Mohon tunggu...
Budhi Kusuma Wardhana
Budhi Kusuma Wardhana Mohon Tunggu...

Pekerja kantoran yang suka baca, penikmat sastra dan teater, menggemari fotografi, mencintai traveling demi sebuah reportase. Baginya menulis adalah bentuk aktualisasi diri, seperti kata Filsuf Perancis Rene Descartes, Cogito Ergo Sum, yang kemudian diplesetkan menjadi, "Aku Nulis, Maka Aku Ada!". Bisa ditemui di Facebook : budhi.wardhana, Twitter : @budhiwardhana, dan email : budhi.wardhana@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Travel

Sisi Senyap Siem Reap

29 Desember 2012   08:25 Diperbarui: 24 Juni 2015   18:51 0 0 2 Mohon Tunggu...

[caption id="" align="aligncenter" width="600" caption="Pohon-Pohon Raksasa di Tengah Kota Siem Reap yang Mampu Memberikan Kesegaran dan Kesejukan / Foto : Budhi K. Wardhana"][/caption]

 Di balik kemegahan Angkor Wat yang mengagumkan, seorang mantan tentara cacat bergulat mempertahankan hidup di jalanan.

Siem Reap telah membuatku jatuh cinta di awal perjumpaan. Serupa dua puluh tahun silam saat seorang gadis belia telah menawan hatiku pada pandangan pertama. Kota ini menyajikan pagi yang diam, berbalut aroma tanah basah sisa hujan semalam, dan juga embun yang masih sesekali menetes dari daun-daun peneduh jalan. Semuanya seperti mengisi kerinduanku pada sebentuk keheningan yang lama terlupakan. Saya melirik arloji, subuh memang sudah berlari menjauh, tapi matahari masih belum terlihat. Pagi terasa dini bagi sebagian orang, namun tidak bagi yang lainnya. Seorang bule tampak bermandi keringat berlari pagi di jalanan kota yang tak mulus teraspal. Demikian pula dengan puluhan sopir tuktuk yang sudah berebut rejeki saat saya menuruni tangga bis yang membawaku dari Phnom Penh tadi malam. [caption id="" align="aligncenter" width="600" caption="Matahari Terbit di Angkor Wat / Foto : Budhi K. Wardhana"][/caption] Mungkin tak ada yang terlalu istimewa dari Siem Reap selain kesunyian di awal hari. Namun tiap tahun jutaan orang rela menyambangi tempat ini. Apalagi kalau bukan lantaran peninggalan Angkor Wat yang mengagumkan dan monumental. Sampai-sampai produser Hollywood menjadikan peninggalan suku bangsa Khmer itu sebagai latar belakang film Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie. "Everyday is rainy in Siem Reap,” teriak Sokwan sopir tuktuk yang pagi ini mengantarku menuju penginapan. Awal Oktober yang basah karena musim hujan datang tepat waktu. Beberapa kali dia mesti berkelok dan bermanuver menghindari kubangan air di sepanjang jalan. Tak ayal ini membuatku mesti berpegangan erat sembari menahan dingin udara pagi. Namun Sokwan seolah tak peduli. Sopir itu tetap melarikan tuktuknya seperti dikejar setan. [caption id="" align="aligncenter" width="600" caption="Pawai Anak Sekolah Menyambut Tahun Ajaran Baru / Foto : Budhi K. Wardhana"][/caption] Wajah sederhana kota kecil di barat laut Kamboja ini seakan mengingatkanku pada Bogor di masa lampau. Pepohonan rindang di sepanjang jalan dan sisi sungai serupa dengan pohon-pohon raksasa di jalanan Bogor dan Kebun Raya. Berjuluk Siem Reap bukanlah tanpa sebab. Beberapa orang mengartikannya sebagai kekalahan Siam alias Thailand, tapi yang lainnya menerjemahkan sebagai kegemilangan negeri gajah putih. Tentunya ini mengacu pada perseteruan dan pertumpahan darah yang terjadi turun temurun. Bolehlah saya menyebut tempat ini sebagai kota yang santai. Pasalnya, menjelang siang saya