Mohon tunggu...
Bi yani
Bi yani Mohon Tunggu... Guru - Guru SD Muhammadiyah Sendangtirta Berbah Sleman Yogyakarta

Saya lahir di Kulon Progo pada tanggal 1971. Pendidikan saya mengenyam pendidikan, SD dan SMP di Kecamatan Samigaluh kabupaten Kulon Progo. SMA di SMAN 4 Bhe Yogyakarta. Kuliah S1 di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta lulus tahun 1997. Pendidikan terakhir saya S2 UIN sunan Kalijaga Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Tradisi

Tradisi Ujung dengan Tetangga Saat Idul Fitri, Kini Tiada Lagi

8 Mei 2022   07:14 Diperbarui: 8 Mei 2022   07:16 201 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Tradisi. Sumber ilustrasi: UNSPLASH

      Ketika adzan Maghrib berkumandang, muncul rasa  bahagia  di hati. Namun juga muncul rasa sedih di benak ini. Bahagia karena, mendengar suara takbir bersaut-sautan yang menandakan esok hari adalah hari yang ditunggu umat muslim untuk merayakan hari kemenangan. Sedih karena, teringat esok hari adalah lebaran pertama kami tanpa kehadiran sosok ibuku. 

     Meski ada dua rasa bersemayam di benak hati ini,  kunikmati juga buka bersama keluarga di rumah. Dengan menu sekedar untuk berbuka. Karena kebetulan hari itu, sudah berencana mudik, sehingga tidak masak seperti biasanya. Hanya saja rencana mudik menjelang lebaran gagal, karena putriku bersikukuh untuk ikut lomba takbir keliling dan menunggu pengumuman lomba saat Ramadhan. . 

      Seperti biasa, setelah berbuka puasa di rumah kami pergi berjamaah shalat Maghrib di masjid. Ternyata di masjid, para remaja dan anak-anak sembari berbuka, mereka bersiap diri untuk perlombaan takbir keliling. Ada yang sibuk mempersiapkan dan memakaikan kostum peserta takbir, ada yang sibuk membungkus kado-kado dan hadiah lomba anak-anak santri TPA, ada pula yang mempersiapkan soundsystem dan lampu untuk keperluan takbir keliling.

     Setelah iqomah, mereka berhenti untuk mengikuti shalat berjamaah.  Setelah selesai shalat berjamaah, mereka pulang ke rumah masing-masing untuk makan.  Mereka akan kembali ke masjid lagi saat Isya'.  Anak-anak pun pulang sudah berkostum unik. Pake jarik, kaos Hitam, celana hitam, dan masker hitam. Pintar juga, yang memakaikan kostum. Meski tanpa riasan, mereka tampak indah dan menarik dipandang 

     Sesampainya di rumah, putriku makan minum sambil duduk di kursi. Saat berdiri, kostum jariknya  rusak . Waduh, saya bingung, karena tadi tidak memperhatikan model menata lipatannya, terjadilah keributan kecil di rumah. Saya tidak mengerti harus mengembalikan seperti apa. Putriku pun agak kecewa.  Akhirnya putri kecilku berinisiatif menghubungi kakak pembimbing TPA, dan Pembimbingnya menjawab 'tak mengapa, nanti diperbaiki lagi'. Akhirnya reda juga kepanikan putriku. 

      Adzan Isya pun berkumandang. Kami semua ke masjid lagi untuk shalat. Saat anak-anak berdatangan, ternyata sebagian memang kostumnya rusak . Untung kakak-kakak pembimbingnya sabar. Setelah shalat usai, anak-anak didandani lagi. Mereka berkemas untuk lomba. Saya sendiri setelah shalat berjamaah pulang ke rumah dulu.

     Sekitar pukul 21 kami ke masjid lagi. Untuk memantau anak kami dan juga takbir di masjid. Kebetulan masjid kami dmenjadi tempat display perlombaan takbir keliling. Wah, saya pun ikut menunggu di depan masjid untuk menyaksikan jalannya perlombaan. Satu persatu, group takbir keliling singgah di depan masjid kami dan menampilkan kebolehannya.  Semuanya bagus dan menarik. Namun menurut pengamatan para penonton, group masjid kami lyang teratur, rapi, kompak, dan menarik . Luar biasa karya remaja masjid kami, koreografernya masih siswa SMA namun hasilnya luar biasa. 

      Setelah iring-iringan peserta lomba tampil semua, saya dan beberapa ibu menyiapkan Snack dan minuman bagi para jamaah yang takbir di masjid maupun untuk remaja dan anak-anak yang mengikuti lomba takbir.  Setelah semua selesai, sembari menunggu peserta lomba kembali, kami ikut takbir di masjid. Tak berapa lama, beberapa motor dan mobil datang membawa anak-anak yang lomba takbir. Kemudian mereka menikmati hidangan minuman dan Snack yang kami hidangkan. Di tengah asyiknya menikmati hidangan, remais meminta ijin pemimpin takbir masjid untuk memberikan pengumuman pemenang perlombaan di masjid dalam rangka memeriahkan acara Ramadhan. Ada pengumuman lomba adzan, tahfidz, shalat dan wudlu, mewarnai, serta outbond. Anak-anak terlihat senang dan bahagia menerima hadiah. Selain itu juga ada pembagian door prize. Acara berakhir sekitar pukul 23.30. 

       Keesokan harinya kami shalat Idul Fitri. Menjelang shalat didirikan, ada anggota takmir yang memberikan pengumuman bahwa, setelah shalat dan khutbah Idul Fitri selesai, jamaah diharapkan untuk tidak pulang dahulu karena akan diadakan acara ikrar syawalan, sehingga tidak perlu ada acara saling kunjung rumah, dalam rangka mematuhi protokol kesehatan. Benar saja, setelah shalat dan khutbah selesai, Bapak Kepala Dusun memimpin ikrar syawalan. Setelah itu kami dilarang bersalaman, langsung pulang ke rumah masing-masing. 

      Setelah sampai di rumah, saya dan keluarga menjalani tradisi ujung antara anak-anak dengan kami oraong tuanya. Saya sebagai istri mendahului memohon maaf kepada suami, dilanjutkan anak-anak kami . Setelah itu adik kami pun ikut acara  bermaaf-maafan di rumah. Setelah usai, kami berkemas mudik ke rumah ayah kami.

      Dalam perjalanan mudik, Alhamdulillah, kami diberi cobaan, motor kami mogok di tengah jalan. Alhamdulillah Allah masih memberikan keringanan cobaan, motor mogok tepat dekat bengkel. Sehingga acara mendirong motor hanya beberapa puluh meter saja. Akhirnya adikku yang sudah sampai rumah orang tua kami, kami telpon untuk menjemput kami.  Motor kami titipkan di bengkel. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Tradisi Selengkapnya
Lihat Tradisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan