak kepada adiknya sambil menangis, dan adiknya pun jadi ga terima. 

Akhirnya setelah beberapa saat belum damai juga, suamiku coba menengahi perlahan dan mengusulkan solusi "hayo kakak sama adik, ngobrol sebentar yuk. Usul nih, gimana kalau kita sepakat yang masuk duluan yang berhak pakai closet" ujar suamiku, dan disambungnya "dan kalau memang yang masuk terakhir mau pakai, tanya dulu sama yang masuk duluan, apakah closetnya dipakai atau tidak, gimana setuju?" setelah melalui sedikit proses tarik ulur khas anak kecil, akhirnya mereka berdua pun setuju. "Alhamdulillah, konfliknya sudah berakhir" lega rasanya.

Ide kreatifpun muncul..

Hari berjalan dan sampai akhirnya suami punya ide kreatif, "gimana kalau mulai hari ini, yang marah pijatin yang ga marah" sahut suamiku di suatu malam saat kami berempat sedang santai bersama. Awalnya kakak tampak kurang setuju, ya mungkin dia merasa kalau akhir-akhir ini sering marah. Adiknya justru yang langsung menyahut "setuju..!". Tapi pada akhirnya kami berempat sepakat aturan baru ini.

Ga pake lama, pada hari yang sama ternyata justru suamiku yang jadi tukang pijat perdana (entah dia sengaja untuk beri contoh atau nggak ya). Anak-anakpun senang sekali, karena bapaknya dengan telaten memijat mereka berdua satu-persatu, termasuk aku. Sembari suamiku meminta maaf kepada kami bertiga karena sempat kelepasan emosi, dan menjelaskan dengan perlahan penyebabnya. Yang paling berkesan buatku sih justru nikmatnya pijatan di telapak kaki yang mengalahkan foot massage langganan kami hehe..

Namun ternyata seiring waktu mulai tampak ada perubahan, khususnya kepada sang kakak dan adik. Mereka berdua jadi lebih jarang marah dan bisa bicara baik-baik kalau ada yang kurang pas di hati. Alhamdulillah ternyata kesabaran berbuah nikmat, dan semenjak saat itu sampai sekarang aturan Yang Marah Pijatin Yang Ga Marah inipun berlaku resmi keluarga kami.