Mohon tunggu...
Beti.MC
Beti.MC Mohon Tunggu... Menulislah Selayaknya Bertutur, Mengalirlah Energi Kebaikan

Berbagi pengalaman, kesempatan dan cerita sehari-hari.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Jejak Jiwa

10 Mei 2021   11:34 Diperbarui: 10 Mei 2021   15:27 85 4 4 Mohon Tunggu...

Aku menikmati karya tulis Bu Um. Itu respon pertama yang kusampaikan pada penulisnya melalui wa. Buku yang menemaniku saat menunggu antrian konsultasi di sebuah klinik tumbuh kembang, sengaja kubawa karena belum sempat dibaca sejak datang beberapa hari lalu.

Lima belas kisah yang menggugah jiwa, itulah mengapa buku ini dinamakan Jejak Jiwa, menurutku. Merenungi kisah masa lalu, bukan sekedar nostalgia tetapi memberi makna dalam pada diri, mungkin itu yang dirasakan penulis. Kecakapannya mengolah alur cerita dan memberikan penekanan kuat pada situasi yang dialami para tokoh, menjadi menarik untuk membaca tuntas kisah-kisah ini.

Aku sungguh bangga bisa mendapatkan tulisan apik ini, dikemas karena imajinasi yang kuat, didukung hasil observasi dan bisa mengetuk "rasa" para pembacanya, menjadi kekuatan pada buku ini. 

Aku senang penulis menggambarkan kisah perjuangan para ibu yang berprofesi sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT), pekerjaan yang seringkali dilupakan oleh orang. Tetapi jalan cerita yang dituturkan bersama para tokoh PRT menunjukkan kekuatan seorang ibu yang mengimani kasih dalam kehidupannya. 

Terus terang, saat kubaca kisah pertama tentang ibu PRT, kupikir ini hanya kebetulan, tetapi rupanya ada beberapa kisah PRT lainnya yang dibagikan. Kisah Uang untuk Ibu adalah kisah yang membuatku syok saat membaca kata "darah". Pikiranku langsung mengarah, akhir cerita seperti apa yang disajikan penulis.

Cerita lain yang menggugah perasaan ada pada kisah Patahan Pensil Berdarah. Lagi tentang kata "darah". Kali ini perjuangan seorang "pekerja anak" kuyakini sedang coba digambarkan penulis dalam alurnya. Aku senang ada banyak peristiwa yang diangkat penulis sebagai bentuk keprihatinan tetapi juga menampakkan selalu ada harapan. Kisah tentang anak yang ingin mendapatkan kesempatan belajar seperti anak lainnya, pasti jadi harapan penulis yang juga berjiwa sebagai guru kehidupan.

Kisah dengan tokoh anak lainnya dituliskan dengan judul Alkitab di Handphone-ku. Sebuah realitas, anak-anak demen dan demam ber-hp untuk kesenangan, bukan untuk berdoa. 

Tetapi kisah ini juga menarik bahwa mungkin tak semua orang dewasa menggunakan teknologi untuk mendekatkan diri pada Tuhannya, jadi anak pun tak punya teladan untuk melakukan itu.  Alur yang happy ending ingin disampaikan penulis bahwa cara pendekatan dan komunikasi yang baik bisa merubah sikap anak-anak, itu yang ingin dibagikan dalam kisah ini.

Buku setebal 96 halaman ini cukup membuat para pembaca terketuk hatinya, bagaimana di setiap cerita selalu diberikan ruang untuk kita menerka ujung cerita dan memaknainya. Ada baiknya kisah-kisah ini dibaca dan diulas oleh komunitas atau dalam keluarga. Mendekatkan anak dan orang tua melalui media cerpen. 

Mengapa begitu? Karena buku ini bercerita tentang hati, jiwa, batin dengan balutan iman Kristiani yang kental. Ajaran doa-doa diselipkan dalam tulisan bukti bahwa kisah yang sederhana pun mampu mengikutsertakan arti iman dan kasih, sesuatu yang kurasakan di setiap ceritanya. Baik sekali jika anak-anak diajak untuk memberikan pendapat setelah membaca cerpen ini agar bisa lebih merasuk maksud ceritanya.

Aku menikmati dan ingin membacanya bersama anak-anakku, baik dalam keluarga maupun di kegiatan bersama anak-anak yang lain. Ada pembelajaran tentang sikap, doa, semangat dan masa lalu yang harus diterima dalam iman. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN