Mohon tunggu...
buanergis muryono
buanergis muryono Mohon Tunggu...

buanergis muryono adalah seniman. guru besar sanggar mariska oka agency; konsultan seni & budaya; wali budaya nusantara Istana Wong Sintinx KUNJUNGI: www.sanggarmariska.webs.com, Sanggar Mariska, SANGGAR MARISKA GRUP, SANDIWARA RADIO COMMUNITY

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Fanatis Beribadah = Melenyapkan Kemunafikan Diri

24 Mei 2010   22:04 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:59 211 0 8 Mohon Tunggu...

MELENYAPKAN KEMUNAFIKAN DIRI

Buka hati, buka mata, buka telinga agar loyalitas benar-benar bertumbuh di jiwa atas keprihatinan bersama, mengapa negeri tercinta kehilangan ‘wiji pinilih’, kata Pak Tiknantasm. Sambung sinambung dengan tulisan saya OWASA yang tertutup virus, di sini ingin mengungkap dan runut kembali, kenapa sebagian besar penghuni negeri ini munafik? Lebih halusnya saya urai di sebelas tembang, belum seluruhnya saya upload. Sekali lagi, kemunafikan terbentuk dari asal-muasal manusia hadir. Pertama, anak siapa (apakah lahir di luar nikah, incest, selingkuhan, dsb). Kedua, bagaimana proses anak itu sejak ‘ajimak saresmi’. Ketiga, apa yang diminum dan makan anak tersebut sejak di kandungan sampai pertumbuhan akil-balik (ASI, ASU=asal susu), baik jenis makanan maupun asal muasal didapat. Keempat, pemahaman ajaran hidup benar apa tidak. Ingat, tidak sedikit ajaran tak sahih diberikan stigmatis pada anak-anak. Kelima, dikenalkan pada dasar-dasar ajaran hidup baik agama maupun seni. Keenam, dikenalkan dengan seluruh kitab suci maupun buku-buku ajaran hidup apa tidak. Bagusnya, sejak umur lima tahun sudah dikenalkan dengan perjuangan para nabi dan aulia. Dijelaskan seluruh ajaran para nabi dan agama yang mereka lahirkan. Ini akan membuka cakrawala loyalitas terhadap kehidupan agama apa pun, sehingga kalau menjalankan aqidah agama anak tidak fanatis beragama tapi fanatis beribadah. Fanatis beragama artinya anak menjadi salah, karena memandang hanya agamanya sendiri paling benar lalu melihat agama lain najis, haram, dan tidak benar. Ini yang sudah terjadi di bumi pertiwi. Ketujuh, tunjukkan dengan baik dan benar cara beribadah, mencontohi, tanpa menggurui, mengajari anak karena kita melakukannya, bukannya menyuruh. Misalnya, sudah sholat belum? Sembahyang dulu! Akan lebih tepat jika diberi contoh, begitu ada aba-aba adzan, ambil wudlu, anak diajak tanpa disuruh. Ini anak lebih happy. Saat-saat beribadah tidak usah disuruh atau diminta, tapi orangtua melakukannya, mengamalkannya penuh keikhlasan. Kedelapan, jaga ucapan dan perbuatan saling menghormati, mensyukuri dalam kondisi apa pun. Kesembilan, cambuk bila salah karena mencelakakan orang, puji kalau benar dan berprestasi. Kesepuluh, hindarkan menyia-nyiakan makanan maupun minuman, misalnya ambil nasi terlalu banyak hingga tidak habis. Bayangkan kalau orangtua selalu melakukan hal tersebut. Kesebelas, selalu mengucapkan terimakasih pada setiap tindakan yang melibatkan anak ketika anak mengambilkan sesuatu, atas permintaan kita dengan awal, “Tolong, Nak!” Keduabelas, tekankan ajaran dengan menerapkan tiga sikap, yaitu tidak sombong, tidak rendah diri, loyalitas tinggi (tiga sikap berkesenian).

Bila anak minimal masuk keduabelas kategori alternative di atas, negeri ini akan lenyap dari kemunafikan. ‘Aku adalah kamu, jika kau jadi aku kita telah menembus waktu. Kau adalah kau, aku adalah aku, jika kau tahu aku kita menjadi manusia sungguh-sungguh!’ Buanergis Muryono Kampung Asem, Rabu 17 Maret 2010 7:16 AM

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x