Agustinus Purwanto (Mas Pung)
Agustinus Purwanto (Mas Pung) Pendidik; Penggiat Koperasi;

penulis lepas, pemberi rekoleksi, retret, pendidik; fasilitator KJK, Insan Kopdit, email: bimabela@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Benarkah Koperasi Tidak Menarik?

14 Januari 2018   13:03 Diperbarui: 14 Januari 2018   13:10 721 0 0
Benarkah Koperasi Tidak Menarik?
sumber ilustrasi: Tribun Jogja

Barangkali pertanyaan itu "terasa" menghakimi secara negative. Seolah koperasi tidak ada sisi baiknya atau seakan koperasi selalu dipandang sebelah mata. Tidak begitu maksud judul refleksi ini. Judul itu sekadar kesan yang saya rasakan sebagai pengurus koperasi kredit, yang sering menjumpai pertanyaan-pertayaan dari masyarakat /calon anggota. 

Pada saat saya presentasi memberi pendidikan dasar seputar koperasi kredit muncul banyak pertanyaan sumir. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain: "Bagaimana saya bisa yakin bahwa uang saya aman?"; Apa bedanya koperasi ini dengan koperasi Pendawa"? "Apa untungnya saya menjadi anggota koperasi?"; "Apakah orang yang mengurus koperasi jujur?"; "Benarkah koperasi itu anggotanya orang-orang miskin?" Bahkan ada yang lebih keras bersuara "Apa sih menariknya koperasi?" Masih banyak pertanyaan lain.

Persoalan Besar Perkoperasian

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya lebih mempertanyakan eksistensi koperasi daripada sekadar mencari informasi untuk membangun kepercayaan. Saya sendiri merasakan "tidak mudah" meyakinkan masyarakat akan manfaat koperasi sebagai entitas ekonomi dan social yang sangat cocok untuk membangun kesejahteraan. Nyatanya diantara para pelaku usaha menggunakan koperasi sebagai kendaraan untuk membangun kesejahteraan diri daripada membangun kesejahteraan masyarakat. Istilah "pengusaha koperasi" sudah jamak diantara para insan koperasi. 

Terminologi "Pengusaha koperasi" merujuk pada pelaku usaha yang sengaja menggunakan koperasi untuk pemupukan modal pribadi. Inilah persoalah besar yang dihadapi pemerintah dalam rangka memasyarakatkan koperasi. Didalamnya terkandung semangat kapitalisme yang bertopeng koperasi. Persoalan besar ini mewujud adanya koperasi-koperasi yang tidak sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai koperasi. 

Mereka hadir berwajah koperasi tetapi bersemangat kapitalisme. Tampak jelas dalam praksisnya yang bukan memberdayakan masyarakat yang berekonomi lemah tapi malahan memiskinan masyarakat/anggota. 

Dalam konteks koperasi simpan pinjam tampak sekali dalam pola kebijakan yang lebih mengedepankan pinjaman daripada simpanan. Sebuah semangat yang bertolak belakang dengan petuah dan ajaran Bapak Koperasi Indonesia, Muhammad Hatta.

Persoalan besar mentalitas kapitalisme itu diperparah dengan kompetensi para pengurus dan pengawas yang sering kali jauh dari harapan. Bicara kompetensi ini, saya masih teringat jelas ada seorang teman mengatakan "Lah, kita mau menjadi pengurus saja sudah untung koq" Jelas sekali dibalik perkataan itu terbersit tidak utamalah kompetensi itu, yang penting ada kemauan. 

Tidak juga dipungkiri banyak koperasi yang tidak memiliki pengawas dan atau pengurus sebagaimana amanat perundangan. Masih sering dijumpai koperasi dikelola oleh orang yang sama secara turun temurun (strong man). Tidak pernah ada regenerasi kepengurusan.

Persoalan besar lain adalah soal karakter yang tidak menjadi focus dalam praksis berkoperasi. Jika menilik dari sejarah koperasi, karakter sesungguhnya menjadi focus perhatian pengelola koperasi. Karakter anggota dan tentu saja karakter pengurus, pengawas dan karyawan. Karakter ini dibangun melalui pendidikan yang konstan dan berkelanjutan. Akan tetapi nyatanya factor pendidikan telah terabaikan dibanyak koperasi.

Bagi saya, tiga persoalan besar itulah yang sesungguhnya membuat koperasi menjadi sangat tidak menarik. Tiga persoalan itu membuat koperasi menjadi ajang pembicaraan dan ladang yang nikmat bagi roh kapitalisme

Tiga Langkah Memperkuat Koperasi

Saya sering merenung, dan mungkin saja ini tidak seluruhnya tepat, yakni jika ingin koperasi menjadi entitas ekonmi dan social yang mampu memberdayakan masyarakat menjadi sejahtera, paling tidak pemerintah memperhatikan tiga langkah guna memperkuat koperasi:

  • Posisikan koperasi sungguh sungguh sebagai soko guru perekonomian nasioanal. Bangun keyakinan bahwa system koperasi sangat tepat untuk membangun ekonomi masyarakat. Karena itu pemerintah harus membersihkan koperasi dari semangat kapitalisme; pertegas perundangan sehingga tidak ada topeng koperasi yang hanya digunakan untuk memupuk kekayaan pribadi dan kelompok
  • Standarisasi kompetensi pengelola koperasi yang tersertifikasi sehingga koperasi sungguh sungguh dikelola oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dan integritas.
  • Perkuat tim penyuluh koperasi sebagai elemen yang memperhatikan edukasi kepada anggota koperasi. Kehadiran para penyuluh koperasi harus semakin ditingkatkan kompetensi dan jangkauannya.

Masih banyak pekerjaan rumah bagi kementrian koperasi guna membangun koperasi yang memasyarakat dan memasyarakatkan koperasi. Keprihatinan saya barangkali tidak nyaring terdengar oleh pemerintah; tapi paling tidak saya bisa bercerita soal kegelisahan yang terus mendorong untuk berkontribusi pada upaya membangun kesejahteraan masyakarat melalui koperasi kredit yang terus kami kembangkan. Salam koperasi kredit.