Candrika Adhiyasa
Candrika Adhiyasa

Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Siliwangi, Tasikmalaya.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Seorang Tokoh yang Menangis Ketika Ia Tertidur

16 April 2018   21:29 Diperbarui: 16 April 2018   22:41 1705 2 0
Cerpen | Seorang Tokoh yang Menangis Ketika Ia Tertidur
ilustrasi. (Siarhei Mikhaliuk - @kulturtava)

Pada dini hari yang bising oleh lalu lintas perkotaan, Tala terbangun dari tidurnya. Seperti biasa, ia menguap, mengusap-usap matanya yang masih lengket, menyisir alakadar rambutnya dengan jari jemari. Ia kemudian berdiri, berjalan beberapa langkah dari ranjangnya. Alamak!ia terkejut bukan main bahwa kakinya tidak menapak di lantai. Tubuhnya tidak terasa berat lagi seperti pertama ia merebahkan tubuh di ranjang itu; setelah bekerja di kantor seharian. Ia menatap tubuhnya yang masih terbaring pulas di ranjang. 

Ditatapnya dirinya sendiri. Ia menggaruk-garuk kepala, tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Seketika ia bisa terbang ke tepi jendela kamarnya, membuka gorden, dan menatap ke jalan raya. Menjulang gedung-gedung tinggi, pabrik industri, dan kepulan asap yang biasanya terlihat jelas apabila hari belum berjumpa dengan malam. Beberapa tetes air sisa penghujan menghalangi telisiknya ke arah cahaya-cahaya yang bergerak secara akrobatik di sana. Seketika suara klakson, mesin, embusan angin, menjadi semakin menurun, semakin menghilang, lenyap, senyap. Tidak ada suara lagi. Ia menoleh kembali ke tubuhnya. Mengernyitkan dahi, memejamkan mata, ada apa ini?ia benar-benar tidak menemukan jawaban. 

Tik tok jam dinding masih berbunyi, tidak diredam entah oleh apa atau siapa seperti suara lainnya. Ditatapnya kedua telapak tangannya---hampir mirip asap. Ia pernah mendengarkan ucapan kakeknya perkara jin dan manusia dahulu, bahwa jin terbentuk dari unsur api dan udara, itu sebabnya jin bisa pergi ke mana pun tanpa terbatas ruang dan waktu. Sedangkan manusia, selain terbentuk oleh unsur api dan udara, ternyata didominasi oleh unsur air dan tanah, itu sebabnya manusia lebih lambat dalam bergerak -- jika dibandingkan dengan jin. Ketika teringat itu, Tala semakin diselimuti kebingungan. Apakah aku jin? Apakah aku sudah mati? Tidak mungkin. Masih banyak yang harus aku kerjakan, masih banyak rahasia yang harus aku utarakan.

Udara di kamar itu seketika menjadi sejuk. Ada kepulan asap tipis yang menyelinap ke celah jendela dan lubang ventilasi. Ternyata ini bukan asap, ini kabut.Tapi sejak kapan di kota semenjengkelkan ini ada kabut?Tala kemudian mencoba mengonfirmasi keraguannya sendiri, tentang masalah jin dan manusia itu. Ia mencoba menembus jendela yang semula menjadi penghalang antara dirinya dan rimba beton itu. Wusss...!ia ternyata benar-benar bisa menembusnya. "Cacing! Ternyata aku sudah menjadi jin!" ia sesenggukan, menyesali sesuatu yang telah disimpulkannya sendiri. 

Tubuhnya yang sudah terbiasa berjibaku dengan suhu tinggi, kini bergetar mencoba beradaptasi dengan nuansa sejuk yang benar-benar asing bagi kulitnya, tapi bukankah aku sudah menjadi jin?seketika ia terpental beberapa jauh. Seseorang mendekatinya. Husss! Jangan sembarangan!Tala benar-benar jengkel meski ia tak merasa sakit sedikit pun. Ditiliknya orang atau roh yang menghantamnya tadi. Janggut panjang putih, halis tebal putih, kumis yang jarang, mata sayu tapi tajam, suara parau tapi berkarisma. Apakah itu engkau, Kakek?

"Kakek, apa aku sudah mati?"

"Kau sudah mati sejak lama, Tala."

"Kenapa demikian?"

"Kau lebih tahu jawabannya."

Kemudian Kakek Tala menunjuk ke gedung-gedung yang berkilauan di malam gelap itu. Seketika ruang tempat mereka bertemu menjadi hampa udara. Tala sesenggukan menahan pengap. Tangannya meronta-ronta, seraya berisyarat udara ....Setelah Kakek Tala menjentikkan jari, angin berembus kembali. Tala menarik napas sepanjang-panjangnya, mengembusnya ke langit, mengulanginya beberapa kali. Gedung-gedung itu seketika meranggas mulai dari atas. Menjadi hijau, meski gelap. Seperti daun yang berguguran, tapi justru yang gugur kali ini adalah keguguran itu sendiri, dan meninggalkan dedaunan, yang teramat rimbun. 

