Mohon tunggu...
Buyung Okita
Buyung Okita Mohon Tunggu... Spesialis Nasi Goreng Babat

Humaniora

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Moralitas dalam Balutan Warna Hitam dan Putih

7 Juli 2020   13:41 Diperbarui: 8 Juli 2020   14:24 85 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Moralitas dalam Balutan Warna Hitam dan Putih
91ydhnmecvl-ac-sx522-5f057321d541df7a78309812.jpg

Setiap masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma dalam hidup bermasyarakat.  Dapat dipahami bahwa nilai-nilai dan moral tersebut hidup mendampingi, menyertai dan membentuk karakter dan sikap sosial masyarakat.

Nilai dan moralitas merupakah sebuah konsep yang abstrak, tetapi apakah kita tahu bahwa kita memandang moralitas yang abstrak tersebut dengan cara metafora ? yang dimaksud memandang scera metafora adalah memandang sesuatu yang abstrak dengan menggunakan, menyamakan atau mengasosiasikan dengan sesuatu yang lebih konkrit atau mudah dipahami.

Secara umum kita memandang sesuatu dimana 'keadaan sesuai dengan keadaan moral yang diinginkan' dengan kata  'bersih' dan 'indah'. Sebaliknya dimana suatu 'keadaan tidak sesuai dengan nilai moral yang diinginkan' atau berlaku di masyarakat dengan memandangnya sebagai sesuatu yang 'kotor' dan  'jelek'.  Mari kita lihat dengan contoh frasa dibawah ini,

  • Politik yang bersih
  • Membersihkan nama baik
  • Mengotori nama keluarga
  • Berpekribadian buruk

Jika kita lihat empat frasa di atas, bersih yang dimaksud bukanlah kondisi apakah ada kotoran atau tidaknya suatu benda, tetapi merupakan sebuah ungkapan untuk mengungkapkan ada atau tidaknya nilai-nilai moral yang berlaku pada suatu sikap, tindakan atau keadaan.

Sebagai contohnya agar lebih mudah, mari kita coba bayangkan sebuah kain atau suatu benda, secara umum benda yang kotor akan berubah warnanya menjadi gelap. Dan sesuatu yang mudah untuk menjadi lebih gelap ketika kotor adalah sesuatu yang berwarna putih.

Karena itu, 'adanya nilai moral adalah,  kondisi indah yang berwarna putih' dan 'tidak hadirnya moral adalah kondisi kotor yang berwarna hitam' adalah bagaimana kita secara sederhana memandang nilai-nilai moralitas yang abstrak dengan sesuatu yang lebih konkrit dengan menghadirkan warna.

Lakoff (1996) lebih menegaskan bahwa manusia lebih mudah untuk memandang sesuatu yang baik dengan warna putih, dan absennya moralitas atau sesuatu yang buruk dengan warna 'hitam'. Lebih dalam lagi, sikap tengah-tengah antara baik dan buruk dipandang dengan warna abu-abu. Dapat dipahami pula bahwa perpaduan warna hitam dan putih menghasilkan warna abu-abu. 

Dapat dipahami bahwa kita memandang sesuatu dengan cara metafora, yaitu mengkongritkan sesuatu yang abstrak atau kita menggunakan sesuatu yang lebih konkrit untuk memahami dan melihat sesuatu yang lebih abstrak. dari situ pula, terlahir suatu produk linguistik yang berbentuk ungkapan, seperti beberapa frasa diatas.

Pada budaya populer juga muncul bahwa menggambarkan seorang pahlawan dengan pakaian yang lebih cerah dan menggambarkan seorang penjahat atau sosok antagonis dengan ambience nuansa yang murung dan gelap. Sehingga menghadirkan nuansa bahwa warna yang cerah atau putih membawa suatu makna nilai baik, dan sesuatu yang gelap dan hitam mengandung makna yang 'tidak baik'.

Lalu sebaliknya, apakah ada yang memandang bahwa warna hitam berasosiasi dengan keadaan yang baik ? dan warna putih malah sebaliknya ?

Penulis pribadi menyukai quote yang diucapkan suatu tokoh fiksional game SUIKODEN III yang terbit di tahun 2001 oleh KONAMI, yang bernama Nash Latkje (seorang aristokrat bangsawan dalam pelarian) dalam ungkapannya yang berbunyi "Adults have their reason. You children who see the world in black and white will learn soon enough about the shades of grey."

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x