Mohon tunggu...
Pemerintahan

BUMN Dulu Terpuruk, Kini Dipucuk

22 Juni 2018   15:13 Diperbarui: 22 Juni 2018   15:21 378 0 0 Mohon Tunggu...

Ada 27 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang merugi di tahun 2014. Tiga tahun kemudian, 50% lebih nama-nama yang tercatat jeblok di tahun 2014 keluar dari zona merah. Dan, di kuartal pertama 2018, 13 nama BUMN yang merugi di tahun 2017 hanya menyisakan 4 nama, dan tanpa nama perusahaan gede macam Garuda, Krakatau Steel ataupun Pertamina.

Jika ingin melihat perbandingan lebih rill lagi, pada tahun 1998 total ada sekitar 160 BUMN, berapa keuntungannya? Tidak lebih dari Rp 14 triliun! Dengan nilai aset mencapai Rp 438 triliun. Selama 16 tahun berjalan aset BUMN bertambah sekitar Rp 3.900 triliun, total aset pada tahun 2014 sebesar Rp 4.387 triliun.

Pada tahun 2017 dari total 143 perusahaan, hanya membutuhkan waktu 3 tahun berjalan, aset BUMN melonjak tinggi mencapai Rp 187 triliun dengan total aset Rp 7.212 triliun.

Ada perubahan peran BUMN yang  banyak mempengaruhi kinerjanya. Jika dulu kita mengenal BUMN pasti rugi. Bahkan laba dari seluruh BUMN -termasuk pertamina, tidak bisa mengalahi laba perusahaan negara tetangga, Petronas. Namun kini, laba Pertamina sudah jauh menyalip Petronas.

Kuncinya menurut Rini Soemarno, Menteri BUMN terletak pada penempatan inovasi, kerjasama antar perusahaan BUMN, saling berkolaborasi, berpikir profesional dan bertindak tidak hanya sebagai perusahaan negara yang mencari untung saja, tetapi berprioritas pada penyediaan  kebutuhan dan pelayanan bagi kebermanfaatan masyarakat luas.

Berita ini tentu menjadi tidak enak didengar oleh kuping para pembenci pemerintah. Niat menggembosi perusahaan plat merah ini semakin sempit ruangnya: BUMN kini ada di pucuk kejayaan. Negara sendiri maju, kok nda bangga!* 

VIDEO PILIHAN