Media

Memupus Derita di Asa Tanah Leluhur Desa Sekitar Semen Rembang

16 April 2018   16:53 Diperbarui: 16 April 2018   16:55 637 0 0

Kelam. Dulu sejahtera dan hidup layak adalah impian yang "mahal" di desa-desa sekitar pabrik milik PT Semen Indonesia di Rembang (Semen Rembang), Jawa Tengah, dibangun. Ada 5 desa lingkarannya yaitu Tegaldowo, Pasucen, Timbrangan, Kadiwono dan Kajar.

"Dulu banyak generasi muda di desa saya dan sekitarnya yang tidak melanjutkan pendidikannya karena hidup susah. Banyak anak muda yang memilih merantau, pergi dari desa untuk bekerja supaya hidup lebih baik," ujar Dodi, seorang pemuda dari desa Tegaldowo, pada April 2018.

Suara Dodi adalah titik kecil --mungkin-- yang sama seperti dirasakan generasi muda lainnya di wilayahnya: di dekat pabrik Semen Rembang berada. Miris melihat kondisi desanya. Gersang. Bukan alamnya, namun fakta sosial, ekonomi, kesejahteraan dan hidup yang layak. Dodi adalah generasi muda yang resah. Dulu.

Tahun 2016, Semen Rembang menapakkan pondasi industri raksasanya di tanah Rembang. Hadir dengan prinsip untuk kemajuan bangsa dan bersama masyarakat. Dodi dan generasi muda di sana tak boleh lagi gundah pada kehidupan desanya dengan keberadaan Semen Rembang.

Dapat dimaklumi: Dodi dan generasi muda lainnya adalah pewaris tanah Rembang. Mereka berdiri di atas tanah leluhurnya yang mengimpikan anak cucunya hidup bahagia.

Sejak kehadiran Semen Rembang, Dodi mulai merasakan, melihat, adanya perubahan. Pintu asa terbuka. Kata Dodi, "Semen Rembang membawa dampak positif."

Ekonomi desa bergeliat. Berbagai program --seperti dari CSR-- Semen Rembang, kata Dodi, amat baik, variatif dan berfaedah. Tanpa menghilangkan kultur desa, yang tidak menghilangkan warisan leluhurnya. Ada ekspektasi sejahtera di desa Dodi berada: Tegaldowo.

Setidaknya diakui langsung oleh Dodi, "program dari Semen Rembang meningkatkan perekomian desa." Dodi dan generasi muda di sana menjadi saksi ketika pekerjaan yang ideal dihadirkan Semen Rembang untuk masyarakat. Bukan utopi. Bukan janji. Membunuh pengangguran yang selama ini mencekam hidup warga.

Ada lagi generasi muda lainnya asal desa Pasucen. Namanya Dwi. Seorang jelita ayu yang baru sebulan kembali ke kampung leluhurnya. Sebelumnya Dwi harus 'sejenak' berada di Maluku agar bisa menyelesaikan sekolahnya sambil bekerja. Desanya kala itu kurang "bergairah" secara kesejahteraan.

Dwi melihat penampakan lain pada wajah desanya setelah jauh merantau. Kini: banyak warga, terutama generasi muda, bisa ikut merasakan andil keberadaan Semen Rembang. Generasi muda yang semangat bekerja di pabrik semen. Bukan generasi muda yang frustasi pada masa depannya. Membantu perbaikan ekonomi masyarakat. Bergeliat.

Dwi melihat anak muda di desa Pasucen maupun wilayah sekitarnya juga tak lagi vakum. Semen Rembang mengajak mereka sadar bahwa ibu bumi di mana tapak kaki generasi muda berada harus menjadi mapan. Jangan lantas pasrah selamanya pada keterpurukan dan sikap pasif.

Dodi dan Dwi adalah generasi muda yang melawan arus. Melawan untuk hidup lebih baik dengan sinergi bersama Semen Rembang. Dodi dan Dwi adalah contoh generasi muda di desa sekitar Semen Rembang yang memupus derita demi asa leluhurnya di tanah mereka tegak berdiri.*