Edukasi

Pendekatan Teori Komunikasi Internasional

12 Oktober 2018   00:33 Diperbarui: 12 Oktober 2018   01:41 317 0 0
Pendekatan Teori Komunikasi Internasional
Rawpixel.com/freepik

Pada abad ke-20, teori komunikasi internasional berkembang menjadi diskrit disiplin dalam ilmu sosial baru dan di setiap era telah ditunjukkan kekhawatiran tentang politik, ekonomi dan teknologi perubahan yang berdampak pada masyarakat dan kebudayaan. Interpretasi komunikasi interasional adalah pertanyaan besar kekuasaan, yang akhirnya dipandang sebagai suatu alat untuk kontrol dengan yang menggunakan kelas (Karl Marx).

Ada beberapa teori pendekatan komunikasi internasional, antara lain:

  • Teori Modernisasi

Teori modernisasi menjelaskan tentang proses transformasi dari masyarakat tradisional atau terbelakang ke masyarakat modern. Teori ini muncul dari gagasan bahwa komunikasi internasional bisa digunakan untuk menyebarkan pesan modernitas dan memindahkan sumber ekonomi dan politik model barat ke negara-negara selatan yang baru merdeka. Menurut Wilbert E Moore, modernisasi adalah transformasi total co-eksistensi tradisional atau pra-modern dalam hal teknologi dan organisasi sosial terhadap pola ekonomi dan politik yang menjadi ciri negara-negara barat yang stabil.

  • Teori Ketergantungan

Teori ini merupakan suatu keadaan dimana perkembangan suatu Negara dipengaruhi bahkan bergantung pada Negara-negara lain. Teori Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara berkembang.

  • Imperialisme Struktural

Menurut Galtung, teori Imperialisme Struktural berlangsung sebuah pola hubungan antara negara maju dengan negara dunia ketiga yang tidak seimbang dimana negara maju mendominasi negara lain dalam berbagai aspek kehidupan.

  • Hegemoni

Hegemoni berasal bahasa Yunani, egemonia yang berarti penguasa atau pemimpin. Hegemoni adalah suatu bentuk penguasaan terhadap kelompok-kelompok tertentu. Dalam international communication, pengertian hegemoni secara luas digunakan untuk mengonsep politik fungsi media massa, sebagai pemain kunci inpropagating dan menjaga ideologi dominan dan juga untuk menjelaskan proses media dan komunikasi, dengan ideologi dominan membentuk produksi news and entertainment (Hallin, 1994).

  • Teori Kritikal

Teori kritikal adalah suatu penilaian yang menekankan pemikiran dari masyarakat dan budaya dengan menerapkan ilmu-ilmu empiris dan interpretative. Adorno dan Habermas (Kearney,2005) menyebutkan bahwa prinsip-prinsip dari teori kritis mempunyai ciri khas teori kritis ini tak lain ialah bahwa  teori kritis tidak sama dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Bisa juga dikatakan pendekatan teori kritis tak bersifat kontemplatif atau spekulatif murni.

  • Publik Sphere

Menurut Habermas, Public Sphere dikonsepsionalisasikan sebagai suatu realitas kehidupan sosial di dalam mana terdapat suatu proses pertukaran informasi dan berbagai pandangan berkenaan dengan pokok persoalan yang tengah menjadi perhatian umum sehingga dalam proses tadi terciptalah pendapat umum. Keberhasilan public sphere sendiri didorong oleh keaktifan masyarakat dalam berpendapat agar tercipta suatu tujuan khususnya dalam politik.

  • Kajian Budaya

Kajian budaya atau Cultural Studies sebagai suatu disiplin ilmu yang mulai berkembang di wilayah Barat (1960-an), seperti Inggris, Amerika, Eropa (kontinental), dan Australia mendasarkan suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi serta kebudayaan mereka. Hubungan antara kekuatan dan budaya, di mana kekuatan yang dimiliki oleh para kapitalis dan bagi media, dan mereka akan sangat membantu, itu akan dibutuhkan oleh masyarakat. masyarakat hanya bisa menerima berita baku tanpa informasi yang benar. Cultural studies itu sendiri mempunyai beberapa definisi sebagaimana dinyatakan oleh Barker (via Storey, 2003), antara lain yaitu sebagai kajian yang memiliki perhatian pada: 1) hubungan atau relasi antara kebudayaan dan kekuasaan; 2) seluruh praktik, institusi dan sistem klasifikasi yang tertanam dalam nilai-nilai partikular, kepercayaan, kompetensi, kebiasaan hidup, dan bentuk-bentuk perilaku yang biasa dari sebuah populasi; 3) berbagai kaitan antara bentuk-bentuk kekuasaan gender, ras, kelas, kolonialisme dan sebagainya dengan pengembangan cara-cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang bisa digunakan oleh agen-agen dalam mengejar perubahan; dan 4) berbagai kaitan wacana di luar dunia akademis dengan gerakan-gerakan sosial dan politik, para pekerja di lembagalembaga kebudayaan, dan manajemen kebudayaan.