begitu leluasa menelusuri tiap ruas jalan dengan kayuhan sepeda yang kusewa satu dolar sehari. Lalu lintas terasa lengang meski sekarang adalah hari Senin yang sering identik dengan kesibukan di berbagai tempat. Mendadak serombongan anak sekolah berbaris memenuhi jalan raya sembari berteriak dan bernyanyi. Ada apa gerangan? “Sekarang hari pertama masuk sekolah,” tutur seorang perempuan warga kota yang saya temui di jalan. “Mereka punya kebiasaan untuk berpawai keliling kota di hari pertama.” Saya manggut-manggut, menghentikan sepeda, dan mengambil beberapa gambar. [caption id="" align="aligncenter" width="400" caption="Salah Satu Arca di Angkor National Museum / Foto : Budhi K. Wardhana"][/caption] Selanjutnya saya kembali menggenjot pedal. Kali ini Angkor National Museum menjadi tujuan. Mulanya agak sayang melepas dua belas dollar sebagai tiket masuk, tapi usai menjelajah beberapa saat, rasanya tak sia-sia saya merogoh kocek. Museum ini memang didesain sangat menarik. Penataan dan penyajian koleksi terlihat demikian menawan. Efek audio visual dengan sentuhan teknologi menjadikannya tampak tak biasa. Seolah memasuki lorong waktu, saya diajak berkelana ke awal peradaban Bangsa Khmer kuno. Dari ruang ke ruang, kisah pun mengalir perlahan. Beragam peninggalan seni budaya, sejarah, dan religi, terpilin dalam aneka ragam fakta dan cerita. Sesuatu yang membuatku terpukau dalam tanya, mengapa Kamboja terpuruk begini rupa, padahal dulunya mereka memiliki riwayat peradaban yang mengagumkan? [caption id="" align="aligncenter" width="600" caption="Seorang Gadis Kamboja Berfoto di Royal Independence Garden / Foto : Budhi K. Wardhana"][/caption] Saya sempatkan singgah sebentar di Royal Independence Garden. Taman tengah kota ini menyuguhkan oase keteduhan di sela panas matahari yang beranjak terik. Beberapa gadis berseragam sekolah terlihat kenes berfoto-foto lewat ponsel di sekitar taman berlatar hijau pepohonan. Salah satunya bergaya malu-malu saat lensa kameraku menyasar wajah belianya. Senyum yang ditahan, lagi-lagi menarik ingatanku ke dua puluh tahun silam, ketika gurat bibir seorang gadis begitu menawan hatiku. Perlahan kudengar nyanyian nyaring dari rongga perut. Bergegas saya mengayuh sepeda melewati sisi sungai yang rindang, berbelok sebentar melintasi jembatan, hingga bertemu keramaian di Pasar Lama. Perut yang meronta, membuat liurku menetes demi menatap aneka hidangan di warung makan sekitar pasar. Kurang dari sepuluh menit, sepiring nasi berlauk ikan dengan racikan ala Khmer sudah tandas tak bersisa. Lantas kuteguk segelas air dingin yang diakhiri dengan sendawa panjang. Puas rasanya. [caption id="" align="aligncenter" width="600" caption="Suasana Sekitar Pasar Lama di Siem Reap / Foto : Budhi K. Wardhana"][/caption] Siang di kota berjarak enam jam perjalanan darat dari Phnom Penh ini memang terasa bersahaja. Saya menelusuri kawasan Pasar Lama dengan rumah-rumah tua yang bercita rasa kolonial Perancis. Mataku menari-nari di antara ribuan barang souvenir yang bertebaran di lapak-lapak pasar. Penjualnya mencoba menawariku dengan senyum dan keramahan ala pedagang. Tapi berulang kali saya membalasnya dengan gelengan kepala. Tak jauh dari Pasar Lama seorang pria menyapaku dengan lembut. Awalnya saya tak ambil peduli. Sama seperti lainnya pasti dia hendak mempromosikan dagangannya. Namun sejenak aku tertegun membaca tulisan di dekat gerobak jualannya. I lost