Budiman Hakim
Budiman Hakim karyawan swasta

When haters attack you in social media, ignore them! ignorance is more hurt than response.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Si Pikun dan Si Baper

13 Oktober 2017   16:25 Diperbarui: 13 Oktober 2017   16:34 778 0 0
Si Pikun dan Si Baper
Reuni SMAN 4

Belakangan ini ingatan saya semakin lemah. Entah kenapa, saya gampang sekali lupa, padahal usia saya masih tergolong muda. Tahun ini usia saya baru saja memasuki kepala 4 (pasti banyak yang sewot nih!). Hal ini agak mengherankan sebenernya, sebab sejak dulu saya selalu dikagumi orang-orang terdekat karena ingatan saya sangat tajam bahkan saya mampu mengingat apa yang terjadi dengan detil ketika saya masih berusia 4 tahun.

Kelemahan mengingat ini untungnya tidak berlaku di semua hal. Dari semua memori, yang paling banyak terhapus adalah wajah teman-teman lama termasuk namanya. Tadinya sih ini gak terlalu jadi masalah tapi sejak munculnya FB, tiba-tiba muncul musim reuni yang gak kalah hits dengan musim duren yang sekarang bisa kita temui sepanjang tahun. Nah, masalah pikun ini mulai merepotkan karena teman-teman sekolah SD sampe universitas doyan banget bikin reuni.

Suatu hari saya sedang menghadiri reuni sekolah menengah yang diadakan di sebuah gedung pertemuan di bilangan Kebayoran Baru. Temen-temen yang datang lumayan banyak. Dan believe it or not, dari semua teman yang hadir, hampir semuanya saya lupa baik itu wajah dan namanya. Herannya, teman-teman itu justru masih mengingat saya dengan baik.

"Hey, Bud. Apa kabar? Lo masih inget gue, gak?" tanya seseorang saat saya sedang mengantri untuk makan di meja prasmanan yang bentuknya memanjang.

"Sorry, elo siapa, ya? Gue lupa lagi, nih," jawab saya sejujurnya.

"Gue Ikhsan. Dulu kita pernah sekelas waktu kelas 2," kata orang itu lagi.

Dengan teliti saya pandang orang itu lekat-lekat sambil mengerahkan kemampuan memori di kepala. Orang itu berwajah menyenangkan dengan kumis kecil dan rapih di atas bibirnya. Namun sialnya, walaupun sudah memaksimalkan otak sampe pol, tetap saja saya gagal mengingat orang itu, "Sorry, gue lupa banget."

Orang itu tersenyum bijaksana lalu berkata lagi, "Iya, gak papa. Kita emang udah semakin tua, sangat wajar kalo ingatan kita tidak setajam dulu lagi."

"Iya, maaf, ya," kata saya lagi.

"It's okay," sahut Ikhsan menepuk pundak sambil tersenyum kemudian beranjak pergi dengan muka datar.

Sayangnya gak semua orang bisa sepengertian kayak Ikhsan. Maklumlah kan orang semakin tua jadi semakin sensitif, di usia sekarang mereka jadi gampang baperan. Banyak yang gak terima ketika mengetahui kalo saya melupakan mereka.

"Assalammualaikum, Budiman Hakim!!! Antum Budiman Hakim, kan?" Tiba-tiba seorang tinggi besar, berwajah arab dan berjanggut lebat menyapa saya dengan suara menggelegar.

"Iya betul," sahut saya.

"Hehehee... Antum apa kabar, Bud? Ana kangen banget sama, Antum!" Orang bertubuh raksasa itu mengembangkan tangannya dengan isyarat hendak memeluk.

"Ahamdulillah gue baik-baik aja," kata saya sambil membentangkan tangan menyambut pelukannya.

"Huhuhu... Udah berapa lama ya kita gak ketemu. Antum sehat-sehat aja kan?" Rupanya temen saya ini beneran kangen banget karena dia menangis kecil tersedu seraya memeluk saya lama sekali sementara kedua tangannya terus menepuk-nepuk punggung saya.

"Maaf, elo siapa ya?" tanya saya setelah pelukan berakhir.

"Heh? Masa Antum gak inget? Ana Alwi. Ana duduk persis di belakang Antum waktu kelas 3," kata orang itu.

Tiga menit berikutnya saya belanjakan penglihatan untuk memandangi Alwi. Saya perhatiin matanya, hidungnya namun lagi-lagi, saya gagal untuk mengingat orang itu, "Sorry, memori gue udah kacau nih. Gue udah lupa sama sekali."

"Ah sombong sekali Antum sekarang! Mentang-mentang udah sukses, Antum gak mau kenal lagi sama teman lama?" kata Alwi dengan nada keras.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4