Semuanya mengelupas seperti sobekan-sobekan kertas yang semula menutup gedung, kemudian diterbangkan oleh angin. Wusss ...! Yang berada di balik sobekan-sobekan kertas yang beterbangan itu adalah pepohonan. Sepanjang pemandangan berubah menjadi pohon, menjadi hutan. Tala hanya melongo melihat keanehan semacam ini. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Mula-mula ia yang berpisah dengan tubuhnya, kemudian bertemu kakeknya yang sudah berpuluh tahun yang lalu meninggal dunia, dan gemerlap kota yang tiba-tiba menjadi hutan belantara.

"Di sana," Kakek Tala menunjuk ke padang rumput terbuka, di sebelah utara belantara hutan yang begitu rapat.

Kakek Tala menunduk, menutup matanya, seperti menahan tangis, "di sana dulu kau berjanji pada kakek." kemudian berkata, "jangan pernah menjanjikan apa pun yang tidak bisa kau penuhi!"

Mendengar ucapan Kakek Tala yang menggema dan memangku getar kekecewaan yang teramat menggelegar, pikiran Tala mengawang ke masa kecilnya, masa ketika ia dengan sepenuh hati menyirami pot bunga dan menanam beberapa potongan pohon singkong bersama kakeknya. Di sana ia menuturkan janjinya kepada kakeknya untuk senantiasa menanam dan memelihara pohon, memelihara hutan.

Ketika Tala membuka matanya, Kakek Tala sudah pergi entah ke mana. Tala meneteskan air mata, menangis sekuat tenaga. Ketika ia sedang hanyut dalam kubangan kesedihan, juga penyesalan, tiba-tiba suara dentuman besar menyita perhatian Tala. Suara itu dari sana, dari hutan itu. Dilihatnya sebuah pohon kiara besar telah tumbang. Suara gergaji mesin bermunculan dari semua penjuru. Gergaji mesin itu dibawa oleh orang-orang berotot dan mengenakan topeng seperti karung goni yang dibolongi bagian mata, hidung, dan mulutnya. 

Suara tawa seorang lelaki berembus dari ujung hutan itu, segaris lurus dengan tempat Tala terbang. Seorang pria parlente, dengan jas dan kacamata hitamnya, menunjuk ke setiap pohon yang berdiri dan diikuti oleh orang-orang bertopeng yang membawa gergaji mesin itu, digerjajinya setiap pohon yang ditunjuk oleh pria parlente itu, satu-satu sampai kemudian habis. Semuanya tumbang. 

Tala hanya diam terpaku, tak bisa berbuat apa-apa. Pria parlente itu menyisir tiap petak hutan, mencari pohon yang masih berdiri. Ia tidak menemukan pohon lagi. Lantas ia menatap Tala dengan mata yang merah, mata yang serakah, mata setan, seraya menunjuk tepat pada Tala. Orang-orang bertopeng yang semula sibuk mencari pohon yang masih berdiri, serempak menatap ke arah Tala, dan berlari mendekati Tala. 

Mereka berteriak-teriak, Tumbangkan! Tumbangkan! Tumbangkan! Hahaha!Tala dihinggapi ketakutan, ia terbang mundur, berusaha masuk kembali ke kamarnya. Namun sayang, usahanya tidak semulus ketika pertama kali berusaha menembus jendela kamarnya itu. Ia menoleh, tidak menemukan jendela kamarnya, hanya berdiri satu pohon besar di belakangnya, dan pohon itu menangis tersedu sedan. Ada apa, Pohon? Ada apa?tiba-tiba deru gergaji mesin dan tawa yang mengerikan semakin mendekat, Tala menoleh, orang-orang bertopeng itu tinggal dua langkah saja jaraknya. Gergaji mesin itu menebas leher Tala. Orang-orang bertopeng itu tertawa, disusul tawa yang lebih keras dan mengerikan pria parlente itu, hahahahaha!

Alarm berbunyi sangat bising. Tala terkejut bukan main. Ia bangun dari ranjang. Menampar-nampar pipinya dan mengaduh kesakitan. Ia masih tidak percaya bahwa ia jin, juga tidak sepenuhnya percaya bahwa ia manusia---yang artinya kejadian itu masih abu-abu di ingatannya, antara fiktif dan fakta. Ia tidak terlalu peduli. Tangannya bergetar hebat, keringatnya membanjiri pelipis dan sebagian besar torsonya. Getar apa ini? Ia langsung bergegas mencari telepon selulernya, menghubungi seseorang.

"Halo .... Royan? Proyek itu segera batalkan!"


Candrika Adhiyasa

Tasikmalaya, 15 April 2018