both hands fighting the Khmer Rouge, please support my small business. Laki-laki itu menatapku sedikit berharap, “ Please sir... books... postcards...” Saya terdiam. [caption id="" align="aligncenter" width="600" caption="Tok Vanna, Mantan Tentara Pemerintah Kamboja yang Menjadi Korban Ranjau Darat / Foto : Budhi K. Wardhana"][/caption] “Dulu saya bekerja sebagai tentara pemerintah.” Dia berkata padaku dengan nada datar. Namanya Tok Vanna, 41 tahun dan berperawakan tegap. Mungkin tiada yang aneh dengan dirinya kalau saya tak melihat sepasang lengannya yang buntung. Ledakan ranjau tahun 1988 telah merenggut kedua tangan pria Kamboja ini dan hari-hari Vanna pun berubah total. Usai perawatan di rumah sakit, dia terpaksa mengemis di jalanan demi sesuap nasi. Hidupnya terlunta-lunta. “Saat itu saya seperti ingin bunuh diri,” ucapnya lirih. Beruntung seorang pekerja sosial menarik Vanna dari jalanan dan mengajaknya berjualan cendera mata kepada turis-turis di Angkor Wat. Kehidupan pria beranak dua ini perlahan terangkat hingga akhirnya dia memiliki bisnis kios buku kecil-kecilan. Aku lalu menyodorkan lembaran sepuluh dolar untuk beberapa kartu pos dan sebuah buku. Dengan dua lengannya yang cacat, dia tampak kesulitan mengambil uang kembalian dari sakunya. Sungguh saya tak sampai hati melihatnya, “Please keep it for your children,” ujarku yang langsung disambut ribuan kata terima kasih. [caption id="" align="aligncenter" width="600" caption="Taman Publik di Pinggir Sungai, Tempat Bersantai Warga Kota Siem Reap / Foto : Budhi K. Wardhana"][/caption] Deretan kursi di pinggir sungai Siem Reap seakan memanggilku demi menikmati sepotong sore. Di bawah jajaran pohon rindang Trembesi, saya mencoba menelusuri tiap lembar halaman buku yang baru kubeli. Namun posisi nyaman di atas kursi taman, dengan perut yang kekenyangan, dan ditemani semilir angin sepoi-sepoi langsung menerbangkan kesadaranku dalam sekejap. Entah berapa lama saya tertidur di ruang publik sampai suara berisik mobil tiba-tiba menyadarkanku. Saya berdiri sigap dan berkemas kembali ke penginapan. Senja sudah membayang. Para turis yang seharian berkelana di sekujur kawasan Candi Angkor mulai kembali ke Siem Reap. Keriuhan Pasar Lama pun bergeser menjadi hiruk pikuk di kawasan Pub Street dan Angkor Night Market. Kota pun beralih rupa, dari sebuah pagi dan siang yang senyap menjadi malam yang gemerlap. [caption id="" align="aligncenter" width="600" caption="Pub Street, Pusat Keramaian Malam di Kota Siem Reap / Foto : Budhi K. Wardhana"][/caption] Seorang remaja tanggung menawariku wanita teman kencan. Saya menggeleng cepat sambil menghela nafas. Para turis tampak bercanda ria di bar pinggir jalan, melewatkan malam dengan berbotol-botol bir, sembari bernyanyi dan bergoyang mengikuti hentakan musik. Rupanya keluguan kota ini tak lagi mampu menahan badai hedonisme modern. Dari kejauhan kulihat Tok Vanna mulai mengemasi dagangannya dan bersiap pulang. Seulas senyum terukir di bibirnya. Adakah pertemuan denganku tadi telah memberi andil bagi kebahagiaannya hari ini? Saya terdiam lama sebelum akhirnya kugoreskan ujung pena di lembar kartu pos. “Hari ini kutemukan segenggam inspirasi di pinggiran jalan, tentang perjuangan, kesunyian, dan harapan...” [caption id="" align="aligncenter" width="400" caption="Salah Satu Sudut Keramaian Malam di Siem Reap / Foto : Budhi K. Wardhana"][/caption]

KONTEN MENARIK LAINNYA
x