Mohon tunggu...
Riduannor
Riduannor Mohon Tunggu... Guru - Penulis

Jurnalisme

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

Jelang Ramadhan, Pasar Tradisional di Samarinda Penuh Pengunjung

22 Maret 2023   11:59 Diperbarui: 22 Maret 2023   13:08 816
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pasar Kemuning di Samarinda (Dokumen pribadi: Riduannor/Istimewa)

Bersama anak dan isteri, pagi-pagi saya berbelanja ke Pasar Kemuning yang terletak di Kelurahan Loa Bakung. Loakasi pasar sekitar 4 Kilometer dari tempat tinggal saya. 

Saya terbiasa berbelanja di pasar Kemuning yang terletak di kampung kelahiran ini. Selain pasarnya cukup luas, dan kelengkapan bahan sembako yang dicari juga tergolong lengkap.

Belanja buat Sahur Pertama

Malam ini, merupakan hari pertama untuk bangun dini hari untuk persiapan sahur menjelang berpuasa siang harinya di bulan Ramadhan. Kondisi pasar padat, penuh pengunjung.

Namun sekarang kondisi pasar kemuning sudah tertata rapi dan tidak semerawut lagi. Para pedagang sayuran yang membuka lapak di pinggir jalan tidak diperbolehkan lagi oleh Pemkot Samarinda.

Semua harus berjualan di lokasi pasar yang telah disediakan. Dan pengunjung lebih tertib memparkir motornya di pinggir jalan. Hari ini terlihat suasana berbeda. Pengunjung lebih padat dua kali lipat dari hari biasa, karena menjelang bulan Suci Ramadhan.

Selain berbelanja keperluan sahur, saya juga biasa membelikan bubur ayam buat si kecil yang berjualan di sekitar pasar. Baru pukul 09.00 WITA, bubur ayam yang biasa berjualan di pasar kemuning sudah habis. Untungnya, masih dapat membeli sebungkus buryam. Lambat sedikit lagi sudah tidak kebagian.

***

Penjual Bubur Ayam

Paman Bubur Ayam yang berjualan di sekitar Pasar Kemuning (Dokumen Pribadi : Riduannor/Istimewa)
Paman Bubur Ayam yang berjualan di sekitar Pasar Kemuning (Dokumen Pribadi : Riduannor/Istimewa)

Di sekitar Pasar Kemuning terdapat seorang penjual bubur ayam yang cukup legendaris. Beliau sudah berjualan di sana sudah lebih dari 15 Tahun. Sungguh luar biasa. Dari penghasilan berjualan tersebut beliau bisa membiayai anaknya yang bersekolah di jawa timur.

Setahun sekali beliau pulang kampung. Paling lambat pukul 10.00 WITA bubur ayam yang dijualnya sudah habis. Katanya tiga hari menjelang bulan puasa libur dulu berjualan.

Setelah tiga hari awal puasa beliau berjualan kembali. Ia bercerita konsumennya paling berkurang sedikit, karena pembelinya kebanyakan adalah buat balita yang sudah bisa makan bubur ayam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun