Mohon tunggu...
bustanol arifin
bustanol arifin Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Happy Reader | Happy Writer

Tertarik Bahas Media dan Politik | Sore Hari Bahas Cinta | Sesekali Bahas Entrepreneurship

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Rumah Makan dan Gagasan

5 Desember 2023   06:25 Diperbarui: 5 Desember 2023   06:44 113
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber gambar: kamran adynov/freepik

Beberapa waktu lalu, salah satu kolega mengajak saya santap siang di sebuah Rumah Makan Padang di Jakarta. Dari luar, rumah makan yang kami singgahi ini nampak sederhana dan jauh dari kesan mahal layaknya restoran mewah pada umumnya. Tentu, saya tidak mempersoalkan mewah atau tidaknya rumah makan tersebut, karena memang saya diajak dan ditraktir, bukan mengajak. Jadi, apapun bentuk serta pelayanannya saya terima dan saya ucapkan terimakasih beriring syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika masuk, suasananya jadi berubah. Tak seperti yang saya bayangkan dari luar, sederhana dan apa adanya. Mulai dari penataan ruang, tempat duduk dan meja makan, serta pelayanan ramah dari para pelayan. Dari luar terlihat kecil, namun ternyata di dalam sangat luas, lengkap dan nyaman. Ada ruang khusus VVIP, westafel di setiap sudut, musholla dan juga kamar mandi. Kebersihan dan kerapihan juga sangat terjaga, semua petugasnya nampak memakai seragam dan pastinya semua makanannya dijamin halal.

Seorang pelayan mempersilakan kami duduk di atas kursi empuk warna merah yang mengitari meja panjang sambil bincang santai bersama. Lalu, saya izin pamit ke belakang sebentar, hendak melihat-lihat karena penasaran dengan alasan buang air. Setelah berkeliling, kembali saya ke meja makan dan di sana sudah tersaji beraneka ragam menu makanan khas Padang siap santap. Memang konsepnya prasmanan, kita disajikan semua jenis menu meskipun tidak semua kita makan, dan saya menyantap sop iga plus telur bumbu santan.

Jujur, satu mangkok sop iga dan telur bumbu santan membuat saya lupa sementara hutang-hutang saya. Sebab, rasanya memang sangat pas di lidah saya tanpa ada cela sedikitpun. Ingin rasanya mencicipi semuanya, namun karena terjaga oleh etika serta rasa malu, cukuplah dua saja. Nah, soal harga saya tidak bisa bercerita karena memang sudah diurus oleh kolega saya. Yang jelas, perut kenyang pikiranpun jadi tenang, dan hal penting lainnya adalah dari sekian banyak menu itu hanya dua yang saya pilih, sesuai dengan selera serta kebutuhan.

Peristiwa tak terlupakan ini hendak mengantar pesan penting dan inti dari tulisan ini. Sengaja saya ajak singgah di rumah makan dulu agar handai taulan yang membaca catatan sederhana ini dalam keadaan tenang dan nyaman, syukur-syukur kalau sudah kenyang. Sebab, boleh jadi ada perbedaan cara pandang pada topik atau objek yang sama disebabkan oleh pengetahuan, pengalaman yang berbeda pula. Bisa juga karena faktor haus-lapar, sehingga yang seharusnya senang malah jadi emosional. Jangan sampai jadi kenyataan!

Apa yang hendak saya sampaikan? Pastinya, terkait masa depan kita, bangsa Indonesia semua. Pemilu sudah di depan mata, dan sudah ada tiga pasang calon presiden beserta wakilnya. Ini harus dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting dan utama dalam agenda hidup kita, memilih pemimpin demi masa depan kita, Indonesia. Mengapa penting? Karena mereka inilah yang akan menakhkodai perahu besar bernama Indonesia, berlayar membawa kita bersama menuju pelabuhan bernama keadilan sosial bagi seluruh bangsa.

Tentu saja, yang menarik dari ketiganya selain rekam jejak serta ketokohan mereka adalah visi-misi mereka dalam menakhkodai Indonesia nanti. Visi-misi itu merupakan kumpulan ide serta gagasan yang semuanya bersumber dari pikiran-pikiran besar mereka. Tujuan utamanya sama, namun cara kerja dari masing-masing calon yang berbeda. Inilah alasannya mengapa rakyat Indonesia harus memilih mana cara yang paling pas, baik, relevan dan mampu menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara Indonesia kini dan nanti.

Saya melihat dan memperhatikan secara cermat gagasan-gagasan mereka, baik Anies, Ganjar maupun Prabowo melalui visi-misnya. Ada banyak hal yang mereka tawarkan kepada kita dan semuanya bagus meskipun belum tentu baik dan berlaku juga sebaliknya. Mulai dari masalah pertahanan, ekonomi, hukum, energi, teknologi informasi, pendidikan, kesehatan, SDM dan lain sebagainya. Mereka semua menyuguhkan solusi sepaket dengan cara kerjanya. Artinya, kita sebagai penumpang tinggal duduk manis lalu sampai pada tujuan.

Mari saya ajak kembali ke rumah makan tadi! Jika diibaratkan, ketiga pasangan calon presiden dan wakilnya ini seperti rumah makan, dan gagasan-gagasan mereka adalah menu makanan di restoran tersebut, pelayannya, ya, tim sukses yang sekarang sedang bekerja keras. Kita apa? Calon pembeli yang dengan sendirinya sedang mencari rumah makan atau diajak orang untuk makan. Sama persis seperti peristiwa yang saya alami di rumah makan dalam kisah tersebut di atas, nampak sederhana dari luar tapi di dalamnya luar biasa.

Begitu pula sebaliknya, bagian depannya terlihat megah plus mewah, tapi isinya tidak sesuai ekspektasi. Dari sini kita harus mulai hati-hati, jangan sampai salah pilih rumah makan karena akibatnya adalah kekecewaan. Bila kita diajak, pastikan yang mengajak adalah orang yang baik dan paham keadaan. Telusuri rekam jejaknya, cermati gagasan-gagasannya serta perhatikan cara kerjanya. Karena kalau sampai salah pilih, seperti orang makan, kecewa dan akan selalu diingat dalam kurun waktu yang cukup lama.

Bagi para calon presiden dan wakil presiden atau pemimpin secara umum, bagusnya meniru cara penyajian menu ala Rumah Makan Padang, yakni prasmanan. Semua ragam gagasannya disajikan di atas meja dan mempersilahkan rakyat Indonesia memilih berdasarkan kebutuhan serta selera masing-masing. Jangan ada yang disembunyikan, apalagi menunggu masyarakat datang bertanya lalu memesan. Hemat saya, semakin banyak gagasan yang disajikan niscaya semakin membuka kesempatan bagi rakyat memilih menu kesukaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun