Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Man on the street.

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Susuk Paku Emas untuk Penglaris

16 Oktober 2020   06:26 Diperbarui: 16 Oktober 2020   08:37 485 57 18 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Susuk Paku Emas untuk Penglaris
Gambar oleh Karl-Heinz Lpke dari pixabay.com

Setahun lebih sejak lengsernya Soeharto dari tahta yang didudukinya selama 32 tahun, saya bergabung dengan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan makanan dan minuman (mamin). Rumah makan berlantai dua dan berkapasitas tempat duduk sebanyak 250 buah itu sedang mengalami kemerosotan penjualan.

Tempat yang dilengkapi dengan musik hidup full band dan bar (untuk penjualan minuman beralkohol) terseok-seok dalam perjalanan usahanya. Bisnis kuliner yang memiliki pegawai lebih dari 60 orang itu nyaris tersungkur memikul beban pengeluaran tetap yang menempati bagian besar dari postur keuangannya.

Takperlu diceritakan bagaimana serunya, ketika pengeluaran balapan dengan pemasukan. Sudah pasti penampilan finansialnya remuk berdarah-darah.

Sebagai "anak baru" saya mengumpulkan para manajer, untuk mendapatkan masukan dan solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Ternyata hasil pertemuan menyimpulkan satu hal: jauh lebih panjang daftar kritik atas kelemahan entitas usaha itu, daripada solusi yang ditawarkan mereka. Dengan kata lain, rapat berlangsung dalam suasana perdebatan panas takberujungpangkal, emosional, dan tidak rasional.

Satu jalan yang disampaikan oleh salah satu manajer, adalah tentang terhalangnya "pintu rejeki" akibat perbuatan klenik dari pesaing. Untuk mengatasinya, ia menawarkan pemasangan susuk paku emas pada bangunan restoran, sebagai ikhtiar untuk menyingkirkan "halangan mistis" dan upaya penglaris. Dengan itu diharapkan pada masa mendatang penjualan mamin di kafe tersebut dipercaya akan meningkat.

Seperti mendengar cerita fiksi, tetapi mayoritas peserta rapat menyetujuinya. Terpaksa pengadaan susuk paku emas untuk penglaris itu disetujui, meski terkesan absurd bagi saya.

Singkatnya, sang manajer pengusul melakukan perjalanan ke luar kota demi menemui "orang pinter". Beberapa hari kemudian membawa susuk penglaris, dan menyarankan agar dipasang di balok penyangga atap. Maka dipasanglah susuk paku emas di atas plafon sedemikian rupa hingga tersembunyi.

Sampai 3 bulan susuk terpasang tidak menunjukkan pengaruh. Penjualan masih diam tidak beranjak dari posisi bawah, kadang membuat jantung berhenti berdegup.

***

Sesungguhnya badan usaha yang dibangun tahun 1995 itu mengalami kejayaan selama 5 tahun awal beroperasinya. Dalam masa itu bisnis serupa masih laris. Ia merupakan tujuan warga metropolitan untuk mengekspresikan gaya hidup mutakhir, dimana persaingannya belum ketat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN