Mohon tunggu...
Anthony Bryan Vernico Sany
Anthony Bryan Vernico Sany Mohon Tunggu... Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Ad Maiorem Dei Gloriam

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Ideologi Mania di Antara Ideologi Ultras dan Hooligan dalam Suporter Sepak Bola Indonesia

22 Maret 2021   22:55 Diperbarui: 22 Maret 2021   22:58 148 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ideologi Mania di Antara Ideologi Ultras dan Hooligan dalam Suporter Sepak Bola Indonesia
(Sumber gambar: https://www.kompasiana.com/helmuts/552c2c496ea8345e7c8b45bf/happy-bday-slemania )

Seiring berkembangnya zaman, sepak bola Indonesia mengalami perubahan. Salah satu perubahan tersebut adalah ideologi yang di anut para  kelompok suporter sepak bola. Budaya populer di kalangan pendukung sepak bola Indonesia di zaman sekarang adalah ideologi Ultras dan ideologi Hooligans. Mungkin hal ini merupakan salah satu dampak dari globalisasi. Dimana budaya luar masuk ke Indonesia, dan menjadi sebuah budaya populer yang di gemari oleh para kelompok suporter. Budaya populer adalah produk dari masyarakat industri, di mana praktik penandaan dan produk yang dapat diamati (yaitu budaya) diproduksi atau dilakukan dalam jumlah besar, seringkali dengan bantuan teknologi produksi massal, distribusi dan duplikasi. Sehingga sangat mudah diakses oleh masyarakat (Heryanto, 2008, h. 6). Ideologi Ultras dan Hooligans kini menjadi budaya populer di kalangan kelompok suporter Indonesia. Banyak sekali contohnya, seperti Brigata Curva Sud (Ultras; tim PS Sleman), Northside Boys 12 (ultras; Bali United), Flower City Casual (Hooligans, Persib Bandung), B6 Surakartans (Hooligans, Persis Solo), dan masih banyak lagi. Dahulu ideologi Mania menjadi budaya populer, namun karena ada ideologi-ideologi baru yang kini sudah menjadi budaya populer, akhirnya ideologi Mania menjadi budaya sub kultur. Ideologi Mania kini dianggap hal yang berbeda bagi kalangan suporter masa kini, sehingga terlihat bahwa sub kultur ini memberikan identitas kepada para "anggotanya" dalam gaya hidup sub kultur yang berbeda dari kelompok sosial lain yang sering dianggap kuno, konservatif, konformis, dan arus utama (Ryan, 2010, h. 88). Anggota dari sub kultur ini ingin terlihat berbeda dari budaya yang dominan.

(Sumber gambar: https://bola.tempo.co/read/1236290/suporter-indonesia-keberagaman-dan-bhineka-tunggal-ika )              
            googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-712092287234656005-411');});
(Sumber gambar: https://bola.tempo.co/read/1236290/suporter-indonesia-keberagaman-dan-bhineka-tunggal-ika ) googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-712092287234656005-411');});

Ideologi Mania kini menjadi budaya sub kultur diantara budaya pop lainnya seperti ideologi ultras dan hooligans. Namun, berkembangnya jaman yang terus berjalan, para penganut ideologi Mania tetap konsisten dengan ideologi yang mereka anut. Seperti contohnya, The Jakmania (Persija Jakarta), Aremania (Arema Malang), Slemania(PS Sleman), Bonek(Persebaya Surabaya), Viking(Persib Bandung), Pasoepati  (Persis Solo), dan lain-lain. Mereka, para penganut ideologi Mania tetap menunjukkan kreativitas nya dan menunjukkan eksistensi mereka, sehingga ideologi Mania yang konon asli Indonesia tidak punah karena perkembangan zaman. Ideologi Mania juga sangat khas terlihat dari cara berpakaian pendukungnya. Mereka biasanya memakai jersey klub yang mereka dukung, di tambah syal yang di gantungkan di leher, celana pendek dan alas kaki seadanya (bisa sendal ataupun sepatu). Berbeda dengan gaya berpakaian para penganut ultras dan hooligans. Ultras sendiri biasanya mengenakan baju atau jaket serba hitam dan juga memakai penutup wajah (buff/masker), celana panjang, dan sepatu, mereka selalu menyamakan warna agar menutupi identitas mereka, karena dalam ultras menganut yang namanya no name no face jadi tak heran kalau mereka serba hitam-hitam dan juga selalu mengenakan penutup wajah dimukanya. Lalu, Hooligans biasanya memiliki style yang lebih casual. Mereka meniru style-style casual seperti di Inggris. Jadi bisa memakai kemeja, jaket, baju polo, lalu jelas memakai sepatu tidak ada hooligans yang mengenakan sandal saat pergi mendukung tim kebanggaannya berlaga. Hooligans biasanya juga memakai brand-brand ternama untuk mendukung style mereka. Karena hooligans berasal dari negeri Inggris, jadi tidak heran para penganut ideologi Hooligans di Indonesia, meniru cara berpakaian mereka, yang rata-rata menggunakan pakaian-pakaian branded.  Dengan kearifan lokal para penganut ideologi Mania, para pengrajin jersey sepak bola klub lokal, masih tetap bisa bertahan. Jadi ideologi Mania walaupun budaya sub kultural yang di anggap kuno oleh beberapa kelompok tetap mengambil peran dalam ekonomi politik di Indonesia, dengan tetap melestarikan para pengrajin jersey dan pernak-pernik lainnya tetap bertahan. 

Sumber: 

Heryanto, A. (2008). Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics. New York: Routledge. 

Ryan, M. (2010). Cultural Studies: A Practical Introduction. United Kingdom: Wiley-Blackwall.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x